Breaking News:

Opini Pos Kupang

Peluang dan Tantangan Bonus Demografi Indonesia

Indonesia berpeluang menjadi salah satu negara maju di ASEAN, ASIA bahkan juga dunia setelah tahun 2030

Editor: Kanis Jehola
Peluang dan Tantangan Bonus Demografi Indonesia
DOK POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Oleh: Yosep Emanuel Jelahut, Dosen Jurusan Sosiologi FISIP Undana

POS-KUPANG.COM - Indonesia berpeluang menjadi salah satu negara maju di ASEAN, ASIA bahkan juga dunia setelah tahun 2030 nanti bila dengan tepat memanfaatkan bonus demografi yang mungkin terjadi hanya sekali saja dan sungguh sangat sulit untuk terulang kembali. Namun sebaliknya akan menjadi bencana demografi bila tidak dimanfaatkan dengan baik.

Bonus demografi, menurut berbagai sumber antara lain United Nations Population Fund (UNPF), adalah suatu kondisi di mana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dari yang nonproduktif.

Dari Sensus Penduduk Tahun 2020 di ketahui bahwa penduduk Indonesia berjumlah 270,20 juta jiwa. 70,72 persen dari jumlah tersebut terkategori sebagai penduduk produktif (usia 15 -64 tahun) dan 29,28 persen sisanya terkategori sebagai penduduk nonproduktif (usia 15 dan 64 tahun).

Data tersebut memberikan gambaran bahwa Indonesia akan memasuki kondisi bonus demografi setelah tahun 2030. Bonus demografi ini terjadi karena infant mortality rate (angka kematian bayi) cenderung menurun sehingga jumlah bayi yang tetap hidup hingga dewasa cenderung terus meningkat dan total fertility rate (angka kelahiran total) cenderung menurun sehingga anak yang berusia di bawah 15 tahun berkurang jumlahnya.

Baca juga: Kode Redeem FF 17 Juni 2021, Buruan Tukar Kode Redeem Free Fire Terbaru

Baca juga: Kunjung Kampus ATK Kupang,Gubernur Viktor Laiskodat Minta Produksi Mesin Bisa Dipakai Provinsi Lain

Tantangan terbesar bagi Indonesia dalam menghadapi bonus demografi ini adalah harus dapat menemukan formula yang jitu menangani penduduk usia produktif yang melimpah ini agar berkontribusi positif bagi pembangunan dan kesejahteraan bangsa dan bukan menjadi bencana demografi yang membebankan.

Bila bonus demografi sebagai peluang dapat dimanfaatkan dengan baik dengan strategi yang tepat dari sekarang maka saya yakin tidak mustahil Indonesia bakal menjadi negara maju setelah tahun 2030.

Sebagai pembanding, China dan Korea Selatan dengan sangat mengesankan berhasil memanfaatan bonus demografi bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatkan kesejahteraan penduduknya. China berhasil meningkatkan jumlah dan peran industri-industri rumah tangga sebagai basis produksi komponen peralatan elektronik. Korea Selatan pun sama, sangat sukses mengembangkan industri rumah tangganya sebagai basis produksi komponen telepon seluler.

Baca juga: Eksekusi Penalti Gagal, Gareth Bale Malah Dinobatkan Jadi Pemain Terbaik Turki vs Wales Euro 2020

Baca juga: DPRD Sebut Wacana Pemkot Kupang Bantu PNS dan PTT Uang Muka Rumah Tidak Berdasar

Cara yang sama dari kedua negara tersebut dapat menyerap tenaga kerja yang banyak di satu sisi dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional serta menggenjot ekspor di sisi lainnya.

Sekarang, kedua negara tersebut bukan lagi negara "kaleng-kaleng" namun menjadi "raja" elektronik dan telpon seluler terutama di ASIA dan mungkin juga di dunia ke depannya.

Indonesia akan menghadapi momok yang sangat menakutkan bila salah menentukan langkah antisipasi terhadap peluang bonus demografi ini. Bukan mustahil akan menghadapi kenyataan antara lain; pertama, akan terjadi ledakan pengangguran karena lapangan kerja yang tersedia tidak bisa menampung semua tenaga kerja produktif.

Kedua, angka kemiskinan akan meningkat tajam karena pendapatan mayoritas penduduk mengalami penurunan drastis. Ketiga, angka kriminalitas akan menanjak sangat tajam, seperti prostitusi, pemalakan, perampokan, pencurian dan lain sebagainya.

Keempat, bila kondisi ekonomi di negara-negara lain di dunia relatif baik maka akan terjadi migrasi besar-besaran tenaga kerja produktif Indonesian ke luar negeri untuk mencari peluang kerja. Kelima, bisa juga terjadi gangguan pertahanan dan keamanan dengan terjadinya demonstrasi besar-besaran dari rakyat yang menuntut pemerintah agar menyediakan lapangan kerja.

Dikuatirkan demonstrasi-demonstrasi tersebut mengusung tema "revolusi sosial" yang bisa menjalar ke isu-isu politis. Hal ini tentunya mengganggu pertahahan dan keamanan negara.

Keenam, kondisi ini dapat saja menjadi peluang emas bagi negara lain di dunia untuk memperkuat hegemoni ekonomi dan politiknya di Indonesia sekaligus melemahkan posisi Indonesia di kancah ekonomi dan politik global.

Agar bonus demografi ini dapat dimanfaatkan sebagai momentum tepat untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju setelah tahun 2030 nanti maka berbagai hal perlu dilakukan sejak sekarang seperti pembangunan infrastruktur perhubungan secara luas dan merata di seluruh wilayah Indonesia terutama infrasturktur darat, laut dan udara. Dengan demikian distribusi barang dan jasa dari satu daerah ke daerah lainnya menjadi lancar.

Selain itu, pembangunan infrastruktur listrik (PLN), telekomunikasi dan jaringan internet yang merata dan berkualitas. Perluasan jangkauan layanan kesehatan agar dapat menciptakan generasi yang sehat, unggul dan tangguh secara fisik.

Juga menciptakan iklim usaha yang kondusif dengan jalan merevisi semua peraturan perundang-undangan yang dinilai berbelit-belit, memperpanjang birokrasi, membingunkan dan tidak menciptakan kepastian hukum bagi pelaku usaha (investor).
Pemerintah juga harus merangsang hadirnya jenis usaha baru, termasuk industri rumah tangga dan UKM, lewat berbagai kebijakan pemerintah dalam hal perizinan dan perpajakan yang tidak membebankan pelaku usaha.

Menginventarisasi dan memetakan potensi sumberdaya alam yang belum pernah digarap untuk ditawarkan kepada pelaku usaha/investor dalam dan luar negeri agar dapat dikembangkan.

Pemerintah dan pelaku usaha harus semakin intens melakukan lobi-lobi politik dan bisnis baik di dalam maupun di luar negeri guna menggaet minat investor untuk menanamkan modal dan mengembangkan usahanya di Indonesia.

Membuat kebijakan impor/ekspor yang menggairahkan bagi berbagai jenis kelompok usaha.

Tak hanya itu, juga mendukung, membina dan mendampingi perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan vokasi guna mempersiapkan dan menghasilkan tenaga kerja yang dapat menerapkan keahlian dan keterampilan di bidangnya masing-masing (teknologi, wirausaha, seni) serta siap kerja dan mampu bersaing secara global.

Pemerintah diharapkan mengalokasikan dana yng cukup kepada penyelelenggara program pendidikan vokasi termasuk dalam bentuk beasiswa agar dapat meningkatkan partisipasi belajar bagi anak-anak cerdas dari keluarga yang kurang mampu.

Memperbanyak pendidikan nonformal berupa sanggar pelatihan, lembaga kursus, balai latihan kerja untuk menampung dan melatih lulusan SMA yang tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi agar menjadi tenaga kerja yang berketerampilan tinggi dan siap bekerja terutama dalam sektor industri dan jasa.

Mencitptakan kestabilan politik dan keamanan nasional yang baik agar menyediakan situasi yang kondusif bagi pelaku usaha dalam menjalankan usahanya.

Kenyataan sudah di hadapan kita dan keputusanpun ada di tangan kita pula. Bonus demografi bisa jadi peluang emas yang menguntungkan atau malah menjadi momok yang sangat menakutkan, sangat tergantung pada keputusan yang diambil hari ini. Bangsa yang menguasai masa depan adalah bangsa yang mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bakal terjadi sedini mungkin. Salam Sehat! (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved