Breaking News:

Opini Pos Kupang

Food Estate dan Kemiskinan di NTT

Rencana pemerintah untuk membangun proyek "Food Estate' di NTT adalah langkah yang sangat tepat

Food Estate dan Kemiskinan di NTT
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Oleh: Dem Sabuna Statistisi Madya BPS Provinsi NTT

POS-KUPANG.COM - Rencana pemerintah untuk membangun proyek "Food Estate' di NTT adalah langkah yang sangat tepat. "Food Estate" adalah konsep pengembangan pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup tanaman pangan, perkebunan bahkan peternakan di satu kawasan.

Untuk tahap awal, proyek ini akan dibangun seluas 5.000 hektare dengan rincian 3.000 hektare untuk tanaman padi dan 2.000 hektare untuk tanaman jagung. Presiden Jokowi pun menargetkan, nantinya lumbung pangan di NTT ini akan diperluas hingga 10 ribu hektare di mana 5.600 hektare digunakan untuk padi dan 4.400 hektare untuk jagung.

Harapan Presiden Jokowi, dengan proyek ini maka panen padi dapat meningkat menjadi dua kali dalam setahun dan sekali panen untuk jagung atau kedelai.

1.360 Warga Manggarai Timur Akan Disuntik Vaksin Covid-19 Periode Kedua, 25 Orang Wartawan

Selain menyiapkan lahan pertanian, pemerintah juga menyiapkan waduk atau bendungan, embung, serta sumur bor untuk memenuhi kebutuhan irigasi pertanian dan juga menyiapkan kebutuhan alat dan mesin pertanian, (republika.co.id).

Ketika meninjau lokasi lumbung pangan baru (food estate) di Desa Makata Keri, Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, Selasa (23/2). Presiden menyebut lumbung pangan dibangun di NTT untuk mengurangi "kemiskinan" masyarakat.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan rilis BPS tanggal 15 Februari 2021 yang lalu, bahwa presentase penduduk miskin di NTT pada September 2020 adalah 21,21 persen.

Mandi di Cekdam Nangalimang-Sikka, Bocah 12 Tahun Tewas, Ini Kisahnya

Dengan menggunakan data konsumsi rumah tangga dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap tahun pada Maret dan September diperoleh nilai garis kemiskinan (GK) pada September 2020 di NTT sebesar Rp 414.712 per kapita per bulan. Rata-rata anggota rumah tangga miskin pada kisaran 5 atau 6 orang atau sekitar 2,2 juta per bulan.

Ketersediaan pangan, terutama pangan produksi sendiri akan sangat membantu masyarakat miskin untuk merealokasi komposisi pengeluarannya. Kondisi terkini, 35 persen dan 2,68 persen dari total pengeluaran penduduk miskin di pedesaan dimanfaatkan untuk konsumsi beras dan jagung.

Dengan ketersediaan pangan yang cukup di masyarakat maka pendapatan yang diperoleh akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan lain.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved