Opini Pos Kupang
PERAN IBU 4.0 (Refleksi Peringatan Hari Ibu 22 Desember)
Pernyataan ini menekankan Peran perempuan tidak terbatas. Berbeda dengan laki-laki yang umumnya fokus mencari nafkah
Segala informasi mudah diakses melalui kanal media massa dan media sosial.
Hadirnya Revolusi Industri 4.0 mesti dimanfaatkan dan dikelola dengan baik oleh kaum ibu dengan mengambil berbagai peran di dalamnya.
Kendati demikian, ketika berperan di ranah publik, seorang ibu tetap tidak boleh melupakan kodratnya mengurus rumah tangga, mengasuh anak serta mendidik anak-anak dengan nilai-nilai yang baik.
Jangan sampai karena ibu bekerja, anak-anak menjadi terlantar, kehilangan kasih sayang bahkan sampai terpapar perilaku-perilaku negatif. Hull (1979) menyatakan bahwa ketika sesuatu hal terjadi di rumah seperti anak jatuh sakit, meski suami istri sama-sama bekerja, tanggung jawab merawat anaknya biasanya akan jatuh pada ibu.
Ini menunjukkan dalam lingkup rumah tangga, perempuan mengambil peran vital dalam mengurus anak-anak dibanding laki-laki.
Menjadi ibu di era 4.0 memang memiliki tantangan tersendiri. Ibu harus membuka diri (open minded) dan mau terus belajar mengikuti perubahan jaman yang tentunya diikuti dengan perubahan perilaku, karakter dan sikap anak-anak yang hidup di jaman ini. Teknologi yang ada bisa mendekatkan yang jauh, tetapi bisa pula menjauhkan yang dekat.
Karenanya, penting bagi seorang ibu untuk bisa menjalin keakraban dengan anak-anak melalui interaksi riil atau fisik dan kedekatan emosional yang intensif. Faktor terpenting tumbuh kembang anak adalah kedekatan ibu dan anak itu sendiri. Era Artificial Intelligence (AI) belum mampu menggantikan peran relasi emosi (bonding) dan kelekatan ibu-anak yang bersifat hakiki.
Hal ini menjadi tantangan terbesar ibu untuk mencukupi kebutuhan stimulasi untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan emosi anak. Karena hal itu membuat mereka memiliki jiwa yang sehat untuk menghadapi perubahan yang cepat dan drastic di masa dewasanya.
Seorang Ibu juga harus membekali anak-anaknya dengan soft skills supaya mereka dapat mengembangkan potensi dirinya dan menjadi pribadi yang memiliki daya adaptasi sosial dalam menghadapi tantangan abad ke-21 yang sangat akseleratif.
Pasalnya, ada anggapan ibu bekerja kerap menjadi faktor yang membuat anak tidak terdidik secara maksimal.
Oleh karena itu, para ibu harus memiliki ilmu dan kemampuan mendidik. Di era keterbukaan informasi saat ini, ibu juga dituntut untuk memperkuat wawasan dan memberikan literasi digital kepada anak-anak.
Dengan demikian, anak-anak dapat mengonsumsi produk teknologi yang konstruktid dan mampu memanfaatkan teknologi untuk hal-hal kreatif dan inovatif. Kesatuan visi orang tua menjadi kuncinya.
Keseimbangan peran ayah dan ibu akan menciptakan lingkungan keluarga yang paham fungsinya masing-masing saat duduk bersama atau pun saat beraktivitas dan berkarier di luar rumah.
Peringatan Hari Ibu 22 Desember ini mesti dijadikan momentum kaum ibu untuk terus belajar mengembangkan diri, baik untuk profesionalitas karier maupun perannya di keluarga, sebagaimana tuntutan di era 4.0. Dengan begitu, ibu benar-benar mengaktualisasikan emansipasi perempuan dan memiliki kepribadian yang hebat yang mampu menghadapi berbagai tantangan di era 4.0. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/perihal-status-honorer-lolos-pppk.jpg)