Rakyat Lembata Dukung Pemberantasan Korupsi
Kita pantas mengapresiasi langkah kecil dengan komitmen besar dalam bingkai satu hati (taan tou) yang dilakukan Bupati Thomas Ola Langoday
Banyak kepala sekolah (ASN) yang bekerja memenangkan Pilkades baik calonASN yang diklaim sebagai hasil lobi ke Bupati Lembata maupun rakyat sipil yang ditolak di mana-mana tapi tetap nekat sampai Golgotha.
Jangan lupa, orang-orang ini bagai bunglon politik: mudah berubah warna dan gampang berganti warna kulit.
Mungkin tipe kepala sekolah wajah bunglon ini sering datang ke rumah jabatan Bupati Lembata.
Pola Korupsi
Kasus dugaan korupsi yang telah disandiwarakan Karel Sakeng dan sejenisnya itu merupakan representasi dari alur korupsi di tubuh birokrasi mulai dari atasan.
Bawahan tidak mungkin korupsi kalau tidak “diteladankan” dengan sangat buruk oleh atasan.
Atasan dan bawahan sama-sama memanfaatkan peluang dan celah yang disediakan birokrasi.
Sebuah proses pemanfaatan yang tidak beradab tapi telah berkembang menjadi sebuah peradaban baru dalam tubuh birokrasi Lembata.
Dugaan kasus korupsi dan kepemimpinan otoriter yang terasing dari etika kepemimpinan diduga telah dilakukan Kepala SMPN 1 Nubatukan Lewoleba.
Kasek ini mengancam guru-guru dengan mencatut nama bupati dan wakil bupati.
Kasus ini telah disuarakan oleh sebagian pendidik kritis dari SMPN 1 Nubatukan Lewoleba yang berakhir dengan pemutasian pendidik kritis ke sekolah lain.
Kita berharap Bupati Thomas Langoday memberi perhatian karena suara para guru SMPN 1 Nubatukan juga terkait dugaan korupsi (Koran NTT.Com 25/01/2021).
Kasus-kasus korupsi dalam tubuh birokrasi Lembata selalu mencatut nama-nama elite politik dan birokrasi.
Pencatutan nama itu dilakukan dengan sangat sengaja untuk meneror sikap kritis yang mesti dihidupkan dan dirawat dalam ruang-ruang institusi birokrasi dan pendidikan kita.
Kasus-kasus ini membuktikan bahwa patut diduga, mencatut nama elite politik-birokrasi berkelindan dengan dugaan korupsi dalam institusi tersebut.