Opini
Sidang Sinode GMIT, Pertarungan Nurani, Kinerja dan Ambisi. Begini Penjelasannya?
Pemilih diwanti-hanti untuk memilih para pemimpin gereja ini berdasarkan prinsip kejujuran, komitmen dan integritas kristiani yang bisa diandalkan
Penulis: Ferry Jahang | Editor: Ferry Jahang
atau karena faktor-faktor subyektif berdasarkan hubungan-hubungan emosional, karena faktor kesukuan, alumni, gender, kepentingan politik, dan kepentingan-kepentingan lainnya.
Pertarungan nurani ini makin memuncak ketika para pemilih diperhadapkan dengan pilihan untuk mendengarkan Suara Roh Kudus atau "suara roh kuda"
yakni pihak-pihak yang selalu berupaya mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan berbagai cara dan trik-trik kotor yang jauh dari ciri kehidupan gereja yang sifatnya Kristokrasi.
Para pemilih harus jeli melihat antara ambisi pribadi para calon dan kinerja apa yang mereka tunjukkan selama ini dalam pelayanan GMIT di berbagai lingkup.
Ambisi para calon untuk melayani gereja sesusai bidang yang diminatinya merupakan hal yang wajar
dan hal itu dapat dipandang sebagai panggilan mereka atau juga dapat dimengerti sebagai suatu perasaan "merasa terpanggil" untuk jabatan-jabatan tertentu,
akan tetapi "panggilan pelayanan" itu juga bisa dilacak melalui kesungguhan dan ketulusan pelayanan mereka selama ini yang berwujud dalam bentuk kinerja yang bisa diterima dan diakui semua pihak.
Untuk itu para pemilih diharapkan menjadi pemilih yang cerdas yang tidak mudah diombang-ambingkan dengan rupa-rupa hal yang menyesatkan dan mengacaukan nurani mereka di dalam memilih.
Para pemilih bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan pihak-pihak tertentu yang menyesatkan,
tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih Kristus, yang adalah Kepala Gereja (lihat Efesus 4:14-15). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pendeta-messakh-dethan-2.jpg)