Minggu, 26 April 2026

Opini Pos Kupang

Budaya Belas Kasih di Era Revolusi Industri 4.0

Jika Anda melepas sedikit, Anda akan dapatkan sedikit damai, jika Anda melepas banyak, Anda akan menemukan banyak damai"

Editor: Ferry Jahang
Dok Pribadi
Maxi u Bria 

Budaya Belas Kasih di Era Revolusi Industri 4.0

RD.Maxi Un Bria
Dosen Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang.

"If you let go a little, you will have a little peace, if you let go a lot, you will have a lot of peace ": Jika Anda melepas sedikit, Anda akan dapatkan sedikit damai, jika Anda melepas banyak, Anda akan menemukan banyak damai" ( Ajahn Brahm).

Kini, kita berada di era revolusi industri 4.0 pada mana loncatan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi merambah sangat cepat.

Kehadiran sarana komunikasi yang canggih telah membantu mempercepat komunikasi dan penyebaran informasi kepada berbagai pihak.

Masyarakat dunia boleh bergembira dan bersyukur karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi telah menghubungkan berbagai pihak dan memberi peluang bagi bertumbuhnya kerja sama di berbagai bidang lintas ilmu, iman, komunitas, budaya dan negara.

Namun di pihak lain wajah pemisahan, konflik sosial oleh hoax yang disebar melalui internet patut diwaspadai.

Paus Fransiskus memandang kemajuan teknologi komunikasi, internet sebagai anugerah Tuhan dan sarana komunikasi.

Karena itu kehadiran sarana komunikasi internet pada abad ini kiranya dapat digunakan secara bijak untuk membangun komunikasi yang harmonis dan mempersatukan, mempropagandakan nilai-nilai perdamaian dan toleransi serta menjunjung tinggi nilai martabat manusia.

Kebaikan dan kesejahteraan umat manusia sebagai tujuan dari pembangunan dan kemajuan ilmu pengetahuan menuntut para pihak untuk dapat mendedikasikan ilmu pengetahuan dan komunikasi bagi bonum commune dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

Kita ditantang untuk mengendalikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bijak agar nilai martabat manusia tetap mendapat tempat yang layak dalam kancah kemajuan industri 4.0.

Pertanyaannya adalah apakah pada era revolusi 4.0 kini, masih ada budaya belas kasih yang meneguhkan persatuan dan kebersamaan? Konsep budaya belas kasih relevan untuk dihidupi.

Pada 2000 tahun yang silam Yesus telah menghadirkan konsep belas kasih sebagai pijakan untuk menghadirkan kebaikan bagi banyak orang.

Konsep belas kasih dimulai dengan kepekaan hati dan kejelian rasional untuk membaca persoalan dan kondisi terbarukan yang terjadi di sekitar.

Dalam Kisah Penggandaan roti (Markus 8:1-10) Yesus mempertegas konsep-Nya tentang budaya belas kasih.

"Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu..."( Mrk 8: 2). Hati Yesus yang peka dan peduli terhadap kondisi di sekitar-Nya, menggerakkan hati-Nya untuk berbuat sesuatu secara nyata demi menolong orang-orang yang lapar dan miskin.

Spiritualitas hati yang berbelas kasih jadi penggerak tindakan untuk menolong sesama manusia.

Yesus menunjukkan bahwa upaya menolong sesama juga harus memperhatikan sumber daya yang ada pada mereka.

Kisah penggandaan roti dimulai dengan identifikasi tentang potensi dan kekuatan sumber daya yang dimiliki oleh manusia.

Dalam konteks ini penggandaan roti oleh Yesus yang diawali dengan ucapan syukur dan berkat atas potensi yang ada dan dimiliki saat itu yakni 7 buah roti dan beberapa ekor ikan kecil.

Yesus memberi contoh bahwa upaya untuk menolong sesama tetap melibatkan mereka sebagai subjek yang berdaya yang dapat terlibat memberi kontribusi terhadap pemecahan masalah yang dihadapi.

Budaya belas kasih tidak memandang orang-orang miskin dan lapar sebagai objek melainkan sebagai subjek yang berdaya dan memiliki potensi untuk berkembang dan dapat menolong diri sendiri.

Kita dapat belajar dari konsep budaya belas kasih yang ditunjukkan Yesus. Hati dan pikiran-Nya peka dan terbuka atas persoalan yang dialami manusia.

Yesus mengundang dan melibatkan manusia untuk berpikir tentang realitas yang dihadapi.

Berikut menawarkan solusi yang efektif dengan menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi dan sumber daya untuk menjawab persoalan yang dihadapi.

Budaya belas kasih memicu partisipasi manusia sebagai subjek bermartabat yang terpanggil untuk berpikir dan bertindak bersama dalam solidaritas sosial yang memberdayakan.

Dalam era revolusi industri 4.0 ketika setiap orang memiliki handphone terbarukan dengan pilihan informasi menarik, masih adakah kepekaan sosial dan waktu yang disediakan untuk merawat budaya belas kasih?

Apakah saat ruang komunikasi keluarga dan komunitas dirampas oleh tendensi perhatian pada sarana komunikasi, masih ada budaya belas kasih yang menyatukan?

Semestinya ada peluang karena manusia adalah makhluk istimewa yang memiliki hati nurani dan akal budi.

Lebih dari itu secara manusiawi sarana-sarana komunikasi yang ada pada batasan penggunaan tertentu menghadapkan manusia pada kejenuhan dan kebosanan.

Manusia yang selalu dinamis dan berusaha untuk menemukan hal-hal yang baru dan bernilai dalam ziarah kehidupan ini tetap membutuhkan persekutuan dan kebersamaan.

Ucapan Syukur dan Sikap Positif

Peristiwa penggandaan roti dan ikan menegaskan pentingnya ucapan berkat dan tindakan shere -distribusi dalam hidup.

Bagi Yesus budaya belas kasih mesti diwarnai dengan sikap religiositas dan humanis.

Di satu pihak manusia diajak untuk bersyukur kepada Allah atas segala potensi yang tersedia. Dan di sisi lain manusia diajak mengembangkan segala potensi yang ada serta sikap siap sedia untuk berbagi dengan sesama.

Yesus memberi contoh yang menarik untuk diteladani. Yakni bersyukur, kreatif dan berbagi. Manusia yang berbudaya belas kasih selalu sadar bahwa banyak hal yang dimiliki saat ini adalah anugerah belas kasih dari Allah.

Karena itu manusia juga terpanggil untuk menghidupkan budaya belas kasih dalam hidup bersama. Kesadaran tentang kebaikan demi kebaikan yang telah diterima dari Allah membantunya untuk berlaku belas kasih terhadap sesama yang miskin, haus, lapar dan yang termarginalisasi.

Kecenderungan individual yang dijiwai dengan roh kebebasan dan tendensi eksklusif pada era ini mudah-mudahan diimbangi dengan spirit budaya belas kasih yang inklusif, peka dan peduli terhadap sesama manusia lintas suku, agama, ras, komunitas dan negara.

Jika demikian maka kemajuan mutakhir era revolusi industri 4.0 dapat ditanggapi dengan ucapan syukur dan keterbukaan hati untuk menggunakannya sebagai sarana demi mempercepat pencapaian tujuan pembangunan dan meningkatkan kualitas hidup manusia sebagai pribadi Citra Allah yang berdaya dan bermartabat.

Optimisme dalam menyikapi revolusi industri 4.0 memberi peluang dan ruang bagi penguatan hidup manusia di berbagai bidang asalkan saja di tengah percepatan industri teknologi dan informasi manusia tetap merawat kepekaan hati nurani.

Kepedulian terhadap sesama dan ketajaman daya kritis memilih yang terbaik untuk mendukung kebaikan dan harmonitas hidup bersama baik di keluarga, komunitas, masyarakat dan negara.

Dalam konteks ini manusia diajak untuk bersikap bijaksana dalam menggunakan seluruh sarana teknologi.

Kebijaksanaan selalu berkaitan erat dengan kejernihan dan kepekaan hati untuk melihat dan menangkap apa yang tidak terlihat kasat mata.

Sebagaimana kata Ajahn Brahm dalam Hello Happines (2015.p.60)," Wisdom is not learning but seeing clearly what can never be taught"; Kebijaksanaan bukanlah belajar, namun melihat dengan jernih apa yang tidak pernah bisa diajarkan.

Marilah bersyukur atas anugerah Allah yang dijumpai dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi abad ini seraya dengan bijaksana menggunakannya untuk kebaikan hidup manusia yang masih berziarah sebagai makhluk yang terbatas.

Yang tetap membutuhkan persekutuan dengan Allah pemilik kehidupan dan pada saat yang sama membangun solidaritas sosial yang inklusif dengan sesama sebagai perwujudan budaya belas kasih yang manusiawi. Nah. (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved