Berita Lembata Hari Ini
‘Kita Punya Modal Kebudayaan Untuk Bangun Lembata’
Penyelenggaraan eksplorasi budaya sare dame di Kabupaten Lembata juga turut dihadiri oleh dua orang akademisi senior yakni Dr Hippolitus Kewuel Kristo
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Penyelenggaraan eksplorasi budaya sare dame di Kabupaten Lembata juga turut dihadiri oleh dua orang akademisi senior yakni Dr Hippolitus Kewuel Kristoforus, dosen Antropologi Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya dan Dr. Drs Ola Rongan Wilhelmus, M.Sc, dosen di STKIP Widya Yuwana Madiun. Kedua putra asli Lembata ini mengikuti setiap ritus yang digelar dalam eksplorasi budaya kali ini.
Di desa Atakore, Kecamatan Atadei, Jumat, 18 Februari 2022, keduanya menyampaikan kesan mendalam tentang apa yang mereka lihat dan alami sendiri dalam kegiatan budaya tersebut.
Ola Rongan berujar kebudayaan merupakan tonggak dari karakter anak bangsa. Cara kita berpikir, cara kita merasa dibentuk oleh kebudayaan.
“Budaya itu membentuk karakter kita. Saya menemukan jawabannya di dalam eksplorasi budaya. Saya merasa betul tetap menjadi orang Lembata,” ungkapnya.
Sebagai akademisi, dia kemudian melakukan observasi selama eksplorasi budaya tersebut dan mencari tahu apa modal utama masyarakat Lembata untuk membangun Lembata tercinta?
Secara kasat mata, dia melihat banyak kemajuan pembangunan, di antaranya; listrik di semua desa, mobilitas masyarakat semakin tinggi, dan akses pada pendidikan dan kesehatan semakin baik.
“Modal apa yang kita pakai untuk bangun Lembata, apakah modal itu manusia, uang atau kebudayaan, saya lihat modal pertama ada dalam kebudayaan yang membentuk karakter kita, orang Lembata yang punya moralitas yang jujur dan cinta akan kebaikan,” urainya.
“Lalu kenapa ada orang Lembata yang tidak baik dalam hidup moral, itu karena kekurangan kita terhadap nilai-nilai budaya itu,” katanya.
Hampir senada dengan Ola Rongan, Hippolitus pun menyanjung antusiasme masyarakat mengikuti eksplorasi budaya.
Menurutnya, ritual-ritual yang dibuat telah menunjukkan bahwa masyarakat masih sangat menghormati alam.
“Mau ajarkan kepada kita bahwa alam semesta ada pemiliknya, ada roh di dalamnya yang perlu dihargai,” pungkasnya. Bertepatan Dengan Eksplorasi Budaya, Sejumlah Desa di Lembata Masuk Nominasi Desa Wisata Kemenpar
Penyelenggaraan eksplorasi budaya sare dame Kecamatan Atadei di desa Atakore berlangsung meriah. Perwakilan masyarakat dari sejumlah desa juga terlihat antusias menampilkan atraksi budaya, dari siang sampai malam hari.
Hal menarik yang ditampilkan dalam aktivitas budaya ini adalah penyajian kuliner lokal khas Atadei. Masyarakat menyajikan kuliner lokal dengan wadah dari bambu dan tempurung kelapa, sangat ramah lingkungan.
Beragam kuliner lokal khas itu yakni putu, kacang tanah, jagung titi, Uta Maka Jawa (kacang), ikan bakar, ikan goreng, lawar, dan bromer. (*)
