Berita Lembata
Upacara Heban Koker : Melihat Dari Dekat Orang Atawolo Lembata Merayakan Hidup yang Harmonis
Koker juga menjadi semacam mesbah untuk memanjatkan syukur, memohon berkat, pengampunan dan menolak sakit penyakit.
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
Misalnya, tidak boleh menebang pohon, mematahkan dahan pohon, mencabut tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Jika ada yang melanggar maka perlu dilakukan upacara adat untuk pemulihan.
Orang Atawolo percaya pelanggaran terhadap pantangan-pantangan di kampung lama akan berdampak pada perubahan iklim yang tidak biasa, seperti kemarau berkepanjangan atau musim hujan berkepanjangan.
Ben Namang mengatakan sejak dahulu kala, para leluhur sudah mewarisi pesan supaya pohon-pohon di kampung lama harus dirawat.
Selain untuk menghormati leluhur, pantangan-pantangan itu ada untuk menjaga supaya area kampung lama tetap lestari.
“Pohon tidak bisa patah sembarang. Kalau patah ada larangan. Bisa jadi kemarau berkepanjangan, bisa hujan berkepanjangan. Bisa dipotong tapi harus ada ritual adat. Kalau langgar bisa panas berkepanjangan atau hujan berkepanjangan. Maka kepala suku harus panggil lembaga adat untuk rekonsiliasi,” kata Ben Namang.
Kehidupan selaras alam yang dihayati orang Atawolo berkaitan erat pula dengan bagaimana cara mereka memaknai kehidupan bersama yang harmonis.
Baca juga: Kunjungan Kerja ke Wulandoni Lembata, Bupati Thomas Ola Tinjau Pasar Barter dan Pelabuhan Laut
Filosofi hidup bersama yang harmonis ini tampak nyata dalam upacara Heban Koker Suku Namang Nalaulolo.
Biaya untuk melangsungkan ritual ini tidak murah. Ben Namang memperkirakan anggaran yang dikeluarkan bisa mencapai angka Rp 100 juta. Meski merupakan perhelatan suku Namang Nalaulolon, ini bukan berarti semuanya dibebankan kepada suku Namang.
Semua suku wajib terlibat. Mereka dengan sendirinya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Sehari sebelum acara puncak Heban Koker, ke-11 suku lainnya sudah mengantar (antar dulang) tanggungan dari masing-masing suku.
Puncak dari perayaan kebersamaan antara orang Atawolo terjadi pada saat acara makan bersama atau Lagan pada malam harinya. Semua orang yang hadir dalam ritual Heban Koker diberi makan dan membawa pulang kumpulan daging kambing dan daging babi ke rumah.
Suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan sangat terasa dalam acara makan bersama (lagan) tersebut.
Wakil Ketua Lembaga Adat, Karolus Koli Karang (80), mengakui apa yang sekarang disebut sebagai semangat gotong royong memang tak bisa dipisahkan dari keseluruhan upacara Heban Koker yang melibatkan 12 suku di Atawolo.
Setiap suku dan Ata Kwinai sudah punya peran dan tugasnya masing-masing dalam upacara pemugaran rumah adat tersebut.
Dia mencontohkan, dalam proses pemugaran, Ata Kwinai atau keluarga dari saudari perempuan Suku Namang punya peran penting.
Ata Kwinai bahkan bertanggung jawab mulai dari rumah dipasang fondasi hingga atap. Ini menunjukkan saling keterkaitan di antara semua suku di Atawolo.
Orang Atawolo tidak hanya merayakan ritus-ritus dengan simbol-simbolnya, tetapi mereka juga turut merayakan keharmonisan hidup bersama alam dan bersama sesama manusia.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/upacara-heban-koker.jpg)