Berita Cerpen

Cerpen Petrus Nandi: Beranda Rumah dan Senja yang Bisu

Cerpen Petrus Nandi: Beranda Rumah dan Senja yang Bisu. Entah sudah sekian menit kau menunggu di sana.

Cerpen Petrus Nandi: Beranda Rumah dan Senja yang Bisu
wordpres
Beranda rumah dan senja yang bisu 

POS-KUPANG.COM|KUPANG -

I
TAK terjangkau bilangan. Entah sudah sekian menit kau menunggu di sana. Kau menantikan kembalinya sebuah kisah yang terlanjur membuat dirimu merasa pernah memiliki dunia bersamanya. Hanya kalian berdua.

Engkau dan dia. Kisah itu telah pergi, menghilang dan lenyap di sela remang awan yang melintas di samping rumah sore itu. Ia pergi (untuk sementara waktu) dengan membawa sosok yang pernah hadir dan mengisi hari-harimu.

Ada sebuah wajah manis yang selalu melintas di kepalamu dan ada serumpun rindu yang berdesakan menyusup ke rongga dadamu dan memaksamu untuk pasrah jika saja suatu saat ia membuatmu kecewa.

Hj. Andi Riski Nur Cahya: Partisipasi Politik Perempuan

Kisah itu pernah datang tanpa meminta pertimbangan darimu dan kini ia pergi begitu saja dengan menyisakan sebuah tugas bagimu untuk setia dalam penantian itu.

Ia bahkan berani dan tega menggantung hidupmu pada sebuah rentang waktu di mana rindu dengan dahsyatnya menampar dinding hatimu, bahkan merobek imanmu, saat engkau masih menggenggam harapan bahwa sosok itu akan kembali pada waktunya, meski terkadang kau sedikit ragu.

"Sederet senja ini hanyalah dua kisah yang tidak jauh berbeda: senja tanpa kata dan aku yang duduk mematung di beranda ini. Tidak lebih. Segelas kopi yang telah kuseduh menjadi saksi kebisuan raga yang dipasung liarnya imajinasi: tentang engkau yang datang duduk di samping sice ini, membelai lembut rambutku sambil menyaksikan rinai hujan yang membasahi bumi di musim dureng yang panjang, dan jiwa kita menari dalam lantunan 'A Thousand Year', hingga aku terlelap di atas bahumu. Barisan kata mulai memenuhi diary kecilmu.

Ramalan Zodiak Cinta Besok Selasa 27 Agustus 2019, Aquarius Bergelora, Aries Bosan, Zodiak Lain?

II
Masih tersisa bekas-bekas kaki pada tiga pijakan pertama saat ia berangkat ke medan itu tiga hari yang lalu. Masih membekas juga beberapa titik debu yang terkibas dari kasutnya saat ia pamit dan kini menempel di sudut rumah, dekat dengan tempat di mana engkau menunggu kini.

Engkau masih setia menjaga butir-butir itu. Tidak sedikitpun kau biarkan angin senja mencurinya sebab di sanalah ia menitipkan rindunya.

Entah bagaimakah engkau menamai sederet senja yang telah kau lewati: kopi yang selalu terlambat kau seruput hingga semut-semut kebagian melahapnya sebelum masuk ke dalam mulutmu, butir-butir debu yang selalu kau jaga dan nyaris kau baptis sebagai sosok sekelompok dewa yang dipuja nenek moyangmu, gumpalan awan yang tak memberimu jawaban atas pertanyaan yang selalu berkeliaran di beranda otakmu.

Halaman
1234
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved