Jumat, 1 Mei 2026

Wabup Weng Perintahkan Dinas Kesehatan Kabupaten Mabar Periksa Air Kali Wae Mese

sudah ambil sampel untuk diperiksa, karena menurut mereka (masyarakat) air tercemar

Tayang:
Penulis: Gecio Viana | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/GECIO VIANA
Tim Perumda Wae Mbeliling Mabar saat melakukan survei di Kampung Lobohusu Dusun Marombok, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Mabar, Senin 17 Mei 2021. 

Wabup Weng Perintahkan Dinas Kesehatan Kabupaten Mabar Periksa Air Kali Wae Mese

POS-KUPANG.COM | LABUAN BAJO - Wakil Bupati (Wabup) Manggarai Barat (Mabar), dr Yulianus Weng telah memerintahkan dinas kesehatan untuk memeriksa air kali Wae Mese, Selasa 18 Mei 2021.

Hal tersebut menyusul dugaan air kali yang dikonsumsi ratusan warga Lobohusu Dusun Marombok, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, tercemar pestisida dan bakteri lainnya.

"Sudah ambil sampel untuk diperiksa, karena menurut mereka (masyarakat) air tercemar," kata Wabup Weng saat ditemui di ruang kerjanya.

Mantan Kadis Kesehatan Kabupaten Manggarai ini menjelaskan, secara kasat mata air kali tersebut terlihat keruh dan berbau, namun diperlukan pemeriksaan laboratorium.

"Perlu ada pemeriksaan laboratorium untuk memastikan, diperiksa bakteriologisnya. Air itu tercemar jika ditemukan bakteri ecoli," tandasnya.

Baca juga: Dugaan Penyimpangan Gaji ASN di Dinas Pendidikan Sumba Timur, Kejari Tahan Lima Tersangka

Pemeriksaan laboratorium, lanjut Wabup Weng, membutuhkan waktu hingga 3 haro.

"Waktunya 3 kali 24 jam, karena itu (air) harus diperiksa, dibiarkan sehingga bisa didapat (kandungan bakteri). Kalau itu kita dapatkan, maka dapat dikatakan air ini tercemar," katanya.

"Apa tindakan yang tercemar, dikasih kaporit, lalu airnya kalau mau minum dimasak hingga mendidih," tambahnya

Petugas Perumda Wae Mbeliling saat melakukan pemasangan pompa air untuk memenuhi kebutuhan air baku warga Kampung Lobohusu, Selasa 18 Mei 2021.
 
Petugas Perumda Wae Mbeliling saat melakukan pemasangan pompa air untuk memenuhi kebutuhan air baku warga Kampung Lobohusu, Selasa 18 Mei 2021.   (POS KUPANG.COM/GECIO VIANA)

Sementara itu, Direktur Perumda Wae Mbeliling Mabar, Aurelius Endo mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Mabar untuk melancarkan pemeriksaan air kali Wae Mese.

Baca juga: Apresiasi Pilkada Berjalan Luber dan Jurdil, KPU Beri Penghargaan kepada Polres Belu

"Itu untuk menjawab keraguan masyarakat, sehingga kita turun lagi nanti dengan dinas kesehatan untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat," katanya.

Dikonfirmasi terpisah, Kadis Kesehatan Kabupaten Mabar, Paulus Mami mengatakan, tim dari dinas kesehatan telah mengambil sampel air kali Wae Mese.

Tim dari dinas kesehatan, lanjut dia, pagi tadi telah telah turun ke lokasi untuk memastikan pemeriksaan secara fisik dan kimia.

"Kalau secara kimia harus melalui pemeriksaan secara laboratorium untuk dilihat kandungan ecoli dan lainnya," ujarnya.

Baca juga: Perahu Terbalik di Waduk Kedung Ombo, Bekerja Sabtu Minggu Dibayar Rp 100 ribu/Hari, Usia Nahkoda

Pemeriksaan dilakukan selama 3 hari di Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Mabar.

"Saat ini kita menunggu hasilnya 3 sampai 4 hari ke depan, nanti saya koordinasi lagi ke tim di laboratorium," katanya.

Wakil Bupati Mabar, dr Yulianus Weng
Wakil Bupati Mabar, dr Yulianus Weng (POS-KUPANG.COM/Gecio Viana)

Diberitakan sebelumnya, warga satu kampung di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), selama puluhan tahun mengonsumsi air kali yang diduga telah tercemar pestisida, Sabtu (15/5/2021).

Warga satu kampung itu tinggal di Kampung Lobohusu Dusun Marombok, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo Kabupaten Mabar.

Baca juga: Dosen Politeknik Kupang Gelar Pelatihan Manajemen Usaha & Pelatihan Masker bagi Kelompok Ternate 

Sehari-hari, sebanyak 55 kepala keluarga (KK), menimba air sejauh 1 kilometer di kali Wae Mese.

Aktivitas warga ini dilakukan setiap pagi dan sore hari, karena di kampung itu tidak terdapat sumber air maupun layanan air bersih dari pemerintah.

Warga biasanya menggunakan jeriken berbagai ukuran untuk menimba air kali yang terlihat keruh, bahkan terlihat berlumut.

Mereka menyusuri perumahan warga, areal persawahan, kebun milik warga hingga sampai di bibir kali.

Kali Wae Mese merupakan kali besar, yang juga mengairi sejumlah lahan sawah milik warga desa sepanjang aliran sungai.

Sementara itu, Kampung Lobohusu terletak di arah selatan Labuan Bajo, berjarak kurang dari 5 kilometer dari ibukota Kabupaten Mabar.

Ketua RT 008 RW 004 Kampung Lobohusu, Aco Jafar mengatakan, kebiasaan warga mengonsumsi air kali sejak 1969 lalu.

Seorang warga Kampung Lobohusu, Nurhasanah (19) saat usai menimba air Kali Wae Mese, Minggu 16 Mei 2021.
Seorang warga Kampung Lobohusu, Nurhasanah (19) saat usai menimba air Kali Wae Mese, Minggu 16 Mei 2021. (POS KUPANG.COM/GECIO VIANA)

Sebelumnya, warga Kampung Lobohusu tinggal di Lengkong Pou, namun karena banjir bandang dan banyak korban jiwa, mereka direlokasi di Kampung Lobohusu.

Aco menuturkan, air kali tidak hanya digunakan untuk konsumsi warga, namun untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya seperti mandi, mencuci pakaian dan perabotan rumah tangga hingga pembangunan.

Walaupun air terlihat keruh dan tak layak konsumsi, warga yang berjumlah lebih dari 200 jiwa tidak punya pilihan lain.

Baca juga: Bupati Edi Endi Prioritaskan Air Bersih Untuk Kampung Lobohusu

Kondisi semakin parah saat memasuki musim hujan, air semakin keruh dan kotor karena bercampur lumpur.

Masyarakat terbantu pada 2018 lalu, karena adanya sumur bor dari Dinas PUPR Provinsi NTT.

Namun demikian, air dari sumur bor sedalam 34 meter itu menghasilkan air payau, yang tidak layak konsumsi.

Sumur bor bantuan itu juga rusak pada Agustus 2020 lalu, karena mesin pemompa air yang rusak, akibatnya warga pun kembali mengonsumsi air kali.

Air kali Wae Mese, menurut Aco, diduga telah terkontaminasi pestisida karena sepanjang kali terdapat areal sawah petani.

Dampak mengonsumsi air kali itu, sejumlah warga termasuk dirinya terkena penyakit ginjal. Bahkan, mertua Aco yang meninggal 2 tahun lalu karena penyakit ginjal, diduga kuat karena mengonsumsi air kali.

Selain itu, terdapat juga sejumlah warga yang mengalami diare, setelah mengonsumsi air kali.

"Keluhan ada penyakit kena batu ginjal, karena dari medisnya air ini ada zat kapurnya, lalu diare. Sudah ada korban, termasuk mertua saya," tutur Aco.

Baca juga: Perumda Wae Mbeliling Janji Layani Air Bersih 6 Bulan Lagi, Darius :  DPRD Monitor

Aco menuturkan, penyakit ginjal yang dideritanya diketahui setelah berobat di salah satu klinik di Labuan Bajo.

Kepada Aco, dokter klinik mendiagnosa penyakit dideritanya karena mengonsumsi air yang memiliki kadar kapur sangat tinggi, sehingga ia disarankan untuk mengonsumsi air mineral.

Sepulangnya ke rumah, ia pun berkeyakinan bahwa sang mertua meninggal dunia karena penyakit ginjal dikarenakan mengonsumsi air kali, seperti yang dilakukannya.

Warga kampung sedikit terbantu karena terdapat penjual air galon yang berjualan air. Namun, hal itu tidak dirasakan warga lainnya karena faktor ekonomi.

Belum lagi, kata Aco, penjual air galon yang datang hanya beberapa kali dalam sebulan.

Pihaknya berharap, perhatian pemerintah agar membantu air bersih bagi masyarakat di Kampung Lobohusu.

"Kalau bisa secepatnya, ini prioritas," tegasnya.

Baca juga: Perumda Wae Mbeliling Mabar Penuhi Kebutuhan Air Baku Warga Kampung Lobohusu

Warga Kampung Lobohusu, Nurijah (40) mengaku sejak dulu mengonsumsi air kali.

Pihaknya sedikit terbantu dengan adanya penjualan air galon, namun jika penjualan air galon mandeg, ia pun kembali mengonsumsi air kali.

Nurijah menuturkan, jika terjadi hujan dan air sangat keruh, warga pun terpaksa menimba dan menggunakan air kali tersebut.

"Masih juga (kalau banjir), kalau tidak ada air mau bilang apa, ditimba, dimasak diminum, tapi yang direbus," kata nurijah diamini sejumlah warga lainnya saay ditemui di pinggir kali Wae Mese.

Dikesempatan yang sama, warga lainnya, Hamida (40), hanya pasrah dengan keadaan tersebut.

"Saya timba pakai 3 jeriken, lalu taruh di dalam baskom dan pikul, capek," keluhnya.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana)

 
 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved