Minggu, 3 Mei 2026

Berita Cerpen

Cerpen Petrus Nandi: Beranda Rumah dan Senja yang Bisu

Cerpen Petrus Nandi: Beranda Rumah dan Senja yang Bisu. Entah sudah sekian menit kau menunggu di sana.

Tayang:
wordpres
Beranda rumah dan senja yang bisu 

Ruang e-mail tidak lebih dari tulisan-tulisan yang sudah kau baca sebelumnya. Tidak terdengar lagi suara merdu itu dari speaker telepon genggam-mu.

Kau membaringkan tubuhmu di tempat tidur. Ibunda sedang bergelut dengan perkara yang tidak pernah habis dipikirkannya: mencari sosok pendamping baru bagimu yang bisa ada di sampingmu setiap waktu. Engkau gelisah. Kau bangun dan berkaca sebentar. Kau dapati wajahmu kian keriput.

Rindu masih belum puas menguras sendi wajahmu. Inikah yang dinamakan cinta? Untuk hal ini engkau sendiri pula pasti memahaminya. Kau gapai untuk ke sekian kalinya telepon genggam itu dan kau tak mendapat jawaban. Makin gelisahlah engkau.

Satu hari, dua, tiga, empat, lima puluh, dan tak terhitung lagi sudah berapa ribu hari engkau menanti sambil melawan firasat buruk dan rasa takut akan nasib sial sang suami yang masih di Timur Tengah. Tanpa kabar. Hingga tiba suatu hari, saat engkau coba mengulangi lagi kebiasaan lama (duduk menanti di beranda).

Senja sedang merapat ke sisi barat. Hutan pinus tak lagi berdaun. Awan tebal seperti biasa mondar-mandir di hadapan pandanganmu sambil sesekali mengejek tanpa kau sadari. Kau terawang jauh dan matamu mendarat pada gulungan ombak yang berkejaran menuju bibir pantai.

Telepon genggam bergetar di tanganmu. Kau membukanya. Nama kontak 'mas Baim' (suamimu) muncul memanggilmu. Kau angkat. "Maaf ini dengan saudari Irmawati?"

"Ya, saya sendiri. Mas baim, apa kabarmu say.."
"Maaf..." Dia memotong pembicaraanmu.
"Ini bukan dengan Baim, ini pemimpin pasukan saudara Baim. Saudara Baim telah berpulang ke pangkuan Bapa. Ia meninggal karena tertembak peluru."

Presiden Jokowi Putuskan Ibu kota baru Indonesia di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kaltim

Serentak kau matikan telepon genggam itu. Engkau mundur dua langkah, menarik nafas yang panjang dan berteriak menyerukan nama 'Baim.....' yang panjang.

Sebuah mobil jenazah datang dari sisi Timur dan berhenti di depan rumah. Sebarisan orang datang dengan bunga warna-warni di tangan. Sebuah peti jenazah mengikuti dari belakang dan mendekatimu. Kau dapati nama indah terukir di permukaan peti itu: "Baim George". Sekali lagi kau meneriakkan nama 'Baim', lebih panjang dan lebih kuat dari yang pertama.

826 Mahasiswa Baru Unkriswina Sumba Ikut Orsmaru

IV
Sebuah tangan meraba pundakmu. Itu ibumu. Kau terhenyak, lalu kau hapus air mata yang berlinang di pipimu.

Ia tertawa, dan kaupun diliputi sejuta tanya.

Baru kau sadar ternyata engkau sedang melamun. Engkau masih di sice mungil itu.

Segumpal awan kembali melintas di depanmu, dan halaman rumah masih penuh dengan dedaunan pinus yang gugur.

Sekelompok semut berbaris masuk dan menghabiskan sisa ampas di gelas kopimu. Plong...
(Puncak Scalabrini, Februari 2019. Petrus Nandi, kelahiran Kampung Pantar, Lamba Leda, aktif kuliah di STFK Ledalero).

Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved