Berita Pemprov NTT
Petani Desa Raknamo Kupang Terbantu Dengan Program Tanam Jagung Panen Sapi Pemprov NTT
benih komposit dan hasil produksinya hanya mencapai 3 ton per hektar. Dari skala usaha ini tidak berjalan dengan baik.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Petani asal Desa Raknamo, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang mengaku sangat terbantu dengan program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang dicanangkan pemerintah Provinsi NTT.
Program unggulan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT ini telah memberikan dampak ekonomi dan dampak pendidikan karena anak-anak mereka yang sebelumnya tidak mengharapkan bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi akhirnya terjawab.
Dominggus M.A Bira, Kelompok Tani Fajar Pagi, usai mengikuti kegiatan Bakohumas di Hotel Sasando Kupang, mengapresiasi program TJPS yang dicenangkan pemerintah itu.
Warga RT 05/RW 03 Dusun II, itu berharap pemerintah terus mengevaluasi dan mengembangka program tersebut karena ada anggota kelompoknya yang masih milenial bisa terbantu melanjutkan pendidikannya.
Baca juga: Pemprov NTT Salurkan Bantuan Seroja Untuk Kabupaten Sumba Timur
Sebelumnya petani milenial tersebut tidak ada harapan lagi untuk lanjukan studinya ke jenjang perguruan tinggi karena terkendala biaya. Namun adanya program tersebut ia telibat dan ternyata hasilnya sangat luar biasa.
Dikatakan dari hasil tanam jagung itu, ia menjual lalu membeli sapi dan sisanya ia gunakan untuk biaya kuliahnya.
"Saat ini dia sudah Semester 3 di Politani Kupang. Mereka ada tiga orang. Mereka pilih politani karena bidang ilmu dan hobinya sangat pas yakni pertanian," katanya.
Dari hasil panen tersebut, ia mengajak dan memberikan motivasi kepada petani dan pemuda agar jangan muda menyerahserta putus asah karena banyak kesempatan yang mesti dikembangkan untuk memenuhi akan kebutuhan.
"Ini daerah kita sendiri. Kita harus berusaha untuk keluar dari stigma kemiskinan yang ada. Yang bisa mengangkat harkat dan martabat kita adalah semangat dan kerja keras oleh diri sendiri," katanya.
Baca juga: Jadi Temuan BPK, Pemprov NTT Ajukan Ranperda Penyertaan Modal Bank NTT
Ia juga berharap program yang baik itu terus dievaluasi karen masih ada kelemahannya. Contoh pendampingan, pemerintah mulai dari tingkat provinsi sampai ke desa harus dampinggi petani mulai dari pengadaan bibit hingga membeli sapi.
"Petani walau sudah dapat hasil jualannya tapi harus didampinggi untuk beli sapi," bebernya.
Sejak 2019 kelompoknya sudah terlibat dalam program TJPS yang beranggotakan 30 orang. Anggota tersebut 5 orang lainnya adalah petani milenial dan 3 orangnya sudah bisa melanjutkan studinya.
"Keuntungannya kami awalnya tidak ada sapi, sekarang kami sudah ada masing-masing 3 ekor sapi. Lalu pengembangan SDM juga sangat berdampak. Kami masing-masing memiliki 1 hektar lahan," katanya.
Dibeberkan tahun ini proses pendistribusian bibit dan pupuk mengalami sedikit keterlambatan. Untuk mentasi hama dan kendala lain juga selama ini bisa diatasi.