Jumat, 1 Mei 2026

Berita Lembata

Upacara Heban Koker : Melihat Dari Dekat Orang Atawolo Lembata Merayakan Hidup yang Harmonis

Koker juga menjadi semacam mesbah untuk memanjatkan syukur, memohon berkat, pengampunan dan menolak sakit penyakit.

Tayang:
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/RICARDUS WAWO
Upacara Heban Koker Suku Namang Nalaulolo di kampung lama Atawolo, desa Lusi Lame, Kecamatan Atadei, Selasa, 19 Oktober 2021. Ritual Heban Koker atau pemugaran rumah adat ini terakhir kali digelar pada tahun 1988 atau 33 tahun yang lalu. Tahun ini, upacara Heban Koker berhasil mengumpulkan kembali sekitar 800-an orang dari 12 suku yang berasal dari Atawolo, baik yang ada di Lembata maupun yang ada di perantauan. 

Ritual ini ditandai dengan memasukan barang-barang adat ke dalam Koker (rumah adat) yang selama rumah dipugar, barang-barang adat ini dikeluarkan sementara.

Seorang bapak sampai menitihkan air mata usai barang-barang adat itu dimasukan kembali ke dalam Koker.

“Terharu karena persiapannya cukup lama,” ungkapnya singkat.

Ritual Heban Koker atau pemugaran rumah adat ini terakhir kali digelar pada tahun 1988 atau 33 tahun yang lalu. Proses persiapan Heban Koker dilakukan selama setahun berdasarkan petunjuk-petunjuk dari Sang Molan.  

Tahun ini, Heban Koker berhasil mengumpulkan kembali sekitar 800-an orang dari 12 suku yang berasal dari Atawolo, baik yang ada di Lembata maupun yang ada di perantauan.

Baca juga: Warga Atawolo di Lembata Masih Kesulitan Air Bersih, Apa Tanggapan Bupati Langoday?

“Koker atau rumah adat kami sudah rusak maka kami harus bangun baru lagi. Prosesnya mulai duduk rencana sama-sama kapan gelar acara ini, lalu tahapan ini kita minta dukun (molan) bisa berikan petunjuk, lalu mulai dengan upacara di depan rumah yang mau dibongkar, fondasi dan sampai atap,” papar Ben Namang.

Setelah Doka Tua Magu, para kepala suku kembali duduk melingkar di depan rumah adat. Kepada mereka akan disuguhkan makanan adat berupa nasi dan daging yang hanya direbus tanpa racikan bumbu apa pun. Ritus ini disebut Lagan Kapitan Kabelek.

Rumah adat (koker) memang berbeda dengan rumah biasa. Koker punya fungsi sosial mengumpulkan sesama anggota dalam suku saat seremonial adat apa saja. Biasanya, setiap tahun pada bulan Maret dan April, para anggota suku pulang ke kampung untuk upacara makan jagung.

Koker juga menjadi semacam mesbah untuk memanjatkan syukur, memohon berkat, pengampunan dan menolak sakit penyakit.

Hidup Harmonis Bersama Alam

Semua orang Atawolo sadar kalau kembali ke kampung lama berarti kembali menjalani laku hidup yang harmonis bersama alam.

Kampung lama merupakan pusat dari keseluruhan hidup orang Atawolo karena dari tempat itu mereka berasal. Kampung lama berada di bukit yang ditutupi pohon-pohon besar yang rimbun.

Di dalamnya, terdapat rumah adat dari 12 suku orang Atawolo yang mengelilingi rimbunnya pepohonan besar.

Ke-12 suku di Atawolo yaitu suku Karang, Koles, Mehan, Dolun, Luon Lamawangun, Henakin, Melwitin, Namang Nalaulolo, Namang Bnat Lolo, Namang Bnat Lenge, Nuban, dan Nuba Kupak. 

Baca juga: Kunjungan Kerja ke Wulandoni Lembata, Bupati Thomas Ola Tinjau Pasar Barter dan Pelabuhan Laut

Ada banyak hal yang tidak boleh dilakukan ketika orang berada di dalam kampung lama.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved