Berita Cerpen
Cerpen Petrus Nandi: Beranda Rumah dan Senja yang Bisu
Cerpen Petrus Nandi: Beranda Rumah dan Senja yang Bisu. Entah sudah sekian menit kau menunggu di sana.
Cinta memang jauh lebih kaya dari persepsi dan perkiraan yang kau lekatkan padanya.
Ia menempati sebuah ruang yang tak sanggup dijangkaui akal budi. Rasa cinta itulah yang membuatmu berjalan melampaui batas kewajaran sebab ada klimaks yang lebih indah dari rasa sakit yang kau lalui dalam rentetan penantian itu. Kira-kira demikian pendirianmu.
• Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Transit di Labuan Bajo Menuju Kupang, Ini Agendanya
III
Daun-daun berjatuhan di hadapanmu. Hutan pinus yang tidak seberapa luasnya di depan rumahmu sedang menyaksikan angin senja merayu mereka tuk meninggalkan dahannya setiap hari.
Debu-debu pun masih bermain di awan lepas sembari mengumbar asma bagi anak-anak tetangga yang asyik bermain di halaman rumah.
Begitulah musim kering berjalan mengikuti iramanya. Namun, engkau tidak sedikitpun menggubris. Andai saja kau terawang pandanganmu sekian jauh, engkau kan mendapati sejuta gulung ombak yang berlomba-lomba mencium bibir pantai.
Sebuah pemandangan yang asyik dan mungkin bisa membuatmu perlahan melupakannya untuk sementara waktu.
• Istri Kepergok Berzina dengan Lelaki Lebih Kaya di Kamar Kos, Si Istri Malah Gigit Telinga Suaminya
Engkau Dihantui Bayanganmu Sendiri.
Engkau tiba pada sebuah masa. Entah, tetapi yang pasti masa depan. Dua tahun sudah kau menanti di beranda yang sama itu. Ibumu merasa prihatin dengan anaknya yang seorang diri, tanpa sedikitpun berita mampir dari medan perang.
Suamimu masih ada dan berjuang di atas misi yang dibawanya dari rumah: pulang dengan membawa sekujur tubuh yang utuh dan membangun kembali rumah tangga yang renggang.
Dari beranda itulah melayang seuntai doa dan rindu yang menyatu bersama angin yang berhembus dari sisi barat.
Timur Tengah memang tidak pernah aman.
Tidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan tempat pertemuan massa yang datang dengan rasa geram berkecamuk dalam dada yang siap meledak kecuali, barangkali ini yang mendekati-kebrutalan dan chaos.
• Diduga Korban Pembunuhan, Warga Temukan Kerangka Manusia di Kebun Belakang Rumah
Sesekali ada pertumpahan darah, yang lain baku bacok, lain lagi uji kekuatan siapa yang paling cepat mengumpulkan mayat manusia sebanyak-banyaknya.
Belantara padang yang penuh hiruk-pikuk. Juga pohon-pohon kurma yang letih menepis peluru yang berkeliaran dan menampar dahan-dahannya.
Sekujur tubuh yang berharga itu sedang bermain-main di sana. Ia berani. Malam-malam penuh dengan bayangan yang tidak terduga. Tak terkira banyaknya menghampiri lubukmu. Bantal dan kasur tidak punya cara lain tuk menerormu setiap malam.
Suamimu itu pria yang setia.
Tidak pernah terlambat ia mengabarimu setiap malam. Kau pun telah berani meninggalkan kebiasaan lamamu selama dua tahun terakhir. Syukur engkau telah menyadari keanehan itu. Baiklah.
• Tidak Perlu Antri, Bayar di Pegadaian Melalui Aplikasi PSDS
Oh iya, tetapi ada sesuatu yang berbeda selama satu mingu terakhir. Tidak ada lagi barisan emoticons yang membanjiri beranda WhatsApp.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/beranda-rumah-dan-senja-yang-bisu.jpg)