Kepsek dan Guru SDK Wolorae di Nagekeo Bangga Anak Didik Berhasil

Sang Kepsek dan Guru SDK Wolorae di Kabupaten Nagekeo bangga anak didik berhasil

Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/GORDI DONOFAN
Kepala SDK Wolorae Danga, Maria Imaculata Tajo Maxrin dan guru senior Maria Florentina Ia Bay saat menunjuk foto para Kepsek di SDK Wolorae Danga Kota Mbay Kabupaten Nagekeo, Senin (25/11/2019). 

Sang Kepsek dan Guru SDK Wolorae di Kabupaten Nagekeo bangga anak didik berhasil

POS-KUPANG.COM | MBAY - Guru senior SDK Wolorae Danga di Kota Mbay Kabupaten Nagekeo, Maria Florentina Ia Bay, mengaku sangat bangga anak didik mereka berhasil dan sukses dibidang apapun.

Misalkan menjadi pejabat, PNS dan petani, ketika mereka sukses tentu menjadi kebanggan tersendiri bagi seorang guru yang telah mendidik mereka.

Kejari Serahkan Uang Rp 119,5 Juta dan 17 Unit Kendaraan Milik Pemkab Sumba Timur

Florentina merupakan guru PNS yang mengabdi di SDK Wolorae Danga sejak tahun 2000.

SDK Wolorae Danga merupakan satu sekolah tertua di Mbay. Adapun alumni dari sekolah tersebut adalah mantan Bupati Nagekeo, Drs. Elias Djo dan bupati yang sekarang menjabat adalah dr. Johanes Don Bosco Do.

"Kami angkatan kemudian. Pak Bupati mereka angkatan lebih dulu dari kami. Dulu masa pa dokter Don mereka mungkin tahun 1960 an itu nama sekolah ini adalah SDK Teladan Dawe. Satu satunya sekolah favorit. Tanggal berdiri 1 Agustus 1928. Tahun 2028 masuk satu abad," ungkap Florentina, kepada POS-KUPANG.COM, Senin (25/11/2019).

Kesejahteraan Guru Masih Masalah, Ini Usul Anggota DPRD NTT Emanuel Kolfidus kepada Pemerintah

"Kami merasa bangga karena hasil didikan kami ternyata ada gunanya. Meskipun ada yang belum berhasil. Termasuk banyak petani yang berhasil dan sukses. Tak selamanya yang sukses itu harus jadi pejabat tapi sukses disegala bidang," sambung Florentina.

Florentina mengungkapkan jasa para guru sangat luar biasa dan memang beda guru dulu dengan sekarang. Kalau sekarang mungkin serba teknologi tidak seperti dulu yang masih keterbatasan disegala aspek.

Disiplin pada jaman dulu sangat tinggi dan didikan yang diberikan itu sangat baik meskipun agak sedikit memakai kekerasan tapi rata-rata siswa dulu sangat disiplin dalam segala bidang. Guru dulu menjadi satu-satunya sumber ilmu.

"Pendidikan dulu dan sekarang beda. Kalau dulu tidak ada manja-manja. Sekarang harus mengembalikan dari didikan yang keras. Kami sekarang harus bersahabat untuk mereka dan menjadi sahabat yang baik untuk anak," ujarnya.

Ia menuturkan memberikan teladan yang baik bagi anak-anak tidak mudah dan dengan majunya teknologi sangat sulit dikendali. Memang pendidikan karakter harus ditekankan.

Memberi teladan tidak gampang Anak-anak sudah lebih jauh dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat. Guru harus dengan penuh cinta membina dan mendidik mereka ditengah era globalisasi saat ini.

Ia menceritkan awal menjadi guru itu sangat berat dengan gaji 25.000 per bulan. Meskipun gaji kecil waktu itu semangat untuk datang ke sekolah dan mengajar sangat tinggi. Kebersamaan dan mengurus anak-anak sekolah menjadi tanggungjawab yang paling utama

"Waktu pertama menjadi guru tahun 1991. Honorer pertama 25.000 per bulan. Meskipun gaji kecil kami tetap semangat didepan didepan kelas. Mungkin karena nekat dan panggilan hidup. Bapa mama semua jadi guru. Rasa ada yang kurang kalau tidak mengajar meski gaji kecil. Meskipun gaji kecil kami tetap gembira," ujarnya.

Dengan penuh keterbatasan waktu itu, ia dan sejumlah guru hanya bisa mendengarkan atau mendapatkan informasi lewat radio.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved