Minggu, 26 April 2026

Opini Pos Kupang

Budaya Belas Kasih di Era Revolusi Industri 4.0

Jika Anda melepas sedikit, Anda akan dapatkan sedikit damai, jika Anda melepas banyak, Anda akan menemukan banyak damai"

Editor: Ferry Jahang
Dok Pribadi
Maxi u Bria 

"Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu..."( Mrk 8: 2). Hati Yesus yang peka dan peduli terhadap kondisi di sekitar-Nya, menggerakkan hati-Nya untuk berbuat sesuatu secara nyata demi menolong orang-orang yang lapar dan miskin.

Spiritualitas hati yang berbelas kasih jadi penggerak tindakan untuk menolong sesama manusia.

Yesus menunjukkan bahwa upaya menolong sesama juga harus memperhatikan sumber daya yang ada pada mereka.

Kisah penggandaan roti dimulai dengan identifikasi tentang potensi dan kekuatan sumber daya yang dimiliki oleh manusia.

Dalam konteks ini penggandaan roti oleh Yesus yang diawali dengan ucapan syukur dan berkat atas potensi yang ada dan dimiliki saat itu yakni 7 buah roti dan beberapa ekor ikan kecil.

Yesus memberi contoh bahwa upaya untuk menolong sesama tetap melibatkan mereka sebagai subjek yang berdaya yang dapat terlibat memberi kontribusi terhadap pemecahan masalah yang dihadapi.

Budaya belas kasih tidak memandang orang-orang miskin dan lapar sebagai objek melainkan sebagai subjek yang berdaya dan memiliki potensi untuk berkembang dan dapat menolong diri sendiri.

Kita dapat belajar dari konsep budaya belas kasih yang ditunjukkan Yesus. Hati dan pikiran-Nya peka dan terbuka atas persoalan yang dialami manusia.

Yesus mengundang dan melibatkan manusia untuk berpikir tentang realitas yang dihadapi.

Berikut menawarkan solusi yang efektif dengan menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi dan sumber daya untuk menjawab persoalan yang dihadapi.

Budaya belas kasih memicu partisipasi manusia sebagai subjek bermartabat yang terpanggil untuk berpikir dan bertindak bersama dalam solidaritas sosial yang memberdayakan.

Dalam era revolusi industri 4.0 ketika setiap orang memiliki handphone terbarukan dengan pilihan informasi menarik, masih adakah kepekaan sosial dan waktu yang disediakan untuk merawat budaya belas kasih?

Apakah saat ruang komunikasi keluarga dan komunitas dirampas oleh tendensi perhatian pada sarana komunikasi, masih ada budaya belas kasih yang menyatukan?

Semestinya ada peluang karena manusia adalah makhluk istimewa yang memiliki hati nurani dan akal budi.

Lebih dari itu secara manusiawi sarana-sarana komunikasi yang ada pada batasan penggunaan tertentu menghadapkan manusia pada kejenuhan dan kebosanan.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved