Opini Pos Kupang
Menalar Anomali Pilkada Serentak
Pelaksanaan Pilkada Serentak 9 Desember 2020 telah berlalu. Kecemasan banyak pihak bahwa pesta demokrasi akbar tahun ini akan berubah
Bila "Machenschaf" dan "Gestell" memakai paradigma "enfraiming" yang mengamputasi realitas heterogen berdasarkan trajektori tertentu seperti kalkulabilitas, kecepatan, reproduksi, "Geviert" bermain dengan pola seni, yakni membiarkan segala sesuatu "coming into presence", "bringing into appearance", "let things be" (Bdk. Later Heidegger dalam Origin of the Work of Art, 1935).
Kategorisasi di atas berimbas pada dua gagasan dasar politik: "The political" mengindikasikan dimensi ontologis masyarakat, sedangkan "the politics" mengacu pada dimensi ontis masyarakat seperti praktek-praktek konvensional politik (Oliver Marchart, 2007). Sebagai "the political", politik tidak pernah memiliki fondasi atau substansi untuk direpresentasi. Jangan mencari moralisme di arena politik. Anda salah alamat.
Sebagai "the politics", praksis politik tidak pernah memakai satu pola yang universal. Realisme politik selalu kontingen.
Gagasan semacam ini mengekor pandangan Niccolo Machiavelli yang disebut para teoritisi politik "the moment of machiavelism". Machiavelli dikenal dengan adagium klasiknya "the end excuses the means", tujuan membolehkan cara apapun (Bdk. E. A. Rees 2004). Ide Machiavelli sebenarnya sudah didahului Cardinal Richelieu (Henry Kissinger, 1997).
Seni tidak kaku normatif, konvensional-konservatif, ritualis, dan moralis. Seni selalu berdaya kreatif, anti-fondasionalisme dan representasionalisme, partikular, arbitrer, dan imajinatif.
Politik sebagai seni adalah paradigma baru iklim berpikir postmodern. Jean Francois Lyotard meringkaskan iklim postmodern sebagai "anything goes" (Simon Malpas, 2003). Apapun boleh di dalam dunia politik.
Sebagai seni, praksis politik tidak mematok doktrin apapun untuk menakar dan menentukan strategi tertentu sebagai baik, benar, dan menang dalam sayembara politik. Setiap politisi bisa memakai cara apapun.
Yang penting bukan esensi dan substansi, melainkan taktik untuk memenangkan pertarungan. Etika tidak dipakai. Orientasi utama pada kekuasaan, "tools"nya boleh apa saja.
Dari perspektif ini calon baru menang bisa dipahami sebagai kemunculan racikan pendekatan-pendekatan baru yang tidak konvensional yang selama ini raib dari mata petahana, oligarki, dan partai politik penguasa. Cara-cara seperti apa? Berikut kemungkinannya.
Kedua, Michel Foucault memandang relasi kekuasaan itu tidak terlembaga. Jadi bukan monopoli kaum elit yang biasa menguasai relasi makro-politik. Kekuasaan justru beroperasi efektif di dalam relasi mikro-politik seperti relasi keluarga antara suami-istri, orangtua-anak, kakak-adik, dan tetangga (Bdk. Haryatmoko, 2016).
Dari sudut ini, petahana kalah karena mengandalkan taktik lama yang konvensional seperti kekuatan uang dan kekuasaan partai politik, birokrasi, dan jaringan oligarki yang sarat KKN.
Paslon baru tahu kalau masyarakat sudah melek terhadap perilaku koruptif yang `indebted' di dalam pola konvensional di atas. Bila Anda berpretensi membeli suara warga dengan uang, mereka menerima uangnya di depan Anda. Namun di bilik rahasia TPS, pemilih adalah penguasa atas suaranya.
Konstituen lebih mudah dipengaruhi orang dekatnya daripada orang jauh, apalagi yang memakai uang dan koersi kekuasan dengan transparan. Kekuasaan di dalam relasi mikro politik berkarakter simbolik, implisit, tidak kelihatan, tetapi justru itu efektif.
Seorang istri mengikuti pilihan suaminya karena yakin pilihan suami yang terbaik, padahal ia tidak sadar kalau sedang dikuasi preferensi suami. Seorang anak mencoblos paslon idola orangtuanya karena percaya orangtuanya lebih benar, apalagi bila orangtuanya berpendidikan tinggi.
Seorang adik mendukung pilihan kakaknya karena yakin kakak lebih tahu. Keluarga lebih mudah digiring tetangganya yang selama ini berbagi garam dan minyak goreng dengan mereka daripada politisi yang datang dengan banyak uang di musim Pilkada.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/perihal-status-honorer-lolos-pppk.jpg)