Berita Lembata Hari Ini

Makna Ritual Tugul Gawak Untuk Pemkab Lembata: Kalau Rakyat Masih Lapar, Jangan Kau Kenyang Dulu

Pelaksanaan eksplorasi budaya sare dame untuk Kecamatan Atadei di desa Atakore, Jumat, 18 Februari 2022, berlangsung meriah dari

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Ferry Ndoen
Foto/Ricko Wawo
Pelaksanaan eksplorasi budaya sare dame untuk Kecamatan Atadei di desa Atakore, Jumat, 18 Februari 2022, berlangsung meriah dari pagi sampai malam hari. Selain menampilkan atraksi budaya dari masing-masing desa di Kecamatan Atadei, rombongan pemerintah juga diperkenankan mengikuti ritual Tugul Gawak, sebuah ritual persatuan yang biasa dilakukan masyarakat. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM, Lewoleba - Pelaksanaan eksplorasi budaya sare dame untuk Kecamatan Atadei di desa Atakore, Jumat, 18 Februari 2022, berlangsung meriah dari pagi sampai malam hari. Selain menampilkan atraksi budaya dari masing-masing desa di Kecamatan Atadei, rombongan pemerintah juga diperkenankan mengikuti ritual Tugul Gawak, sebuah ritual persatuan yang biasa dilakukan masyarakat.

Bupati Lembata Thomas Ola Langoday punya kesan mendalam usai dilibatkan dalam ritual tersebut. Bagi dia, ritual Tugul Gawak mengirim pesan yang baik untuk semua yang bekerja di pemerintahan; kepala desa, camat hingga kepala daerah.

“Artinya kita kuat dengan nilai-nilai budaya ini. Hari ini seluruh dunia menyaksikan bagaimana kekuatan nilai nilai baik muncul dari sini dan berlaku di seluruh dunia. Kita angkat ini. Ada beberapa nilai baik,” kata Bupati Thomas.

Dia pun coba menerjemahkan maksud dari ritual tersebut dalam konteks pemerintahan.

Pesan pertama, “kami duduk di rumah adat, kami minum dari satu neak, konok (wadah minum) yang sama. Ada pesan moral; kalau rakyat masih lapar, kalau rakyat masih haus, jangan kau kenyang dulu, jangan puaskan dahaga dulu. Ini pesan moral dari Atakore. Pak camat dan kades ingat pesan ini,” tegasnya disambut tepuk tangan masyarakat.

Pesan kedua, “kami makan dari satu bakul, sendok yang sama, artinya kita harus bersatu. Satu susah kita semua susah, satu senang kita yang lain senang. Jangan sebaliknya. Ini sedang terjadi di Lembata. Siapa yang tidak terlibat maka dia tidak akan pahami ini,” ujarnya sembari menyinggung orang-orang yang masih menolak pelaksanaan eksplorasi budaya di media sosial. Dia menyebut orang yang menolak itu hanya ‘melayang-layang’ dan tidak ‘membumi’.

“Saya ajak mari kita membumi, mari kita Taan Tou untuk bangun Lewotana,” ajaknya.

Ketiga, “kami diberkati secara adat dan dapat kekuatan besar dari Lewotana Atakore supaya melayani Ribu Ratu (warga) yang baik. Kami diberkati supaya kami kembali layani dengan pikiran yang positif,” katanya. (*)

Pelaksanaan eksplorasi budaya sare dame untuk Kecamatan Atadei di desa Atakore, Jumat, 18 Februari 2022, berlangsung meriah dari pagi sampai malam hari. Selain menampilkan atraksi budaya dari masing-masing desa di Kecamatan Atadei, rombongan pemerintah juga diperkenankan mengikuti ritual Tugul Gawak, sebuah ritual persatuan yang biasa dilakukan masyarakat.
Pelaksanaan eksplorasi budaya sare dame untuk Kecamatan Atadei di desa Atakore, Jumat, 18 Februari 2022, berlangsung meriah dari pagi sampai malam hari. Selain menampilkan atraksi budaya dari masing-masing desa di Kecamatan Atadei, rombongan pemerintah juga diperkenankan mengikuti ritual Tugul Gawak, sebuah ritual persatuan yang biasa dilakukan masyarakat. (Foto/Ricko Wawo)
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved