Berita Lembata Hari Ini
Masyarakat Desa Dikesare Lembata Gelar Ritual 'Lede Lewu', Tiga Malam Tak Boleh Nyalakan Lampu
kampung Lewolein, Desa Dikesare diselimuti kegelapan dan kesunyian. Tidak ada kebisingan. Tidak ada penerangan.
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
Selain itu, ritual Lede Lewu juga bertujuan untuk mengusir ‘Maya Epu Angi’, segala macam penyakit yang ada di dalam kampung agar keluar dari kampung supaya masyarakat tidak lagi mengalami sakit ringan, bencana, maupun musibah.
“Ritual Lede Lewu harus kami gelar karena selama hampir tiga minggu belakangan ini musibah selalu dialami warga. Ada yang jatuh, kecelakaan di jalan. Kejadian hampir tiap hari,” katanya.
Penyebab kesialan dipercayai karena ritual Lede Lewu sudah direncanakan sejak Januari, namun karena hujan sudah mulai turun, sehingga belum dapat dilaksanakan.
Akibatnya, leluhur yang sudah terlanjur mendengar rencana itu sudah menunggu bagian mereka, namun tak kunjung dibuat, maka musiba terus dialami warga.
Akhirnya, kata dia, difasilitasi pemerintah desa, digelarlah pertemuan bersama tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk menentukan waktu pelaksanaan ritual Lede Lewu.
“Pantangan dalam ritual Leda Lewu, masyarakat jaga ketertiban, tidak ribut di malam hari dan semua cahaya dipadamkan selama tiga hari berturut-turut,” jelasnya.
Setelah tiga hari, pada subuh di hari ketiga akan dibuang semua kelelahan, keletihan, secara bersama.
Keistimewaan diberikan kepada ibu menyusui dan warga yang sakit berat.
Bagi mereka dapat menyalakan lampu, tapi diletakkan di wadah agar cahayanya tak sampai ke luar rumah.
Ia menjelaskan, dalam ritual Lede Lewu, yang memegang peran adalah Kapitan Duli, Kapitan Lewu, Paliwala Kote Watan, Paliwala Koro, dan Paliwala Ikun.
Mereka yang berhak duduk di pantai dan menjaga ‘Nama Wate Ai Kene’ dan apabila ada ikan besar yang mati, maka menjadi bagian mereka.
Sedangkan dirinya sebagai Paliwala Koten Kiwan untuk urusan ritual Nuba Nara termasuk tanah adat di desa.
Masyarakat Dikesare mengakui Paliwala Koten Kiwan sebagai pemegang ulayat di wilayah mereka.
Kepala Desa Dikesare Fransiskus Raing alias Sisko Making mengatakan, setelah dilantik, ia menggagas digelarnya ritual Lede Lewu.
Gagasannya mendapat sambutan tokoh adat setempat setelah digelar pertemuan bersama BPD, tokoh masyarakat, dan tokoh adat. Setelah digelar pertemuan, langsung turun hujan, sehingga sempat ditunda pelaksanaanya.