Breaking News:

Opini Pos Kupang

PERAN IBU 4.0 (Refleksi Peringatan Hari Ibu 22 Desember)

Pernyataan ini menekankan Peran perempuan tidak terbatas. Berbeda dengan laki-laki yang umumnya fokus mencari nafkah

PERAN IBU 4.0 (Refleksi Peringatan Hari Ibu 22 Desember)
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Oleh Rahmah Farida, SST, M.Si, Pegawai BPS Kabupaten Manggarai Barat

POS-KUPANG.COM - Man works from sun to sun, but woman's work is never done (Meleis; Lindgren, 2002). Pernyataan ini menekankan Peran perempuan tidak terbatas. Berbeda dengan laki-laki yang umumnya fokus mencari nafkah, perempuan berperan ganda, sebagai ibu rumah tangga dan berkarier untuk menambah pendapatan keluarga. Meski berat, kini banyak perempuan aktif berkarier.

Pada Agustus 2020 lalu, BPS mencatat angka tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan mencapai 53,13 persen. Artinya lebih dari separuh dari total perempuan berumur 15 tahun ke atas kini aktif berkarier. Ini menjadi fakta menarik. Perempuan tidak bisa dilihat sebagai pelengkap dan reproduksi dalam keluarga.

Baca juga: Air Mancur Menari

Mereka juga mampu memberikan sumbangan besar bagi kemajuan negara.
Ibu bekerja sudah menjadi hal lumrah. Bahkan untuk kalangan tertentu, ibu bekerja adalah sebuah keharusan. Banyak alasan yang melatarbelakangi seorang perempuan bekerja.

Sebagian besar alasan untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Ketika penyakit, bencana, kecelakan atau suami kehilangan sumber nafkah, maka ibu bekerja menjadi penyelamat ekonomi keluarga.

Baca juga: Satu Pasien Covid-19 di Kabupaten Sumba Timur Sembuh

Meski terkadang, ada juga kasus ibu yang bekerja di bawah tekanan keluarga, seperti karena suami yang tidak bertanggung jawab memberikan nafkah keluarga. Kondisi ini memaksa seorang ibu banting tulang memenuhi kebutuhan keluarga. Dampaknya bisa mempengaruhi kondisi psikologisnya.

Sebuah penelitian kolaborasi dari University of Manchester dan University of Essex di Inggris pernah menganalisis data dari lebih dari 6.000 responden. Hasilnya, 40 persen dari kaum ibu yang bekerja dan mengurus anak rentan terkena stress kronik.

Konflik keluarga-pekerjaan makin meningkatkan ketegangan psikologis, dengan tingkat stress yang lebih tinggi dan kesejahteraan yang lebih rendah. Tiara Puspita, psikolog dan konselor di International Wellbeing Center (IWC), juga mengatakan masih sering menemukan fenomena pembagian peran ibu-ayah di rumah yang belum seimbang.

Selain alasan ekonomi, seorang ibu juga memilih bekerja untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya sebagai sarana aktualisasi diri ataupun meningkatkan status diri di masyarakat.

Penelitian Rahaju, dkk (2012) menemukan 12 persen motivasi ibu bekerja untuk mengimplementasikan ilmunya. Perempuan dengan pendidikan tinggi berusaha mengaplikasikan kompetensinya dalam berbagai sektor pekerjaan. Bekerja bukan hanya semata mencari penghasilan, namun untuk mengasah keterampilan dan memajukan pola pikir. Selain itu, ibu yang berkarier bisa menjadi role model bagi generasinya di masa dewasa mereka.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved