Rakyat Lembata Dukung Pemberantasan Korupsi

Kita pantas mengapresiasi langkah kecil dengan komitmen besar dalam bingkai satu hati (taan tou) yang dilakukan Bupati Thomas Ola Langoday

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Kita harap, Apol Mayan bisa segera “dipulihkan” nama baiknya sebagai pejabat publik yang sangat berkuasa sampai menghentikan pembacaan teks Pancasila saat apel pagi.

Perilaku ini melewati batas etika pejabat publik, tapi kita maklum saat itu Apol Mayan sedang mengendus nikmat di bawah ketiak kekuasaan.

Kasus dugaan korupsi yang belakangan mengemuka adalah Kepala Bidang Binaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lembata, Karel Sakeng yang diduga mencatut nama bupati, Kapolres dan Kajari saat menekan para kepala sekolah agar menuruti semua perintahnya, termasuk mengarahkan para kepala sekolah agar membeli kursi, meja, lemari dari bengkel kayu CV Anugerah Empat Berlian milik Hendrikus Pito alias Edi Sakeng, adik kandungnya di Bluwa, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan (Sergap 30/10/2021).

Celah korupsi itu terbuka tahun 2020 saat Karel Sakeng menjabat sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) dalam proyek swakelola rehab sekolah, penambahan ruang kelas baru dan pengadaan kursi meja senilai Rp2 miliar.

Karel memanfaatkan sepotong kuasa dan kebodohan (kurang pengetahuan) dari sebagian kepala sekolah di kampung-kampung.

Mungkin Karel tahu bahwa sebagian kepala skeolah itu tanpa kualifikasi yang memadai, kurang paham wewenang dan diangkat karena titipan sana sini persis barang rombengan dinas.

Ancaman kecil akan dicopot saja bisa meruntuhkan kekuatan regulasi bahwa dalam proyek swakelola, sekolah otonom menentukan kontraktor berkualitas.

Apalagi kualitas bengkel CV Anugerah Empat Berlian-nama ini mentereng sekali merepresentasi potensi tambang Berlian di Labalekan-hanya bahan kayu Lamtoro gung yang dilapisi sedikit tripleks tipis biar tampak mentereng.

Banyak meja, kursi dan lemari dalam keadaan rusak. Lemari buku sangat tipis sehingga kalau simpan banyak buku bisa melengkung persis batang bambu muda yang dipasang sebagai jerat (bahasa lokal: kitur) untuk menangkap kera di lereng Labalekan.

Para kepala sekolah juga semakin ketahuan bodohnya karena takluk di depan nama CV yang sebenarnya khusus menggali tambang Berlian di sekitar Labalekan, bukan membuat kursi, meja dan lemari yang lengkung itu.

Nama CV itu cocok untuk pengrajin Berlian sehingga menaklukkan kebodohan para kepala sekolah yang datang dari kampung dengan lugu, tiap minggu beri renungan ibadat sabda sehingga tidak pernah diajar atau lupa bagaimana bersikap kritis.

Belum lagi takut jabatan kepala sekolah dicopot dengan sepotong ancaman seorang penambang Berlian bernama Karel Sakeng karena boleh jadi jabatan itu titipan (tentu bukan gratis), hasil lobi orang dekat dan mungkin saja pamrih dari kerja sebagai tim sukses dalam Pilkada Lembata.

Bupati Thomas Langoday perlu kita ingatkan bahwa banyak guru di Lembata berubah menjadi pemain dalam ruang politik praktis, mulai dari Pilkades hingga Pilkada.

Banyak jabatan kepala sekolah selama ini adalah harga politik dukungan saat Pilkada.

Ada kepala sekolah di pantai Selatan Lembata yang lebih banyak “kerja” di jalan, kelewat sibuk sehingga selalu tinggalkan sekolah, banyak urusan di Lewoleba, banyak kali mencatut diri sebagai tim sukses Pilkada dan sering berperilaku seperti “satpam” bagi guru-guru yang lain.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved