Opini Pos Kupang
Budaya Belas Kasih di Era Revolusi Industri 4.0
Jika Anda melepas sedikit, Anda akan dapatkan sedikit damai, jika Anda melepas banyak, Anda akan menemukan banyak damai"
Manusia yang selalu dinamis dan berusaha untuk menemukan hal-hal yang baru dan bernilai dalam ziarah kehidupan ini tetap membutuhkan persekutuan dan kebersamaan.
Ucapan Syukur dan Sikap Positif
Peristiwa penggandaan roti dan ikan menegaskan pentingnya ucapan berkat dan tindakan shere -distribusi dalam hidup.
Bagi Yesus budaya belas kasih mesti diwarnai dengan sikap religiositas dan humanis.
Di satu pihak manusia diajak untuk bersyukur kepada Allah atas segala potensi yang tersedia. Dan di sisi lain manusia diajak mengembangkan segala potensi yang ada serta sikap siap sedia untuk berbagi dengan sesama.
Yesus memberi contoh yang menarik untuk diteladani. Yakni bersyukur, kreatif dan berbagi. Manusia yang berbudaya belas kasih selalu sadar bahwa banyak hal yang dimiliki saat ini adalah anugerah belas kasih dari Allah.
Karena itu manusia juga terpanggil untuk menghidupkan budaya belas kasih dalam hidup bersama. Kesadaran tentang kebaikan demi kebaikan yang telah diterima dari Allah membantunya untuk berlaku belas kasih terhadap sesama yang miskin, haus, lapar dan yang termarginalisasi.
Kecenderungan individual yang dijiwai dengan roh kebebasan dan tendensi eksklusif pada era ini mudah-mudahan diimbangi dengan spirit budaya belas kasih yang inklusif, peka dan peduli terhadap sesama manusia lintas suku, agama, ras, komunitas dan negara.
Jika demikian maka kemajuan mutakhir era revolusi industri 4.0 dapat ditanggapi dengan ucapan syukur dan keterbukaan hati untuk menggunakannya sebagai sarana demi mempercepat pencapaian tujuan pembangunan dan meningkatkan kualitas hidup manusia sebagai pribadi Citra Allah yang berdaya dan bermartabat.
Optimisme dalam menyikapi revolusi industri 4.0 memberi peluang dan ruang bagi penguatan hidup manusia di berbagai bidang asalkan saja di tengah percepatan industri teknologi dan informasi manusia tetap merawat kepekaan hati nurani.
Kepedulian terhadap sesama dan ketajaman daya kritis memilih yang terbaik untuk mendukung kebaikan dan harmonitas hidup bersama baik di keluarga, komunitas, masyarakat dan negara.
Dalam konteks ini manusia diajak untuk bersikap bijaksana dalam menggunakan seluruh sarana teknologi.
Kebijaksanaan selalu berkaitan erat dengan kejernihan dan kepekaan hati untuk melihat dan menangkap apa yang tidak terlihat kasat mata.
Sebagaimana kata Ajahn Brahm dalam Hello Happines (2015.p.60)," Wisdom is not learning but seeing clearly what can never be taught"; Kebijaksanaan bukanlah belajar, namun melihat dengan jernih apa yang tidak pernah bisa diajarkan.
Marilah bersyukur atas anugerah Allah yang dijumpai dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi abad ini seraya dengan bijaksana menggunakannya untuk kebaikan hidup manusia yang masih berziarah sebagai makhluk yang terbatas.
Yang tetap membutuhkan persekutuan dengan Allah pemilik kehidupan dan pada saat yang sama membangun solidaritas sosial yang inklusif dengan sesama sebagai perwujudan budaya belas kasih yang manusiawi. Nah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/rdmaxi-bria.jpg)