Breaking News:

Opini Pos Kupang

Prakonsepsi Calon Pengantin Wanita Untuk Cegah Anak Stunting

New Normal life adalah kebijakan pemerintah membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan public secara terbatas

Prakonsepsi Calon Pengantin Wanita Untuk Cegah Anak Stunting
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh: Sintha Lisa Purimahua, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

POS-KUPANG.COM - New Normal life adalah kebijakan pemerintah membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan public secara terbatas dengan tetap menggunakan standar protokol kesehatan. Dalam artian, new normal adalah tahapan baru setelah kebijakan stay at home atau work from home, learn from home atau pembatasan sosial diberlakukan untuk mencegah penyebaran massif wabah virus corona.

Tulisan ini mengupas tentang periode prakonsepsi bagi pasangan calon suami istri guna melakukan persiapan sebelum terjadi kehamilan agar sel telur, sperma dan rahim sehat. Embrio yang baik akan tercipta selanjutnya akan menempel pada rahim dan terjadi kehamilan sehat yang akan menurunkan salah satu risiko stunting.

Traffic Light di Jalan Amabi Oepura Kupang Tidak Berfungsi

Prakonsepsi berasal dari kata pra dan konsepsi. Pra artinya `sebelum', sedangkan konsepsi artinya `peristiwa bersatunya sel sperma dan sel telur yang mengawali terjadinya proses kehamilan'. Oleh karena itu, pentingnya pemenuhan kebutuhan zat gizi untuk mempersiapkan kehamilan.

Sejak tahun 2013, organisasi kesehatan dunia (WHO) mulai menekankan pentingnya intervensi gizi dan pelayanan kesehatan prakonsepsi (preconception care). Di sisi lain, masalah stunting kini menjadi salah satu fokus perhatian pemerintah Indonesia dalam upaya penanganan masalah gizi untuk menghasilkan sumberdaya manusia Indonesia yang unggul dan maju.

Tekan Stunting di Malaka Harus Keroyok Bersama

Stunting adalah kondisi tubuh pendek, yang terjadi karena gagal tumbuh (growth failure). Mengidentifikasi anak stunting dapat dilakukan dengan mengukur panjang badan atau tinggi badan seorang anak, lalu dibandingkan ukuran panjang badan atau tinggi badan standar pada usianya.

Upaya pemerintah Indonesia dalam mengatasi masalah stunting perlu mendapatkan apresiasi yang tinggi, karena dalam kurun waktu 5 tahun prevalensi stunting turun dari 37,2 persen di tahun 2013, menjadi 30,8 persen pada tahun 2018 atau terjadi penurunan sekitar 7 persen. Namun demikian prevalensi ini masih tergolong tinggi. Prevalensi stunting di NTT tertinggi dibanding provinsi lain yaitu sebesar 42,6 persen (Riskesdas, 2018).

Definisi lain tentang stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak lebih pendek dari usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal kehidupan setelah lahir, tetapi baru tampak setelah anak berusia 2 tahun. Pencegahan stunting dapat dilakukan dengan memperbaiki asupan gizi (ketahanan pangan), lingkungan sosial, sanitasi lingkungan.

Masalah stunting sesungguhnya dapat dicegah. Berbagai program intervensi sensitif maupun spesifik dapat dilakukan sebagai suatu program pencegahan stunting apabila diberikan kepada sasaran yang tepat.

Dalam upaya pencegahan stunting, sasaran prioritas masih fokus pada kelompok ibu hamil dan ibu menyusui serta pada anak usia kurang dari dua tahun (baduta). Sasaran ini sebagai program percepatan perbaikan gizi pada 1000 (seribu) hari pertama kehidupan, Gerakan 1000 HPK.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved