Breaking News:

Opini Pos Kupang

Investasi di Rinca, Madu atau Racun?

Di jagad media sosial ramai diperbincangkan soal rencana pemerintah dan swasta mau melakukan investasi di Pulau Rinca

Investasi di Rinca, Madu atau Racun?
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh: Zoe Monica Kenchana Jaya, Dokter Gigi, dan Penggemar Wisata Bahari tinggal di Jakarta

POS-KUPANG.COM - Beberapa pekan terakhir, di jagad media sosial ramai diperbincangkan soal rencana pemerintah dan swasta mau melakukan investasi di Pulau Rinca, kawasan Taman Nasional Komodo. Investasi pemerintah berupa pembangunan sejumlah infrastruktur skala senilai Rp 902,47 miliar. Benarkah investasi tersebut bisa menjadi madu bagi kawasan wisata itu?

Pembangunan infrastruktur tersebut menurut Menteri PUPR Basuki Hadimoeljono direncanakan secara terpadu melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Yang dibangun antara lain dermaga, sistem pengelolaan air minum, jalan gertak, pusat informasi, pos istirahat, pos jaga dan pengaman pantai.

Bedah Rumah Program Populis

nfrastruktur yang dibangun pemerintah ini sepertinya hanya penunjang. Maklum, saat yang sama ada pula pemberian izin investasi pengelolaan Pulau Rinca bernama investasi sarana pariwisata alam kepada perusahaan swasta, yakni PT Sagara Komodo Lestari dengan lahan seluas 22,1 hektar. Di atas lahan itu, investor swasta ini ingin membangun kurang lebih sembilan jenis fasilitas antara lain villa, restoran, penginapan dan perkantoran.

Perlu diingat bahwa Rinca bukanlah pulau yang besar. Pulau yang menjadi salah satu habitat Komodo itu memiliki luas hanya 198 kilometer persegi. Dengan luas hanya seperti itu, maka investasi ini bukankah hanya akan mempersempit ruang gerak hewan komodo dan hewan lainnya di Pulau Rinca.

Sosok Ini Bongkar Cinta Sejati Anang Hermansyah, Bukan Ashanty Krisdayanti Tapi Wanita Cantik Ini

Kawasan Komodo dijadikan taman nasional sesungguhnya sebagai salah satu upaya untuk melindungi hewan purba raksasa, satu-satunya warisan dunia ini dari kepunahan. Data pengelola Taman Nasional Komodo menyebutkan pada tahun 2018 populasi hewan ini sebanyak 2.897 ekor. Jumlah ini menurun dibanding tahun 2014 sebanyak 3.093 ekor. Dari populasi itu, sekitar 36 persen tersebar di Pulau Rinca, sedangkan di Pulau Komodo sekitar 59 persen. Sisanya berada di Pulau Gili Motang, Pulau Nusa dan Pulau Padar.

Dalam beberapa tahun terakhir, Komodo telah menjadi magnet yang luar biasa bagi wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Pada tahun 2018, misalnya, kurang lebih 176.830 orang wisatawan asing yang berkunjung ke Komodo, dimana 9,17 persen di antaranya datang menggunakan kapal pesiar (cruise).

Keunikan parwisata di kawasan perairan Komodo adalah kumpulan pulau-pulau kecil yang letaknya tidak terlalu berjauhan. Masing-masing pulau memiliki pantai yang indah dan menawan dengan laut yang bersih disertai taman laut yang menarik. Para wisatawan bisa menghabiskan waktu berhari-hari di atas kapal kayu (phinisi) sembari mengunjungi lokasi-lokasi yang menarik di kawasan itu. Ini yang berbeda dengan tempat wisata lain di Indonesia, termasuk Bali.

Melihat potensi yang besar ini, pemerintah pun menetapkan Labuan Bajo sebagai satu dari 10 destinasi baru pendamping Bali. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara hingga 25 juta orang pada tahun 2024. Itu sebabnya, salah satu dukungan infrastruktur premium dilakukan dengan membangun sarana dan prasarana wisata alam di Pulau Rinca.

Rinca Dalam Bahaya

Selama ini sudah banyak studi dari para ahli dan pegiat lingkungan tentang dampak industri pariwisata terhadap ekosistem lingkungan di suatu kawasan. Studi-studi tersebut umumnya mengungkapkan bahwa pembangunan infrastruktur skala besar di sebuah kawasan taman nasional cenderung menimbulkan degradasi lingkungan.

Habitat flora dan fauna di dalam kawasan itu menyempit. Polusi meningkat, apalagi diperparah dengan pembuangan limbah yang tidak terkendali. Kondisi ini memberi efek negatif pada udara, tanah, dan air di wilayah destinasi wisata tersebut. Emisi gas yang dibuang dapat menyebabkan pengasaman lingkungan, yang dapat merusak situs destinasi warisan dunia dan hutan, bahkan di beberapa destinasi wisata lain hujan asam merusak bangunan dan monumen dengan nilai bersejarah, serta ditemukannya zat beracun di dalam tanah. Ancaman lain yang dapat ditimbulkan adalah masalah kabut asap.

Polusi suara atau kebisingan yang dihasilkan alat pembangunan dapat menyebabkan kepanikan pada hewan sehingga meninggalkan habitat mereka dan menyebar, mengganggu pola migrasi. Bukan tidak mungkin mengarah pada desersi bayi, termasuk hewan yang baru lahir, belum lagi jejak karbon yang dihasilkan.

Pembangunan infrastruktur dekat pantai juga akan dipengaruhi moda transportasi dan lalulintas laut (yang menyebabkan adanya konsumsi bahan bakar) yang dapat menyebabkan pencemaran air sehingga dapat merusak reputasi destinasi di mana elemen air menjadi daya tarik utama.

Di sisi lain, kehadiran manusia di lokasi tempat tinggal satwa liar menciptakan respons monumental, yang pada gilirannya akan meresap keseluruh ekosistem -seperti efek riak.

Halaman
12
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved