Opini Pos Kupang
Pentekosta: "Nyala Api yang Mengobarkan Iman Gereja"
Hari Raya Pentekosta adalah momentum peringatan Gereja akan peristiwa turun-Nya Roh Kudus dalam rupa lidah-lidah api ke atas para rasul
Rahmat dan talenta yang Tuhan anugerahkan kepada kita pun tidak boleh kita simpan untuk diri kita sendiri, melainkan dipakai untuk pelayanan kepada banyak orang.
Selain itu, peristiwa Pentekosta juga menunjukkan makna penting dari hidup doa. Doa harus menjadi senjata cahaya iman kita dalam untung maupun malang dan dalam suka maupun duka. Kita tahu bahwa Roh Kudus sendiri lah yang menggerakkan hati kita untuk berdoa.
"Roh Kudus yang melaksanakan karya Allah adalah pelatih doa." (KGK.,No. 741). Kita hanya mampu dekat dengan Roh Kudus jika kita terus setia membangun komunikasi dalam doa.
3. Peran Maria sebagai Ibu Gereja
Peristiwa Pentakosta juga menunjukkan pentingnya peran bunda Maria sebagai ibu Gereja. Dalam Kis. 1:14 dikatakan: "Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus." Maria telah menemani peziarahan Gereja sejak awal mula.
Yesus sendiri menyerahkan ibu-Nya kepada Gereja pada peristiwa Salib yang dilambangkan dengan penyerahan Maria kepada Yohanes.
"Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu mereka menerima dia di dalam rumahnya." (Yoh. 19:26-27).
Maria selalu hadir dalam Gereja dan setia menjadi perantara doa-doa kita kepada Putera-Nya. Kita memohonkan doabunda Maria yang terus setia menyertai perjalanan Gereja.
Kita juga harus meneladani sikap iman bunda Maria yang dengan penuh ketaatan menyerahkan diri pada kehendak Ilahi. Fiat mihi secundum verbum tuum; Terjadilah padaku menurut perkataanMu (Bdk. Luk. 1:38).Fiat Maria haruslah menjadi fiat kita umat beriman.
Di bulan Maria ini, dengan berdevosi secara khusus kepada Maria, kita memohonkan rahmat Roh Kudus untuk membaharui diri kita. Sebagai pribadi istimewa yang dipenuhi rahmat Allah (gratia plena), Maria menjadi mempelai Allah Roh Kudus (sponsa Sancti Spiritus). "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah." (Luk. 1:35).
Terang yang Bercahaya dalam Kekelaman Pandemi
Dalam situasi pandemi Covid-19 ini, banyak umat beriman menjadi gelisah dan takut. Kita takut terhadap ancaman "musuh tak kasat mata" ini yang dapat mengancam hidup kita dan orang-orang yang kita kasihi.
Untuk sementara, kita juga kehilangan kesempatan untuk merayakan ibadah di Gereja. Kita kehilangan kesempatan untuk bercengkerama bersamakerabat kita. Banyak juga saudara-saudari kita yang berjuang untuk menafkahi hidup mereka di tengah situasi yang serba sulit ini.
Namun, melalui peristiwa Pentakosta ini, semoga rahmat Roh Kudus tercurah dalam diri kita dan menyalakan sumbu pelita iman kita yang mungkin mulai pudar nyalanya.
Meski dalam situasi kelam pandemi Covid-19, kita harus tetap menghasilkan buah-buah Roh.
"Berkat kekuasaan Roh ini anak-anak Allah dapat menghasilkan banyak buah. Ia, yang telah mencangkokkan kita pada pokok anggur yang benar, membuat kita menghasilkan buah Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal. 5:22-23)." (KGK.,No. 736).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketimpangan-pendapatan-patologi-inheren-perekonomian.jpg)