Rabu, 17 Juni 2026

Opini Pos Kupang

Tanam Jagung Tidak Saja Untuk Makan

Dua sampai tiga dakade terakhir diskusi dan kebijakan pembangunan pertanian sekurang-kurangnya membahas dan mendasarkan keputusan

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
Dok
Logo Pos Kupang 

Oleh : Bernard de Rosari, Peneliti BPTP NTT-Balitbangtan Kementan

POS-KUPANG.COM - Dua sampai tiga dakade terakhir diskusi dan kebijakan pembangunan pertanian sekurang-kurangnya membahas dan mendasarkan keputusan pada mengakomodir tiga isyu dasar, yaitu ketahanan dan kecukupan pangan, peningkatan kesejahteraan petani melalui peningkatan pendapatan, dan ramah ekologis.

Diskusi dan perdebatan tentang dampak yang dialami dari ketiga isyu diatas tidak sekedar berada pada ranah diskusi tapi fakta menunjukkan demikian. Sebut saja awal periode tahun 2000 diberbagai pelosok, tidak terkecuali di wilayah Provinsi NTT, gagal tanam, gagal panen, dan mengarah kepada gizi buruk, busung lapar, dan stunting mewarnai ruang-ruang diskusi, berita di media massa, dan arahan kebijakan pemerintah. Berbagai faktor penyebab diusut untuk mencari tahu mengapa hal ini selalu terjadi dan terjadi lagi.

NTT Menuju New Normal

Kita ingat Tahun 2008 Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur (Wagub) Esthon Foenay mencanangkan NTT sebagai Provinsi Jagung untuk menjawab persoalan pangan entah itu disebut rawan pangan, atau kelaparan yang menyebabkan busung lapar dan gizi buruk serta mengkampayekan pangan lokal. Program ini berikhtiar untuk menyejahterahkan rakyat dengan sumberdaya pertanian yang cocok dengan agroekosistem NTT, walau implementasi program ini tidak optimal, kebijakan terutama politik anggaran yang tidak mendukung kampanye NTT sebagai provinsi jagung.

Kini Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat (VBL) bersama Wagub Josef Nae Soi menaruh perhatian pada jagung sebagai entry point untuk masuk dalam suatu konteks pembangunan yaitu pertanian terpadu (Integrated Farming System) dengan slogan Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS).

Kapolres dan Dandim Sikka Pantau Pemberlakuan New Normal di Pasar Alok

Tahun pertama program ini MT I 2019/2020 diterapkan pada 70 desa ditujuh kabupaten dengan total luasan mencapai 2400 ha. MT II 2020 diperluas menjadi 10 ribu ha pada 16 kabupaten, yang kini masuk periode pencatatan calon petani calon lahan (CPCL), perekrutan pendamping lapangan, dan distribusi saprodi (benih).

Mengapa Jagung

Era sebelum berakhirnya periode 1990-an berbagai catatan penelitian dan data pada institusi resmi, semisal Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Kemakmuran mencatat bahwa masih banyak masyarakat di wilayah NTT menjadikan jagung sebagai pangan pokok. Elastisitas permintaan dan elastisitas pendapatan terhadap jagung masih berada pada zona inelastis, yang artinya berapapun perubahan harga jagung permintaan untuk konsumsi jagung tetap pada jumlah tertentu sesuai kebutuhan makan. Naik atau turunnya pendapatan, permintaan terhadap jagung untuk disediakan sebagai stok pangan harus aman, alias tetap terjaga.

Perubahan mulai terjadi ketika krisis moneter (1998) dan merambah menjadi krisis ekonomi, menyebabkan pemerintah membangun Jaring Pengaman Sosial (JPS) bidang pangan, dengan menyediakan beras untuk menjaga keamanan pangan masyarakat nasional. Kebijakan ini sebagai hal ihwal dari perubahan pola konsumsi masyarakat NTT dari jagung menjadi "hanya beras".

Walau sudah makan jagung, aneka ubi, pisang, namun apabila belum makan nasi dianggap belum makan. Ditambah lagi anggapan mengonsumsi bukan beras masih dikategorikan orang miskin, walau sungguhnya memang masih miskin. Serta, dalam kategorisasi ekonomi disebut sebagai golongan pangan inferior. Menyebabkan semua orang baik di kota tidak terkecuali di pedesaan memilih mengonsumsi beras (padi).

Terjadi perubahan elastisitas permintaan dan elastistas pendapatan terhadap jagung menjadi elastis. Perubahan harga dan pendapatan akan menggoyahkan jumlah konsumsi masyarakat terhadap jagung.

Di era sekarang Gubernur VBL dan Wagubnya mencanangkan program TJPS (Tanam Jagung Panen Sapi) dengan pertimbangan, pertama, dasar konsumsi masyarakat NTT adalah jagung, dan jagung cocok ditanam wilayah semi-arid NTT, teknologi pengolahan hasil jagung menjadikan jagung tidak hanya sebatas pangan, juga untuk pakan (feed), energi (fuel), dan industri lainnya, dan kedua, sapi adalah ternak yang dipakai sebagai nilai diri atau harga diri masyarakat NTT, sapi sebagai komoditas investasi, dan NTT pernah menjadi gudang ternak nasional. Pertanyaannya bagaimana hal itu bisa diaktualisasikan.

Pertumbuhan Produksi

Terdapat dua pertumbuhan produksi jagung, yaitu pertama, peningkatan produktivitas, dengan menggunakan input berkualitas dan inovasi-teknologi yang adaptable, dan kedua, perluasan areal. Peningkatan produktivitas dilakukan dengan menerapkan inovasi-teknologi maju mulai dari persiapan lahan dengan mekanisasi, penggunaan benih unggul baik komposit maupun hibrida, pemupukan dan pengendalian hama penyakit yang berimbang, panen dan penanganan pasca panen yang memadai, serta pemasaran secara modern yang melibatkan lembaga keuangan (perbankan) dan lembaga pemasaran formal.

Perluasan areal dilakukan dengan menggunakan mekanisasi. Peningkatan produksi dengan perluasan areal perlu dilakukan sehingga petani memiliki skala usaha yang optimal. Persiapan lahan menggunakan tenaga manusia atau manual tidak dapat mendongrak produksi secara nyata, sehingga menggunakan traktor besar dan excavator secara bijak akan tercapai pengusahaan lahan dalam skala luas.

Satu rumah tangga tani diharapkan dapat mengusahakan lahan satu hektar, darinya diharapkan produksi jagung mencapai lima ton. Satu ton disimpan sebagai pangan keluarga selama satu tahun, dan lainnya dijual.

Empat ton jagung dijual dengan rata-rata harga Rp 3000/kg, maka akan didapat uang sejumlah Rp 12 juta. Uang sejumlah ini dapat dibelikan sapi. Dalam setahun dapat diusahakan jagung dua kali terutama pada lahan yang ada pengairan atau wilayah yang memiliki curah hujan yang cukup, misalnya di Malaka yang mengenal adanya hujan kedua (Mei-Juni).

Apabila berkeinginan memelihara sapi betina maka akan di-IB (Inseminasi Buatan) dengan semen unggul, misalnya dari jenis Angus, Limousin, atau jenis unggul lainnya. Dengan demikian periode berikutnya sapi dari NTT tidak hanya sapi Bali murni tapi sapi Bali peranakan dengan harga yang jauh lebih tinggi. Misalnya induk sapi Bali di IB dengan semen dari jenis Angus menjadi Baangus atau dengan jenis Limousin menjadi Balili.

Petani yang memilih sapi untuk penggemukkan dapat membeli sapi jantan untuk digemukkan (paron). Teknologi pemberian pakan (jenis, kualitas, dan komposisi) telah tersedia, sehingga dengan pertambahan berat badan (PBB) sapi yang dapat mencapai 0,8-0,9 kg/hari memungkinkan petani menjual sapinya kurang dari satu tahun. Pada konteks demikian maka dua isu sudah terjawab, yaitu Ketahanan Pangan dan Ekonomi.

Pertanian Terpadu

Jagung sebagai entry point untuk mengembangkan Pertanian Terpadu (Integrated Farming System). Petani akan memiliki sapi yang tidak berasal dari bantuan pihak luar, pemerintah maupun swasta dan lainnya, namun sapi berasal dari penjualan jagung petani sendiri. Dengan demikian timbul "rasa memiliki" yang lebih tinggi dari petani, memotivasi petani untuk merawatnya dengan baik.

Pengalaman masa lampau, banyak program bantuan sapi ke petani tidak berjalan mulus, baik dari perilaku petani penerima bantuan sapi itu sendiri maupun dari ulah petugas, serta hal lainnya.

Petani yang memiliki sapi mensyaratkan petani untuk menyediakan pakan. Pakan bisa berasal dari kebun pakan dan memanfaatkan hasil limbah tanaman. Batang dan tongkol jagung yang selama ini dibuang saja dapat dimanfaatkan sebagai pakan sumber energi. Proses pengolahan menjadi pakan tidak rumit. Limbah tanaman jagung tersebut dicincang dan dihaluskan kemudian ditambah legume sebagai sumber protein yang didapat dari lamtoro, clitoria, turi dan lainnya akan menjadi komposisi pakan yang baik untuk sapi. Kotoran dari sapi dimanfaatkan sebagai kompos untuk menyuburkan tanaman. Siklus ini menyebabkan tidak ada buangan pertanian (zero waste), semua dimanfaatkan sehingga dari sisi Lingkungan atau Ekologi terjaga. Apa yang harus disiapkan ketika produksi jagung berlimpah.

Utama adalah Pemasaran. Pasar jagung secara nasional terbuka luas. Indonesia masih mengimpor jagung untuk kebutuhan industri dalam negeri, baik industri pakan maupun lainnya. Teknologi pemanfaatan jagung dewasa ini selain untuk pangan, jagung juga dimanfaatkan untuk pakan (feed) dan energi terbarukan (fuel).

Pemerintah NTT dewasa ini mendorong investor untuk mengembangkan industri pakan di NTT. Jagung merupakan salah satu raw material utama dalam penyusunan ransum pakan.

Satu hal lagi yang patut diperhatikan, adalah petani diarahkan menggunakan jasa perbankan. Hasil penjualan jagung ditransfer langsung ke rekening petani pada bank yang ditunjuk, kemudian membeli sapi dengan cara bank mengeluarkan sejumlah uang melalui rekening petani tersebut.

Dengan demikian petani mulai diajak untuk mengerti dunia perbankan dan pada waktunya petani dapat sendiri mengakses kredit pertanian, misalnya KUR untuk membiayai usaha taninya.

Disamping alasan diatas, petani diajak untuk mengelolah keuangannya dengan baik. Petani kita belum mampu mengelolah keuangannya dengan baik, sehingga sering pendapatan dari hasil panen dihabiskan untuk hal-hal yang tidak prioritas.

Terakhir, yang harus diminimalisir adalah praktek ijon yang membelenggu petani. Banyak petani yang tidak membawa pulang hasil ladang dan kebunnya, karena habis terpotong dengan ijon. Ijon yang memberatkan petani adalah musuh besar. Pemerintah harus membuat kebijakan yang mendorong lembaga keuangan formal untuk membantu petani apabila membutuhkan sejumlah uang ketika membiayai usahataninya atau keperluan lainnya.

Petani akan tertolong dan dapat membawa bulir-bulir hasil keringat dan peluhnya kembali ke rumah. Demikian, maka tanam jagung tidak saja untuk makan (subsisten) tapi didorong ke arah ekonomis dan ekologis. (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
Live
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved