Opini Pos Kupang
Jagung di Musim Asep : Bisa
Fakta Kembali, Jumat 30 Oktober 2020 Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) memanen jagung di Desa Pariti Kecamatan Sulamu
Oleh : Bernard de Rosari, Peneliti BPTP Balitbangtan NTT dan Anggota Tim Ahli TJPS
POS-KUPANG.COM - Fakta Kembali, Jumat 30 Oktober 2020 Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) memanen jagung di Desa Pariti Kecamatan Sulamu dan Desa Poto Kecamatan Fatuleu Barat. Kedua desa ini bersama desa-desa yang masuk dalam Program TJPS ( Tanam Jagung Panen Sapi) lainnya yang tersebar pada enam belas kabupaten di NTT yang menanam jagung di musim kedua atau periode April-September ( ASEP) 2020 dalam hitungan musim tanam atau dikenal juga musim kemarau (MK).
Desa-desa yang lain sudah panen misalnya di Manggarai Barat, Belu dan Malaka, serta akan diikuti desa-desa lainnya yang juga telah siap panen. Tanam jagung di musim kedua atau MK bisa, kenapa tidak?
Baca juga: Virus Corona dan Zona Pendidikan
Sesungguhnya untuk wilayah NTT, ketika musim hujan terkadang mengalami gangguan, sebut saja kekeringan, keterlambatan datangnya hujan, eratik dan menyebabkan banjir, maka menanam jagung dimusim kemarau harusnya lebih pasti karena dapat dikontrol terutama faktor air.
Beberapa data terbaru tentang kinerja usaha tani jagung NTT (Mullik, dkk 2020) kiranya perlu ditampilkan; rata-rata luas lahan yang digarap untuk menanam jagung 0,8 ha per petani, terdiri atas 1-2 parsil.
Jumlah anggota tiap rumah tangga tani berkisar antara 4-6 orang dan memiliki 2-3 orang tenaga kerja produktif. Tenaga kerja produktif adalah anggota keluarga yang bekerja di pekerjaan usaha tani maupun non usaha tani, bekerja dalam rumah maupun luar rumah yang bertujuan mendapatkan pendapatan uang.
Baca juga: Siap KBM Tatap Muka, SMPK Frateran Ndao Ende Terbitkan Pedoman
Dari komposisi keberadaan tenaga kerja produktif, luas tanam dan parsil serta ada pekerjaan selain usaha tani jagung, juga pekerjaan non pertanian termasuk kegiatan sosial kemasyarakatan, maka praktis perhatian petani ke usaha tani jagung tidak optimal.
Produktivitas jagung tingkat petani baru mencapai 1,32 ton/ha. Rata-rata kebutuhan jagung untuk tiap rumah tangga tani mencapai 0,64 ton/KK/tahun, yang terdiri atas 0,37 ton untuk pangan dan 0,26 ton untuk pakan.
Adanya sumber daya lahan, tenaga kerja, produktivitas yang masih rendah yang dapat ditingkatkan melalui intensifikasi dan perluasan areal, serta fenomena konsumsi jagung yang relatif rendah, maka mendorong produksi jagung lebih tinggi untuk tujuan komersial berpeluang besar untuk dikerjakan. Salah satu jalan melalui menanam di musim kedua.
Ini suatu "Peradaban Baru", kata Gubernur VBL di suatu kesempatan. Petani kita selama ini selesai panen jagung yang ditanam di musim hujan (MH) periode Oktober Maret (OKMAR) selanjutnya lahan dan sumber daya lainnya dibiarkan.
Dengan menanam double musim, pasti akan memberikan pendapatan bagi keluarga sepanjang tahun, menjaga ketahanan pangan rumah tangga, serta mendistribusi risiko karena sumber pendapatan rumah tangga berlapis.
Ada yang salah ketika petani NTT menanam jagung dua kali setahun dalam luas lahan tertentu layaknya menanam jagung seperti biasa periode musim hujan? Tidak sama sekali. Namun menanam jagung musim kedua harus lebih hati-hati terutama; (a) dalam memilih lahan yang akan ditanam.
Lahan utama yang akan dijadikan lahan jagung musim kemarau yaitu lahan yang dekat dengan sumber air, misalnya kali, embung atau aliran sungai, juga lahan yang telah memiliki sumur.
Dengan demikian memanfaatkan semua sumber daya yang ada akan memberikan kebaikan dan kesejahteraan bagi petani dan masyarakat umumnya, (b) serangan hama penyakit juga relatif tinggi.
Saat ini masih terdapat hama ulat grayak (FAW) dan belalang pada beberapa wilayah. Pengendalian hama penyakit secara terpadu akan memberikan hasil yang optimal, dan (c) pemasaran dan harga jual yang memberi semangat pada petani untuk berusaha tani jagung.