Opini Pos Kupang
Menalar Anomali Pilkada Serentak
Pelaksanaan Pilkada Serentak 9 Desember 2020 telah berlalu. Kecemasan banyak pihak bahwa pesta demokrasi akbar tahun ini akan berubah
Karena itu, calon baru menang karena mengeksplorasi dan mengeksploitasi wilayah kosong yang tidak dijamah petahana ini. Calon baru datang layaknya keluarga konstituen, dengan perawakan miskin, tidak memiliki uang.
Justru tidak memakai uang di hadapan warga, lebih dipercaya warga, mengambil hati warga. Bahkan di daerah tertentu, paslon baru diberi sapi oleh warga sebagai dukungan.
Kemungkinan ketiga, kemenangan paslon baru merupakan efek jauh dari fenomena Jokowi-Ahok. Banyak orang NTT menjadi melek politik karena fibrasi jejak politik kolaborasi persahabatan politik Jokowi-Ahok hingga saat ini. Jowoki-Ahok dikultuskan.
Idealisme politik dan karakter kedua sosok ini didewakan. Karena itu, orang NTT pasti membenci paslon yang berbau KKN dan atau berasal dari kalangan kaya.
Maka, bila paslon mengandalkan kekuatan finansial dan kekuasaan jaringan oligarki, Anda salah alamat.
NTT bukan tempatnya untuk bertransaksi politik dan memburu rente. Pilkada NTT kali ini menunjukkan potret demokrasi yang sebenarnya: mengembalikan kekuasaan ke tangan masyarakat sipil. Kekuatan politik di NTT ada pada relasi keluargaan, "class-action" dan aliansi-aliansi masyarakat sipil. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/perihal-status-honorer-lolos-pppk.jpg)