Opini Pos Kupang
TJPS, antara Harapan dan Kenyataan
Kegiatan menanam jagung secara masal pernah dilakukan mantan Gubernur almarhum Ben Mboi dengan program Operasi Nusa Makmur ( ONM)
Program TJPS "kedengarannya" menarik, tetapi pelaksanaannya untuk mencapai tujuan terbilang sulit apalagi pada musim panas.
Pada musim tanam waktu hujan saja kalau tidak dilaksanakan secara terencana dan sistimatis belum tentu juga berhasil. Lagi pula, mengapa hal yang sebenarnya mudah, dibuat rumit ? Urus peningkatan produksi saja masih butuh upaya sungguh-sungguh, apalagi harus dikaitkan dengan pembelian sapi.
Sederhananya, kalau petani mempunyai uang, banyak sekali kebutuhannya. Seandainya bisa membeli sapi pun, masih ada soal lain menanti, seperti penyediaan pakan ternak, dan urusan kesehatan hewan.
Sejak berkurangnya padang penggembalaan secara drastis akibat dari pertambahan penduduk, petani tidak bisa lagi mengandalkan rumput di padang, tetapi harus menanam pakan ternak.
Dengan demikian bagaimana nasib TJPS dimasa datang ? Melihat begitu banyak kendala yang menghambat keberhasilannya, pemimpin bijak mestinya memilih memusatkan perhatian pada satu sektor saja demi mengurangi resiko.
Para petani sudah senang kalau Pemerintah membantu mereka meningkatkan produksi dan peroduktivitas tanaman jagung. Kalau ada kecukupan pangan dan hasil masih lebih, arahkan mereka untuk memanfaatkan kelebihan sesuai kebutuhan dan kemampuannya. Karena banyak petani juga memelihara ternak, berilah kemudahan untuk bisa membeli sapi.
Selanjutnya Dinas Peternakan ditugaskan untuk membantu peternak agar hewan peliharaannya diurus sesuai petunjuk/bimbingan yang ada. Jelasnya, Dinas Pertanian dan Peternakan melaksanakan tugas sesuai job description dan hindari urusan kordinasi yang rumit pelaksanaannya.
Sebenarnya Pemprov NTT sudah mempunyai program yang dapat menjawab tuntutan TJPS yaitu GEMA AGUNG (Gerakan masyarakat Agrobisnis Jagung),mengapa adopsi TJPS yang bermasalah ? Pernah diberitakan bahwa Pemprov NTT mencanangkan Program Gema Agung bekerjasama dengan BPTP NTT.
BPTP mendorong petani untuk mengembangkan bibit jagung varitas NASA 29 yang dilakukan di Desa Oeteta-Kecamatan Sulamu-Kabupaten Kupang oleh Kelompok Tani "SEHATI".
Diperkirakan kalau panen 1 hektar bisa menghasilkan 13 ton jagung, karena ada pendampingan PPL dari BPTP mulai dari proses awal pembersihan lahan, penanaman hingga pemupukan. Setiap minggu PPL turun kelapangan melihat perkembangan dan member masukkan. Pola Tanam yang digunakan ialah double track (Pos Kupang, 29 Pebruari 2020).
Memang pasti mahal, tetapi ada jaminan keberhasilan dan produksinya 10 kali lebih besar dari pada TJPS. Ditangan BPTP dan PPL harapan kesuksesan Gema Agung bisa menjadi kenyataan, apalagi sudah teruji. Seharusnya program Gema
Agung ini yang dikembangkan dan disebar keseluruh kabupaten. Cita-cita meningkatkan ketahanan pangan, menaikkan pendapatan rakyat dan membeli sapi pasti tercapai dan juga cita-cita Gubernur NTT untuk mendirikan pabrik pakan ternak bisa terwujud.
Program Gema Agung gagasan asli Victor Yos harus didukung, dan masyarakat mendorong Pemprov NTT untuk percaya diri dengan melanjutkan program tersebut karena ada jaminan keberhasilan,dan BPTP adalah lembaga yang kompeten.
Sayang masyarakat tidak mendengar pendapat dan tanggapan anggota DPRD NTT tentang masalah menyangkut perut rakyat ini. Sejak program TJPS dicanangkan dan dilaksanakan hingga ketahuan hasilnya yang kurang memuaskan.
Seharusnya para wakil rakyat di DPRD NTT bisa mengusulkan kepada Pemerintah agar bijak memilih untuk melaksanakan Gema Agung yang lebih prospektif. Jangan biarkan Gubernur dan wakilnya berjalan sendiri. Hal ini begitu penting, karena masalah ketahanan pangan adalah soal hidup matinya rakyat, dan karenanya butuh kepekaan dan kepedulian wakil rakyat sebagai bukti keberpihakan kepada rakyat yang telah memilihnya. Jangan rakyat hanya dibutuhkan jika mencari suara, dan lupa setelah duduk dikursi empuk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/perihal-status-honorer-lolos-pppk.jpg)