Lembata
Video-Hadapi Pandemi Covid-19 di Lembata, SMP Negeri I Nubatukan Hadirkan Radio Edukasi
Pandemi Covid-19 telah memaksa semua siswa untuk tetap belajar dari rumah. Namun faktanya online bukan milik semua siswa.
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: John Taena
Saat itu, Melkior mengungkap kembali beberapa kelemahan yang para guru dan siswa temui kala pembelajaran daring, di antaranya yaitu; tidak semua guru menguasai teknologi digital, apalagi implementasinya dalam pembalajaran.
Dikatakannya, "Pandemi menyerang dan kita kaget setengah mati.”
Disebutkannya, setelah dilakukan pendataan terhadap 743 siswa SMPN 1 Nubatukan, ditemukan kalau siswa yang mempunyai perangkat ponsel android sekitar 200-an siswa.
Selain itu ada sekitar 200 siswa yang mempunyai akun media social namun tapi tidak mempunyai perangkat ponsel dan masih memanfaatkan ponsel orangtua.
Sementara sisanya adalah para siswa yang tidak punya akun media sosial dan perangkat android sama sekali.
Fakta ini membuat pihak sekolah mulai berupaya membuat inovasi terbaru. Inovasi pertama yang dibuat yakni bimbingan teknis teknologi informasi untuk pembelajaran daring kepada guru dan siswa.
• Video-BREAKING NEWS: Seekor Ikan Paus Terdampar di Pantai Nunhila Kota Kupang
• Video-Mudah Dijangkau, Warga Kota Bajawa Lebih Memilih Wisata Alam Air Panas Mengeruda
• Video-Tradisi Kawin Tangkap Sudah Berlangsung Sejak Leluhur Orang Sumba Mendiami Bumi Marapu
Inovasi berikut yang dibuat yakni radio edukasi dengan pertimbangan frekuensi radio bisa menjangkau semua siswa tanpa perlu membeli perangkat ponsel android dan paket data internet.
"Dia tidak butuh pulsa data jadi tidak ada keluhan itu lagi. Kita tidak bergantung pada tower Telkomsel lagi tapi pakai frekuensi radio. Ponsel apa saja bisa tangkap frekuensi radio," papar Melkior.
Melalui inovasi radio edukasi ini, sekolah pun langsung melakukan sosialisasi kepada orangtua pada 13-15 Juli 2020.
"Kemudian, radio edukasi juga menolong orangtua dan anak yang tidak punya android. Jadi bukan hape android juga bisa dapat. Konsep siarannya edukatif dan hiburannya sehingga anak tidak bosan," urainya.
Mekanisme siarannya, kata Melkior, akan ada modul sebagai materi siaran. Di setiap mata pelajaran ada guru yang akan jadi penyiarnya. Orangtua juga sudah memegang roster siaran pembalajaran.
Radio juga didesain online dan offline. Orangtua juga bisa mengakses dokumentasi audio visual pembelajaran. Juga ada rekaman dokumentasi yang masuk dalam website sekolah.
"Radio edukasi ini kalau boleh bukan hanya milik spensa tapi bisa dikembangkan untuk pendidikan di Lembata," harapnya kepada Pemerintah Kabupaten Lembata.
Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday mengklaim kalau Radio Edukasi Spensa FM merupakan radio pendidikan pertama yang ada di Lembata dan bahkan di Provinsi NTT.
"Ini namanya inovasi. Sebuah inovasi berangkat dari masalah dan masalah itu baik terkait para guru dan anak didik yang sulit lakukan proses belajar mengajar dengan tatap muka.