Covid 19
Catatan WHO Soal Covid-19 di Indonesia, Kapasitas Tes Masih Rendah
Organisasi Kesehatan Dunia WHO telah menerbitkan laporan situasi virus corona di Indonesia.Catatan WHO Soal Covid-19 di Indonesia
POS-KUPANG.COM|JAKARTA -
Laporan tersebut dikeluarkan oleh WHO secara berkala dengan memberi sejumlah catatan untuk kasus Covid-19 di Indonesia tiap minggunya.
Dalam laporan itu, WHO menyoroti tes swab atau PCR di Indonesia yang berfokus pada tindak lanjut pasien positif Covid-19 yang akan dipulangkan.
Sementara WHO mengingatkan agar tes PCR seharusnya diprioritaskan pada diagnosis kasus pasien dalam pengawasan ( PDP) dan orang dalam pemantauan ( ODP).
• Hana Hanifah Dibayar Pria Hidung Belang Rp 20 Juta, Status Pacar Kris Hatta Hanya Saksi
Sebab, WHO telah memperbarui panduan manajemen klinis untuk pasien Covid-19 yang menyebutkan bahwa pasien Covid-19 bisa dipulangkan dari isolasi rumah sakit tanpa memerlukan dua tes PCR dengan hasil negatif berturut-turut.
Meski demikian, WHO menyebut pasien tersebut rendah kemungkinannya untuk menularkan virus ke orang lain.
Kriteria pemulangannya adalah: Pasien dengan gejala: 10 hari setelah menunjukkan gejala, ditambah minimal 3 hari tanpa gejala (termasuk demam dan gejala pernapasan).
• Presiden Jokowi Ingin Bubarkan 18 Lembaga, Refli Harun Minta BPIP Nomor Satu, Ini Alasannya!
Pasien tanpa gejala: 10 hari setelah dites positif untuk Covid-19. "Jika diadopsi pada konteks negara, maka penentuan prioritas tes PCR ini berarti pada peningkatan diagnosis dugaan kasus Covid-19," tulis WHO dalam laporannya.
Hal itu terlihat dari jumlah spesimen Covid-19 yang diperiksa mencapai 968.237 spesimen, jauh lebih tinggi daripada jumlah orang yang dites, yaitu 575.536 hingga 8 Juli 2020.
Dalam laporannya, WHO juga memberi catatan mengenai lamanya pengujian yang bisa mencapai lebih dari satu minggu.
Padahal, standar lama tes hingga hasilnya keluar yang ditetapkan WHO adalah 24 hingga 48 jam.
• Lepas Rumah Rp 35 M di Cinere, Anang dan Ashanty Buru Rumah Mewah Rp 60 M
Hanya Jakarta yang sesuai standar Organisasi yang bermarkas di Jeneva itu juga menyoroti rendahnya kapasitas tes di Indonesia yang berada pada 0,4: 1.000 populasi per satu minggu.
Dalam keterangannya, WHO menyebut sampel positif hanya dapat ditafsirkan dengan pengawasan yang komprehensif dan pengujian secara massif dengan tolok ukur minimal 1 : 1.000 populasi per satu minggu.
"Satu-satunya wilayah di Jawa yang telah mencapai tolok ukur deteksi kasus minimum adalah Jakarta," tulis WHO.
WHO juga menyoroti tiga provinsi di Pulau Jawa, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang tidak menunjukkan penurunan setidaknya 50 persen kasus selama tiga minggu sejak laporan tertinggi.
• Kamu Perlu Tahu! Ini Lima Cara Antisipasi Covid-19 Dalam Ruangan Tertutup Ber-AC