Opini Pos Kupang
Jagung di Musim Asep : Bisa
Fakta Kembali, Jumat 30 Oktober 2020 Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) memanen jagung di Desa Pariti Kecamatan Sulamu
Tantangan
Karena suatu tata cara, kebiasaan baru, maka banyak permasalahan dan kendala yang dihadapi. Inovasi dan teknologi sudah banyak tersedia, siap untuk diimplementasi, namun hal yang paling berat adalah internal dalam diri semua pelaku kegiatan.
Petani misalnya, belum terbiasa untuk bekerja di musim kemarau, menjadi tantangan tersendiri. Mengajak dan memberikan motivasi bagi petani harus terus menerus dilakukan.
Dari semua tantangan yang dihadapi, persoalan merubah cara pikir (mind set) dan orientasi usaha merupakan poin yang dianggap cukup berat. Pada wilayah tertentu, jangankan menanam jagung di musim kedua, menanam jagung saja dianggap "tabu" karena pasti tidak akan berhasil.
Pola pikir seperti ini harus diubah, bahwa untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, tidak lain dan tidak bukan harus memanfaatkan sumberdaya yang ada secara optimal.
Permasalahan penting kedua, adanya ternak lepas terutama sapi.
Pada wilayah tertentu misalnya di datar Bena, Kabupaten TTS setelah panen padi Musim Tanam I (musim hujan), maka lahan pertanian menjadi lahan penggembalaan sapi.
Sapi dilepas dan mencari makan sisa-sisa panenan dan rerumput yang ada. Juga pada wilayah lainnya misalnya di TTU, Belu, dan Malaka serta seluruh Sumba, musim kemarau adalah musim melepas sapi untuk mencari makan pada lahan bekas sawah atau ladang.
Pada kondisi ini tanaman yang ditanam di musim kedua harus diberi pagar (istilahnya tanaman dikandangkan). Persoalan ini juga menjadi penting untuk dibahas bersama baik secara lokal (desa dan kecamatan) juga sampai tingkat kabupaten dan provinsi, bagimanapun usaha ternak dan tanaman harus berjalan, hidup bersama memanfaatkan sumberdaya yang ada.
Kendala lain adalah pada musim kemarau biasanya debit air menurun cukup besar, sehingga harus benar diperhitungkan luas lahan yang akan ditanam sesuai perkiraan sisa air pada puncak kemarau.
Jagung sesungguhnya tergolong tanaman yang tidak membutuhkan air yang banyak. Pemberian air pada periode penting dalam siklus hidup jagung sudah cukup untuk memperkirakan akan mendapatkan hasil.
Multiplier Effect
Memperkenalkan cara baru ke petani bahwa sesungguhnya dengan tersedianya lahan, air, serta sarana produksi, misalnya benih unggul, pupuk, pestisida maka petani lahan kering dapat meningkatkan indeks penanaman (IP) dari satu kali menanam menjadi dua kali akan membuka kesempatan bekerja dan peluang berusaha di suatu wilayah.
Indeks penanaman (IP) yang awalnya satu kali, menanam di musim hujan saja meningkat menjadi dua kali akan memberikan tambahan kekuatan ketahanan pangan keluarga dan akan meningkatkan peluang mendapatkan uang dari penjualan jagung. Misalnya dalam konteks TJPS petani berpeluang membeli sapi atau ternak lainnya, memanfaatkan by product jagung untuk diolah menjadi pakan.
Disamping menanam jagung, juga terbuka kesempatan berusaha tani lain, karena memiliki daya kreativitas untuk menamam jenis tanaman lainnya.
Dampak lainnya yaitu terbukanya kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Apabila usaha tani jagung dilakukan dua kali, maka terbuka kesempatan untuk menyerap tenaga kerja misalnya tenaga kerja untuk mengolah lahan, sewa traktor, mengupah tenaga kerja tanam, menyiang gulma, dan panen.