Opini Pos Kupang

Media dan Pilkada yang Demokratis di Tengah Pandemi Covid-19

Di tengah semarak pesta demokrasi dalam Pilkada kali ini rupanya membawa atmosfer berbeda dari Pilkada sebelumnya akibat dari Covid-19

Editor: Kanis Jehola
zoom-inlihat foto Media dan Pilkada yang Demokratis di Tengah Pandemi Covid-19
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Rakyat sebagai public interst yaitu orang berhak untuk ikut serta dalam penyelenggaraan pemerintah, ikut menyalurkan kehendak publik, serta ikut berbincang untuk kepentingan umum dalam sistem demokrasi bangsa kita merupakan kunci utama dari demokrasi itu sendiri.

Namun melihat kasus-kasus yang terjadi, semisalnya dalam media sosial dengan menggunakan akun-akun palsu menjadi hal yang miris bagi jalannya Pilkada kali ini dalam sistem demokrasi.

Hadirnya akun-akun palsu dalam media sosial yang saling mengumbar-umbar dan mengkambing hitamkan para calon pemimpin daerah tertentu menjadi pertanyaan tersendiri bagi proses jalannya demokrasi saat ini.

Mengapa ada akun-akun palsu di negara kita ini. Bukankah demokrasi memberikan kesempatan kepada setiap warganya untuk ikut serta dalam penyelenggaraan politik sebagai publik interst.

Warga yang Demokratis

Warga yang demokratis adalah warga yang mempunyai keberanian untuk menyampaikan pendapatnya sendiri secara bebas dan bertanggungjawab penuh atas pendapatnya tersebut demi mencapai sebuah perjuangan. Sayangnya jika kita melihat hal tersebut dalam konteks pilkada dengan tampilnya akun palsu tentunya menjadi sebuah lelucon tersendiri bagi jalannya demokrasi.

Hal ini dikarenakan warga sendiri sebagai public interst takut untuk menyampaikan pendapatnya secara terbuka kepada setiap paslon.

Dalam berbagai pemahaman orang coba memberi pemahaman mengapa sampai orang takut menyuarakan suaranya. Pertama, adanya penguasa yang sangat dominan ini bisa kita lihat dalam gaya kepemimpinan Soeharto pada masa orde baru. Rakyat yang menyuarakan suaranya pastinya menjadi bulan-bulanan para pemimpin waktu ini.

Hal ini juga hemat saya yang sedang terjadi sekarang ini. Akun-akun palsu merupakan bukti bahwa masyarakat takut untuk menyuarakan suaranya secara terbuka kepada pemimpin yang adalah penguasa masyarakat bukan pengayom masyarakat.

Kedua adanya politik kepentingan dari kalangan-kalangan tertentu menjadi bahaya tersendiri dari berpolitik masa kini. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai macam postingan, komentar lepas yang menjelek-jelekkan atau bahkan menyebarkan berita hoaks kepada satu calon kepala dearah dan mengangkat calon tertentu sebagai calon pemimpin yang terbaik.

Dengan demikian muncul juga politik kambing hitam di mana orang menggunakan akun-akun palsu untuk komentar-komentar lepas mengenai calon pemimpin daerah yang akan dipilih dengan berita-berita hoaks maupun berita buruk bagi pasangan calon yang menjadi lawan dari partai-partai tertentu.

Oleh karena itu marilah kita secara aktif terlibat dalam politik yang sehat sebagai warga negara yang berani berpendapat secara terbuka dan bertanggungjawab untuk terlibat aktif dalam Pilkada kali ini bukan sebagai pemain di belakang layar tetapi pemain utama karena sejatinya demokrasi yang sejati berasal dari kita sendiri sebagai publik interst yaitu orang berhak dan berani untuk ikut serta dalam penyelenggaraan pemerintah, ikut menyalurkan kehendak publik, serta ikut berbincang untuk kepentingan umum dalam sistem demokrasi bangsa kita ini di mana demokrasi merupakan kunci utama dari jalannya roda pemerintahan di negara kita yang tercinta ini, dan sebagai pemerintah hendaknya bersifat terbuka dalam mengayomi masyarakat baik itu menyangkut kritikan dari warganya, demi membangun apa yang menjadi tujuan dari politik itu sendiri yaitu kebaikan bersama demi menanti Pilkada dalam masa-masa tenang yang akan datang sampai Pilkada 2020 pada bulan Desember. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved