Dosen Undana dan Trash Hero Ajar Siswa Smansa Nubatukan Daur Ulang Sampah Plastik
Dosen Undana dan Trash Hero Ajar Siswa Smansa Nubatukan Daur Ulang sampah plastik
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
"Jadi bagaimana kita makan makanan yang dikemas dalam bentuk styrofoam. Ya, stop makan makanan dalam kemasan itu. Juga krans bunga yang pakai gabus tidak akan terurai," pesan Wilda.
Dia mengungkapkan betapa berbahanya sampah plastik. Dari puntung rokok yang dibuang sembarangan saja sudah jadi masalah untuk lingkungan hidup. Sebab, menurut pelopor komunitas peduli sampah di Lembata ini, sampah juga punya pengaruh besar pada perubahan iklim.
Kepada para pelajar dia menegaskan kalau sekarang hampir tidak ada lagi tanah yang tidak tercemar dari sampah. Oleh karena itu, kepedulian semua pihak termasuk generasi muda sangat diperlukan demi menyelamatkan lingkungan dari bahaya sampah.
Sementara itu, Hamza H Wulakada memaparkan selama ini dalam satu orang saja bisa menghasilkan dua setengah liter sampah dari rumah tangga. Kalau di tempat umum seperti di pasar, mall dan pertokoan produksi sampahnya bisa lebih dari dua setengah liter.
Produksi sampah, kata dia, juga bergantung pada tingkat konsumtif masyarakat urban. Ada kecenderungan semakin tinggi pendapatan semakin banyak pula sampah yang dihasilkan karena pola konsumtif juga bertambah. Khusus di Kabupaten Lembata dia memperkirakan dalam sehari masyarakat kota bisa turut menyumbang dua ton sampah.
"Polanya dari rumah tangga sampah itu dijual. Nanti ada orang yang beli untuk diolah dan lain-lain. Konsepnya online. Ada yang jemput untuk beli sampah. Harus ada komunitas seperti ini," terang Penulis Buku Rekayasa Manajemen Persampahan ini terkait bagaimana idealnya sampah dikelola secara online.
"Kita belum bisa lepas dari sampah. Sampah itu tidak ada. Yang mengadakan sampah itu kita. Kalau kita bisa membatasi semua produk jadi sampah, kita bisa ubah fungsinya. Tugas kita misalnya kardus itu jangan ubah jadi sampah. Yang bisa kita buat adalah menurunkan pemakaian kita untuk konsumsi dan menjaga kebersihan. Minimal dari anak anak sekolah kita bangun jejaring dan kita meniadakan yang namanya sampah. Harus mulai dari hal hal kecil. Sampah suatu ketika jual. Nanti sistem ini akan terbangun. Kita harus membangun karakter dulu," pungkasnya. ( Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, RICKO WAWO)