Minggu, 3 Mei 2026

Berita Cerpen

Cerpen Petrus Nandi: Beranda Rumah dan Senja yang Bisu

Cerpen Petrus Nandi: Beranda Rumah dan Senja yang Bisu. Entah sudah sekian menit kau menunggu di sana.

Tayang:
wordpres
Beranda rumah dan senja yang bisu 

POS-KUPANG.COM|KUPANG -

I
TAK terjangkau bilangan. Entah sudah sekian menit kau menunggu di sana. Kau menantikan kembalinya sebuah kisah yang terlanjur membuat dirimu merasa pernah memiliki dunia bersamanya. Hanya kalian berdua.

Engkau dan dia. Kisah itu telah pergi, menghilang dan lenyap di sela remang awan yang melintas di samping rumah sore itu. Ia pergi (untuk sementara waktu) dengan membawa sosok yang pernah hadir dan mengisi hari-harimu.

Ada sebuah wajah manis yang selalu melintas di kepalamu dan ada serumpun rindu yang berdesakan menyusup ke rongga dadamu dan memaksamu untuk pasrah jika saja suatu saat ia membuatmu kecewa.

Hj. Andi Riski Nur Cahya: Partisipasi Politik Perempuan

Kisah itu pernah datang tanpa meminta pertimbangan darimu dan kini ia pergi begitu saja dengan menyisakan sebuah tugas bagimu untuk setia dalam penantian itu.

Ia bahkan berani dan tega menggantung hidupmu pada sebuah rentang waktu di mana rindu dengan dahsyatnya menampar dinding hatimu, bahkan merobek imanmu, saat engkau masih menggenggam harapan bahwa sosok itu akan kembali pada waktunya, meski terkadang kau sedikit ragu.

"Sederet senja ini hanyalah dua kisah yang tidak jauh berbeda: senja tanpa kata dan aku yang duduk mematung di beranda ini. Tidak lebih. Segelas kopi yang telah kuseduh menjadi saksi kebisuan raga yang dipasung liarnya imajinasi: tentang engkau yang datang duduk di samping sice ini, membelai lembut rambutku sambil menyaksikan rinai hujan yang membasahi bumi di musim dureng yang panjang, dan jiwa kita menari dalam lantunan 'A Thousand Year', hingga aku terlelap di atas bahumu. Barisan kata mulai memenuhi diary kecilmu.

Ramalan Zodiak Cinta Besok Selasa 27 Agustus 2019, Aquarius Bergelora, Aries Bosan, Zodiak Lain?

II
Masih tersisa bekas-bekas kaki pada tiga pijakan pertama saat ia berangkat ke medan itu tiga hari yang lalu. Masih membekas juga beberapa titik debu yang terkibas dari kasutnya saat ia pamit dan kini menempel di sudut rumah, dekat dengan tempat di mana engkau menunggu kini.

Engkau masih setia menjaga butir-butir itu. Tidak sedikitpun kau biarkan angin senja mencurinya sebab di sanalah ia menitipkan rindunya.

Entah bagaimakah engkau menamai sederet senja yang telah kau lewati: kopi yang selalu terlambat kau seruput hingga semut-semut kebagian melahapnya sebelum masuk ke dalam mulutmu, butir-butir debu yang selalu kau jaga dan nyaris kau baptis sebagai sosok sekelompok dewa yang dipuja nenek moyangmu, gumpalan awan yang tak memberimu jawaban atas pertanyaan yang selalu berkeliaran di beranda otakmu.

Juga senja yang diam dan kaku yang selalu membuatmu tenggelam dalam lautan rindu yang menarik imajinasimu ke ruang hidup masa depan di mana engkau bersua manja bersamanya, saat ia berhasil melewati masa sulitnya di medan perang. Engkau benar-benar diuji.

Kisah itu tidak main-main menguji nyali dan cinta yang telah kau ikrarkan dulu. Sesekali ia datang dan merasuki alam bawah sadarmu lalu melintas dalam mimpi malam yang membawa engkau kepada sebuah masa depan yang entah lalu menghadirkan sosok yang mengerahkan sisa tenaganya sehabis bertempur tuk menghampirimu dan menitipkan sepenggal ungkapan ini ke gendang telingamu," Aku cinta padamu, sayang".

Danrem 161 Wira Sakti terima Kunjungan LPPM Universitas Pertahanan

Untuk hal ini engkau sendiri pasti paham. Kebersamaan dengannya telah membuatmu candu. Cintamu begitu besar, begitu pula dirinya. Engkau bahkan begitu mudah mengabaikan ibumu saat ia melarangmu menjadi istri seorang prajurit.

Ia tampan dan bersahaja. Itu sudah menjadi alasan yang pasti bagimu tuk menepis sejumput kata tanya para tetangga akan kebiasaan barumu itu.

Cinta itu misteri. Ia bisa membuatmu terheran-heran, dan hal-hal yang aneh pun akan dengan mudah kau anggap wajar. Sesekali engkau tersenyum, sesekali engkaupun menangis karenanya.

Cinta memang jauh lebih kaya dari persepsi dan perkiraan yang kau lekatkan padanya.

Ia menempati sebuah ruang yang tak sanggup dijangkaui akal budi. Rasa cinta itulah yang membuatmu berjalan melampaui batas kewajaran sebab ada klimaks yang lebih indah dari rasa sakit yang kau lalui dalam rentetan penantian itu. Kira-kira demikian pendirianmu.

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Transit di Labuan Bajo Menuju Kupang, Ini Agendanya

III
Daun-daun berjatuhan di hadapanmu. Hutan pinus yang tidak seberapa luasnya di depan rumahmu sedang menyaksikan angin senja merayu mereka tuk meninggalkan dahannya setiap hari.

Debu-debu pun masih bermain di awan lepas sembari mengumbar asma bagi anak-anak tetangga yang asyik bermain di halaman rumah.

Begitulah musim kering berjalan mengikuti iramanya. Namun, engkau tidak sedikitpun menggubris. Andai saja kau terawang pandanganmu sekian jauh, engkau kan mendapati sejuta gulung ombak yang berlomba-lomba mencium bibir pantai.

Sebuah pemandangan yang asyik dan mungkin bisa membuatmu perlahan melupakannya untuk sementara waktu.

Istri Kepergok Berzina dengan Lelaki Lebih Kaya di Kamar Kos, Si Istri Malah Gigit Telinga Suaminya

Engkau Dihantui Bayanganmu Sendiri.
Engkau tiba pada sebuah masa. Entah, tetapi yang pasti masa depan. Dua tahun sudah kau menanti di beranda yang sama itu. Ibumu merasa prihatin dengan anaknya yang seorang diri, tanpa sedikitpun berita mampir dari medan perang.

Suamimu masih ada dan berjuang di atas misi yang dibawanya dari rumah: pulang dengan membawa sekujur tubuh yang utuh dan membangun kembali rumah tangga yang renggang.

Dari beranda itulah melayang seuntai doa dan rindu yang menyatu bersama angin yang berhembus dari sisi barat.
Timur Tengah memang tidak pernah aman.

Tidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan tempat pertemuan massa yang datang dengan rasa geram berkecamuk dalam dada yang siap meledak kecuali, barangkali ini yang mendekati-kebrutalan dan chaos.

Diduga Korban Pembunuhan, Warga Temukan Kerangka Manusia di Kebun Belakang Rumah

Sesekali ada pertumpahan darah, yang lain baku bacok, lain lagi uji kekuatan siapa yang paling cepat mengumpulkan mayat manusia sebanyak-banyaknya.

Belantara padang yang penuh hiruk-pikuk. Juga pohon-pohon kurma yang letih menepis peluru yang berkeliaran dan menampar dahan-dahannya.

Sekujur tubuh yang berharga itu sedang bermain-main di sana. Ia berani. Malam-malam penuh dengan bayangan yang tidak terduga. Tak terkira banyaknya menghampiri lubukmu. Bantal dan kasur tidak punya cara lain tuk menerormu setiap malam.
Suamimu itu pria yang setia.

