Jumat, 1 Mei 2026

Opini Pos Kupang

Belajar dari Presiden Jokowi

Ki Hajar Dewantara pendiri Perguruan Taman Siswa ,Tokoh Pendidikan Nasional, mewariskan ajaran bernilai yaitu "Ing ngarsa sung tulada

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

Memang terlihat banyak ruas jalan raya mulus yang dilintasi mobil bagus dan gedung perkantoran megah, tetapi apa artinya jalan mulus dan gedung gedung kantor mewah kalau rakyatnya masih saja dililit kemiskinan dan penderitaan ?.

Sejak adanya pilkada berbiaya sangat mahal, pembangunan infrastruktur (baca:jalan dan jembatan) selalu menjadi primadona ,sehingga alokasi anggaran untuk sektor ini jauh lebih besar dari pada sektor pertanian yang lebih menyangkut hajat hidup orang banyak. Alasan memprioritaskan pembangunan jalan dan jembatan sepertinya masuk akal, walaupun publik sudah lama paham mengapa jalan dan jembatan selalu diutamakan.

Sayangnya kalau sektor pertanian dalam arti luas dianaktirikan atau dikerjakan asal asalan, sulit mengharapkan NTT bisa bebas dari kemiskinan.

Hal kedua yang patut dipelajari oleh para pemimpin pemerintahan NTT dari Presiden Jokowi adalah perhatiannnya yang besar dan keberpihakannya pada kemajuan pertanian di NTT. Dengan membangun 7 bendungan besar 3 sudah diresmikan (Raknamo, Rotiklot dan Napun Gete), 2 sedang dikerjakan (Temef dan Manikin) dan 2 lagi menyusul yang membuktikan Presiden Jokowi paham bahwa kemajuan NTT sangat tergantung dari pertanian dan keberhasilan pertanian salah satu kuncinya adalah tersedianya air. Kegagalan program TJPS musim tanam April/September 2020 misalnya, salah satu penyebab utama ialah kurangnya persediaan air.

Belajar dari Presiden Jokowi dalam hal ini, berarti gubernur dan para bupati mestinya berlomba-lomba membangun embung, jebakan-jebakan air dan sumur-sumur di daerah pedesaan, sehingga para petani terbantu untuk berusaha meningkatkan pendapatannya.

Pembangunan embung, jebakan air dan sumur, selain berfungsi sebagai persediaan air, juga bermanfaat untuk menjaga kelestarian alam . Air hujan yang hanya 3-4 bulan turun, bisa ditampung/ditanam sehingga erosi dan banjir dapat dikendalikan dan harapan adanya sumber mata air baru bukan impian.

Demikian juga dengan pembangunan food estate di Sumba Tengah 5000 ha dan di Kabupaten Belu 350 ha, Presiden Jokowi mau mengatakan bahwa sudah saatnya usaha pertanian tanaman pangan dan hotikultura dikelola secara moderen.

Penggunaan alat produksi pertanian (alsintan), benih yang produktif, pupuk, pembasmi hama, pendampingan kontinu oleh tenaga PPL, pengawasan dari instansi teknis dan pengeloaan yang baik mulai dari persiapan menanam hingga panen dan pasca panen merupakan syarat mutlak untuk menjamin keberhasilan. Mekanisasi pertanian dan ikutannya berarti budaya baru bagi petani.

Karenanya petani harus disiapkan, dibina dan dibimbing untuk beradaptasi dengan cara kerja dan kebiasaan baru. Selain alasan peningkatan produksi yang berdampak pada ketahanan pangan dan peningkatan pendapatan petani, faktor minimnya tenaga kerja produktif dan upaya menarik para pemuda untuk menekuni usaha pertanian merupakan alasan utama perlunya modernisasi usaha pertanian.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh para pemimpin pemerintahan NTT? Sesungguhnya modernisasi usaha pertanian bukan hal baru dan yakin para pemimpin tahu hanya belum dilakukan secara besar-besaran seperti di Sumba Tengah.

Pemerintah NTT misalnya telah melaksanakan program Gema Agung (Gerakan masyarakat agribisnis jagung) bekerja sama dengan BPTP NTT mendorong petani (kelompok tani Sehati) di desa Ekateta Kecamatan Sulamu Kabupaten Kupang mengembangkan bibit jagung varietas Nasa 29 .

Dengan menerapkan modernisasi usaha pertanian diperkirakan per satu ha bisa menghasilkan 13 ton jagung.( ref:Pos Kupang, 29-2-2020). Sayang, program yang bagus ini sepertinya tidak berlanjut, entah apa alasannya.

Modernsasi pertanian juga dilakukan oleh dr Stef Bria mantan Bupati Malaka melalui RPM dan cukup berhasil. Rakyat Malaka tentu berharap program tersebut dilanjutkan oleh pengantinya.

Alasan perlunya modernisasi usaha pertanian tersebut.diatas diharapkan mengerakkan hati Gubernur NTT untuk meneruskan program Gema Agung bekerja sama dengan BPTP NTT dalam bentuk membangun kebun kebun bibit unggul jagung di kabupaten se NTT .

Mengingat harga benih unggul jagung seperti Pioneer cukup mahal (rp,100/1kg) maka adanya kebun bibit tentu sangat membantu petani. Hal yang sama sudah dilakukan pada zaman pemerintahan Pak El Tari , dan salah satu peniggalannya masih ada yakni kebun bibit jagung di Tarus Kabupaten Kupang. Kebun kebun bibit ini sekaligus berfungsi sebagai demplot dimana petani bisa belajar cara bertani moderen .

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved