Rabu, 17 Juni 2026

Opini Pos Kupang

Tanam Jagung Tidak Saja Untuk Makan

Dua sampai tiga dakade terakhir diskusi dan kebijakan pembangunan pertanian sekurang-kurangnya membahas dan mendasarkan keputusan

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
Dok
Logo Pos Kupang 

Satu rumah tangga tani diharapkan dapat mengusahakan lahan satu hektar, darinya diharapkan produksi jagung mencapai lima ton. Satu ton disimpan sebagai pangan keluarga selama satu tahun, dan lainnya dijual.

Empat ton jagung dijual dengan rata-rata harga Rp 3000/kg, maka akan didapat uang sejumlah Rp 12 juta. Uang sejumlah ini dapat dibelikan sapi. Dalam setahun dapat diusahakan jagung dua kali terutama pada lahan yang ada pengairan atau wilayah yang memiliki curah hujan yang cukup, misalnya di Malaka yang mengenal adanya hujan kedua (Mei-Juni).

Apabila berkeinginan memelihara sapi betina maka akan di-IB (Inseminasi Buatan) dengan semen unggul, misalnya dari jenis Angus, Limousin, atau jenis unggul lainnya. Dengan demikian periode berikutnya sapi dari NTT tidak hanya sapi Bali murni tapi sapi Bali peranakan dengan harga yang jauh lebih tinggi. Misalnya induk sapi Bali di IB dengan semen dari jenis Angus menjadi Baangus atau dengan jenis Limousin menjadi Balili.

Petani yang memilih sapi untuk penggemukkan dapat membeli sapi jantan untuk digemukkan (paron). Teknologi pemberian pakan (jenis, kualitas, dan komposisi) telah tersedia, sehingga dengan pertambahan berat badan (PBB) sapi yang dapat mencapai 0,8-0,9 kg/hari memungkinkan petani menjual sapinya kurang dari satu tahun. Pada konteks demikian maka dua isu sudah terjawab, yaitu Ketahanan Pangan dan Ekonomi.

Pertanian Terpadu

Jagung sebagai entry point untuk mengembangkan Pertanian Terpadu (Integrated Farming System). Petani akan memiliki sapi yang tidak berasal dari bantuan pihak luar, pemerintah maupun swasta dan lainnya, namun sapi berasal dari penjualan jagung petani sendiri. Dengan demikian timbul "rasa memiliki" yang lebih tinggi dari petani, memotivasi petani untuk merawatnya dengan baik.

Pengalaman masa lampau, banyak program bantuan sapi ke petani tidak berjalan mulus, baik dari perilaku petani penerima bantuan sapi itu sendiri maupun dari ulah petugas, serta hal lainnya.

Petani yang memiliki sapi mensyaratkan petani untuk menyediakan pakan. Pakan bisa berasal dari kebun pakan dan memanfaatkan hasil limbah tanaman. Batang dan tongkol jagung yang selama ini dibuang saja dapat dimanfaatkan sebagai pakan sumber energi. Proses pengolahan menjadi pakan tidak rumit. Limbah tanaman jagung tersebut dicincang dan dihaluskan kemudian ditambah legume sebagai sumber protein yang didapat dari lamtoro, clitoria, turi dan lainnya akan menjadi komposisi pakan yang baik untuk sapi. Kotoran dari sapi dimanfaatkan sebagai kompos untuk menyuburkan tanaman. Siklus ini menyebabkan tidak ada buangan pertanian (zero waste), semua dimanfaatkan sehingga dari sisi Lingkungan atau Ekologi terjaga. Apa yang harus disiapkan ketika produksi jagung berlimpah.

Utama adalah Pemasaran. Pasar jagung secara nasional terbuka luas. Indonesia masih mengimpor jagung untuk kebutuhan industri dalam negeri, baik industri pakan maupun lainnya. Teknologi pemanfaatan jagung dewasa ini selain untuk pangan, jagung juga dimanfaatkan untuk pakan (feed) dan energi terbarukan (fuel).

Pemerintah NTT dewasa ini mendorong investor untuk mengembangkan industri pakan di NTT. Jagung merupakan salah satu raw material utama dalam penyusunan ransum pakan.

Satu hal lagi yang patut diperhatikan, adalah petani diarahkan menggunakan jasa perbankan. Hasil penjualan jagung ditransfer langsung ke rekening petani pada bank yang ditunjuk, kemudian membeli sapi dengan cara bank mengeluarkan sejumlah uang melalui rekening petani tersebut.

Dengan demikian petani mulai diajak untuk mengerti dunia perbankan dan pada waktunya petani dapat sendiri mengakses kredit pertanian, misalnya KUR untuk membiayai usaha taninya.

Disamping alasan diatas, petani diajak untuk mengelolah keuangannya dengan baik. Petani kita belum mampu mengelolah keuangannya dengan baik, sehingga sering pendapatan dari hasil panen dihabiskan untuk hal-hal yang tidak prioritas.

Terakhir, yang harus diminimalisir adalah praktek ijon yang membelenggu petani. Banyak petani yang tidak membawa pulang hasil ladang dan kebunnya, karena habis terpotong dengan ijon. Ijon yang memberatkan petani adalah musuh besar. Pemerintah harus membuat kebijakan yang mendorong lembaga keuangan formal untuk membantu petani apabila membutuhkan sejumlah uang ketika membiayai usahataninya atau keperluan lainnya.

Petani akan tertolong dan dapat membawa bulir-bulir hasil keringat dan peluhnya kembali ke rumah. Demikian, maka tanam jagung tidak saja untuk makan (subsisten) tapi didorong ke arah ekonomis dan ekologis. (*)

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
Live
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved