Berita Lembata Hari Ini

Mempersatukan Masyarakat Dengan Ritual ‘Tugul Gawak’ di Atadei Lembata

Lapangan di desa Atakore ramai dengan banyaknya masyarakat dari sejumlah desa di Kecamatan Atadei. Mereka mengenakan pakaian adat lengkap deng

Editor: Ferry Ndoen
Keterangan Foto/Ricko Wawo
Ritual Tugul Gawak diikuti oleh para kepala suku, camat, kepala desa dan Bupati Lembata Thomas Ola Langoday di desa Atakore, Kecamatan Atadei, Jumat, 18 Februari 2022. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Lapangan di desa Atakore ramai dengan banyaknya masyarakat dari sejumlah desa di Kecamatan Atadei. Mereka mengenakan pakaian adat lengkap dengan atribut-atribut khasnya dan alat musik tradisional. Di tengah lapangan, ada sebuah pondok yang didirikan untuk menggelar ritual adat ‘Tugul Gawak’.

Masyarakat lainnya turut menyaksikan dari tenda yang didirikan dengan  bambu dan daun kelapa. Mereka juga sedang bersiap-siap mementaskan acara-acara seni budaya di panggung yang sudah disiapkan untuk Eksplorasi Budaya Sare Dame Lembata.

Ritual Tugul Gawak diikuti oleh para kepala suku, camat, kepala desa dan Bupati Lembata Thomas Ola Langoday.

Petrus Ata Tukan (69), budayawan desa Atakore, mengungkapkan secara harafiah, Tugul Gawak berarti mempersatukan. Simbol-simbol di dalam ritus ini menunjukkan makna persatuan itu. Misalnya, beras yang dibawa masing-masing orang harus dikumpulkan dalam satu tempat dan tuak diisi dalam satu wadah. Tapi, hanya satu ekor ayam yang dikurbankan sebagai makna perasatuan itu.

Baca juga: Jadwal Terbaru BRI Liga 1, PSIS Semarang vs Bali United, PSS vs Borneo, Bhayangkara vs Persikabo

Sebenarnya, kata Petrus, ritual ini biasa dilakukan saat ada perpecahan atau konflik di dalam keluarga. Namun, dalam event eksplorasi ini camat berperan sebagai kepala keluarga dan kepala desa lainnya sebagai anak-anak.

Lebih luas, Tugul Gawak mengirim pesan supaya dalam melaksanakan tugas di pemerintahan, siapa saja harus merasa senasib dan seiya sekata dengan masyarakat.

“Eksplorasi ini mendorong kami untuk gali lebih dalam banyak budaya yang mulai luntur dan malah ada yang hampir punah jadi kita terdorong untuk menelusuri ulang,” kata Petrus saat ditemui di sela-sela Eksplorasi Budaya Lembata di desa Atakore, Kecamatan Atadei, Jumat, 18 Februari 2022.

Petrus Ata Tukan merupakan pensiunan guru, dari desa Atakore. Setelah pensiun, dia sudah menulis dua buku seri ‘Himpunan Cerita Budaya Desa Atakore.’

Baca juga: Nama Susunan Pemain PSIS Semarang vs Bali United Malam Ini, Pratama Arhan Main di Laga Pamungkas

Dari eksplorasi budaya, Petrus merasa masih banyak hal dalam kebudayaan yang harus ditulis sebelum para narasumbernya meninggal dunia.

Petrus bahkan sudah mewanti-wanti nilai-nilai kebudayaan yang bisa hilang ditelan zaman jika tidak diwariskan atau tidak digali lagi.

"Ada hal yang berkembang menurut zaman tapi perlu diseleksi sehingga nilai-nilai budaya jadi luntur,” tambahnya.

“Kalau nilai-nilai budaya masuk dalam pemerintahan maka mereka akan lakukan dengan baik. Budaya kita sudah ajarkan, ini kami punya bagian, ini orang punya bagian, jadi tidak ada yang berani korupsi,” ujar dia. (*)

Ritual Tugul Gawak diikuti oleh para kepala suku, camat, kepala desa dan Bupati Lembata Thomas Ola Langoday di desa Atakore, Kecamatan Atadei, Jumat, 18 Februari 2022.
Ritual Tugul Gawak diikuti oleh para kepala suku, camat, kepala desa dan Bupati Lembata Thomas Ola Langoday di desa Atakore, Kecamatan Atadei, Jumat, 18 Februari 2022. (Keterangan Foto/Ricko Wawo)
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved