Opini Pos Kupang
Hari Raya Galungan, Perayaan Kemenangan Dharma atas Adharma
Baca Opini Pos Kupang: hari raya Galungan, perayaan kemenangan dharma atas Adharma
Baca Opini Pos Kupang: hari raya Galungan, perayaan kemenangan dharma atas Adharma
Oleh : Dewa Putu Sahadewa, Dokter Spesialis Kebidanan di RSIA Dedari Kupang
POS-KUPANG.COM - Memasuki bulan Februari umat Hindu di seluruh Nusantara disibukkan dengan persiapan menyambut hari raya Galungan, tepatnya hari Rebo 19 Februari 2020 atau Buda Kliwon Wuku Dunggulan, hari suci di mana dirayakan kemenangan Dharma melawan Adharma.
Demikian juga umat Hindu di Kupang. Di masing-masing rumah tangga tampak kesibukan yang dimulai seminggu sebelumnya dengan menyucikan Bhuana Agung (alam semesta) atau biasa disebut dengan Sugihan Jawa dan keesokan harinya dengan prosesi penyucian diri atau Bhuana Alit dalam Sugihan Bali.
• Menuju Satu Data Kependudukan
Dipercaya tiga hari sebelum hari raya galungan turun berturut-turut Sang Kala Tiga atau tiga Butha atau kekuatan negatif yang akan memengaruhi perilaku manusia Hindu. Hari Minggu turun Sang Butha Galungan yang sanggup berperang untuk menyerang manusia.
Penampakannya akan terlihat dari manusia suka berkelahi, berperang atau bertengkar. Hari Senin Turun Sang Butha Dunggulan yang akan menguasai manusia, manusia pun jadi ingin memguasai segala sesuatu tanpa batas bahkan termasuk yang bukan hak dan bukan miliknya. Pada hari Selasa turun Sang Butha Amangkurat atau sifat egoisme dalam diri manusia.
Nampak dalam pengertian filosofi peperangan manusia melawan tiga Butha ini lebih kepada memerangi sifat atau perilaku buruk diri sendiri alias menaklukkan diri sendiri.
Apakah cukup dengan menghaturkan sesajen atau upacara di rumah dan di Pura maka akan dilalui dengan baik segala ujian dan cobaan itu?
• Simak Prakiraan Cuaca Oleh BMKG di Sepuluh Lokasi Wisata di Sumba Hari Ini
Ternyata manusia dilahirkan sudah dibekali kemampuan yang cukup untuk memenangkan Dharma. Manusia dibekali akal, budi dan iman. Dengan melakukan introspeksi diri, mulat sarira, menekan ego sekuat mungkin, berpedoman selalu pada ilmu pengetahuan suci dari Kitab Pedoman Hindu, memunculkan sifat mulia atau Dewa dalam diri maka sang Kala Tiga akan dapat ditaklukkan.
Dan tentu saja dengan selalu memohon bimbingan dan perlindungan dari leluhur para Dewa dan Brahman dengan segala manifestasinya melalui Yadnya atau upacara persembahan suci baik di rumah maupun di Pura.
Dengan menekan sekuat mungkin egoisme, meminimalisir pikiran, perkataan dan perbuatan buruk maka dunia akan terjaga dari kekacauan dan kehancuran. Akan semakin muncul keindahan dan kecemerlangan karena pancaran sinar suci dari sifat dewa dalam diri manusia.
Setelah melalui tiga hari percobaan yang berat dan melelahkan, karena umat Hindu juga mempersiapkan segala material upacara pada hari-hari itu, maka tibalah hari kemenangan yakni Hari Raya Galungan.
Siapa sajakah yang berhak merayakan kemenangan? Tentu mereka yang berhasil menaklukkan dirinya, "mengalahkan" Sang Kala Tiga yang datang menyerang, yang mampu memunculkan cahaya dalam jiwanya.
Bukan juga berarti yang lain tidak berhak merayakan, karena usaha sekecil apapun asal dilakukan secara sungguh-sungguh akan tetap dihargai dan dimuliakan tanpa memandang hasil dari perbuatan itu.
Jadi seluruh umat Hindu akan serempak merayakan Galungan , hari kemenangan Dharma melawan Adharma apalagi hari tersebut juga dikenal dengan Otonon (hari lahir ) Bumi. Pun bagi yang pada saat ini belum sepenuhnya mampu memenangkan dharma dalam hatinya, putaran hidup terus berlangsung. Selama masih hidup, kesempatan untuk memperbaiki diri masih ada.
Itulah maka hari raya itu selalu berulang baik dalam siklus bulan ataupun matahari.
Hari raya Galungan di Kupang akan terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan Piodalan atau hari perayaan bagi pura tertua dan terbesar di Kupang yakni Pura Oebanantha di Oeba.