Tidak pernah terlambat ia mengabarimu setiap malam. Kau pun telah berani meninggalkan kebiasaan lamamu selama dua tahun terakhir. Syukur engkau telah menyadari keanehan itu. Baiklah.

Tidak Perlu Antri, Bayar di Pegadaian Melalui Aplikasi PSDS

Oh iya, tetapi ada sesuatu yang berbeda selama satu mingu terakhir. Tidak ada lagi barisan emoticons yang membanjiri beranda WhatsApp.

Ruang e-mail tidak lebih dari tulisan-tulisan yang sudah kau baca sebelumnya. Tidak terdengar lagi suara merdu itu dari speaker telepon genggam-mu.

Kau membaringkan tubuhmu di tempat tidur. Ibunda sedang bergelut dengan perkara yang tidak pernah habis dipikirkannya: mencari sosok pendamping baru bagimu yang bisa ada di sampingmu setiap waktu. Engkau gelisah. Kau bangun dan berkaca sebentar. Kau dapati wajahmu kian keriput.

Rindu masih belum puas menguras sendi wajahmu. Inikah yang dinamakan cinta? Untuk hal ini engkau sendiri pula pasti memahaminya. Kau gapai untuk ke sekian kalinya telepon genggam itu dan kau tak mendapat jawaban. Makin gelisahlah engkau.

Satu hari, dua, tiga, empat, lima puluh, dan tak terhitung lagi sudah berapa ribu hari engkau menanti sambil melawan firasat buruk dan rasa takut akan nasib sial sang suami yang masih di Timur Tengah. Tanpa kabar. Hingga tiba suatu hari, saat engkau coba mengulangi lagi kebiasaan lama (duduk menanti di beranda).

Senja sedang merapat ke sisi barat. Hutan pinus tak lagi berdaun. Awan tebal seperti biasa mondar-mandir di hadapan pandanganmu sambil sesekali mengejek tanpa kau sadari. Kau terawang jauh dan matamu mendarat pada gulungan ombak yang berkejaran menuju bibir pantai.

Telepon genggam bergetar di tanganmu. Kau membukanya. Nama kontak 'mas Baim' (suamimu) muncul memanggilmu. Kau angkat. "Maaf ini dengan saudari Irmawati?"

"Ya, saya sendiri. Mas baim, apa kabarmu say.."
"Maaf..." Dia memotong pembicaraanmu.
"Ini bukan dengan Baim, ini pemimpin pasukan saudara Baim. Saudara Baim telah berpulang ke pangkuan Bapa. Ia meninggal karena tertembak peluru."

Presiden Jokowi Putuskan Ibu kota baru Indonesia di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kaltim

Serentak kau matikan telepon genggam itu. Engkau mundur dua langkah, menarik nafas yang panjang dan berteriak menyerukan nama 'Baim.....' yang panjang.

Sebuah mobil jenazah datang dari sisi Timur dan berhenti di depan rumah. Sebarisan orang datang dengan bunga warna-warni di tangan. Sebuah peti jenazah mengikuti dari belakang dan mendekatimu. Kau dapati nama indah terukir di permukaan peti itu: "Baim George". Sekali lagi kau meneriakkan nama 'Baim', lebih panjang dan lebih kuat dari yang pertama.

826 Mahasiswa Baru Unkriswina Sumba Ikut Orsmaru

IV
Sebuah tangan meraba pundakmu. Itu ibumu. Kau terhenyak, lalu kau hapus air mata yang berlinang di pipimu.

Ia tertawa, dan kaupun diliputi sejuta tanya.

Baru kau sadar ternyata engkau sedang melamun. Engkau masih di sice mungil itu.

Segumpal awan kembali melintas di depanmu, dan halaman rumah masih penuh dengan dedaunan pinus yang gugur.

Sekelompok semut berbaris masuk dan menghabiskan sisa ampas di gelas kopimu. Plong...
(Puncak Scalabrini, Februari 2019. Petrus Nandi, kelahiran Kampung Pantar, Lamba Leda, aktif kuliah di STFK Ledalero).

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved