Radio Edukasi Spensa FM Jangkau Siswa Yang Tak Punya Android dan Internet di Lembata
Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday telah meresmikan Radio Edukasi Spensa FM 99,9 Mhz di SMPN 1 Nubatukan
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday telah meresmikan Radio Edukasi Spensa FM 99,9 Mhz di SMPN 1 Nubatukan, Lewoleba, Senin (27/7/2020).
Radio edukasi yang dibuat manajemen SMPN 1 Nubatukan ini menjawabi kegelisahan orangtua dan para siswa yang tak punya perangkat ponsel android dan paket data internet untuk bisa mengikuti pembelajaran secara daring.
SMPN 1 Nubatukan merupakan salah satu sekolah di Lembata yang tak pernah habis berinovasi demi pembelajaran kepada para siswa di tengah pandemi corona.
• Awasi Coklit Bawaslu Sumba Barat Temukan Data Orang Meninggal & Wajib Pilih Belum Terekam E-KTP
Dibantu para teknisi radio ternama di Lembata seperti Konradus Roma, Yakobus Kowa, Stanislaus Ramos dan Valbo, radio edukasi ini pun berhasil mengudara dalam rangka pembelajaran kepada para siswa.
Kepala SMPN 1 Nubatukan Melkior Muda Making mengatakan Radio Edukasi Spensa FM adalah inovasi sekolah yang lahir karena pandemi Covid-19 selama ini.
Kata Melkior, radio edukasi ini merupakan langkah terobosan dari refleksi manajemen sekolah perihal bagaimana 743 siswa SMPN 1 Nubatukan belajar dari rumah dan ternyata di antara mereka masih banyak yang belum memiliki perangkat android.
"Radio ini hadir karena inovasi sekolah yang menuntut semua guru berinovasi menjawabi situasi saat ini," ungkap Melkior yang tetap mengakui kalau profesi guru tetap tidak bisa digantikan oleh orangtua.
Manajemen SMPN 1 Nubatukan ini melakukan permenungan untuk melihat kembali kekuatan dan kekurangan ketika pandemi Covid-19 merebak Maret-Juni dan semua aktivitas pembelajaran memakai sistem dalam jaringan (daring) dari rumah masing-masing.
Saat itu, Melkior mengungkap kembali beberapa kelemahan yang para guru dan siswa temui kala pembelajaran daring, di antaranya yaitu; tidak semua guru menguasai teknologi digital, apalagi implementasinya dalam pembalajaran.
"Pandemi menyerang dan kita kaget setengah mati," ungkapnya.
Disebutkannya, setelah dilakukan pendataan terhadap 743 siswa SMPN 1 Nubatukan, ditemukan kalau siswa yang mempunyai perangkat ponsel android sekitar 200-an siswa.
Lalu sskitar 200-an lainnya mempunyai akun media sosial tapi tidak mempunyai perangkat ponsel dan masih memanfaatkan ponsel orangtua.
Lalu sisanya adalah para siswa yang tidak punya akun media sosial dan perangkat android sama sekali.
Manajemen sekolah pun mulai berupaya membuat inovasi terbaru. Inovasi pertama yang dibuat yakni bimbingan teknis teknologi informasi untuk pembelajaran daring kepada guru dan siswa.
Lalu kemudian, inovasi berikut yang dibuat yakni radio edukasi dengan pertimbangan frekuensi radio bisa menjangkau semua siswa tanpa perlu membeli perangkat ponsel android dan paket data internet.