Opini Pos Kupang
Melawan Stunting itu Penting
Proporsi balita gizi buruk yang cukup besar yakni 29,5 persen. Artinya bahwa tiga dari sepuluh balita di NTT mengalami gizi buruk.
Pemenuhan Gizi dan Peningkatan Pelayanan Kesehatan
Pencegahan terhadap stunting perlu dilakukan sedini mungkin, yakni sejak ibu sedang mengandung. Harus dipastikan bahwa asupan gizi bagi ibu hamil terpenuhi.
Maka dari itu, ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi makanan bergizi selama masa kehamilan. Ibu hamil dapat mengonsumsi suplemen zat besi sesuai anjuran dokter jika dibutuhkan.
Selain itu, ibu hamil harus memastikan kondisi kehamilan dengan cara melakukan cek kesehatan secara rutin ke bidan atau dokter atau sering disebut dengan pelayanan antenatal.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemeskes) tahun 2017, persentase rata-rata cakupan pelayanan antenatal K1 di NTT adalah sebesar 78,2 persen.
Artinya bahwa dari 100 orang ibu hamil sebanyak 78 orang yang melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk memeriksakan kehamilan.
Sementara itu, persentase rata-rata cakupan pelayanan antenatal K4 yakni sebesar 56,6 persen.
Hal ini menandakan bahwa dari 100 orang ibu hamil hanya 56 orang yang mendapatkan pelayanan sesuai standar yakni paling sedikit empat kali kunjungan dengan distribusi sekali pada trisemester pertama, sekali pada trisemester kedua dan dua kali pada trisemester ketiga.
Padahal, Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kesehatan Provinsi NTT untuk cakupan pelayanan K4 sebesar 95 persen.
Jika melihat konsumsi masyarakat NTT, rata-rata konsumsi kalori perkapita sehari adalah sebesar 2.031,60 kkal dimana sumber kalori terbesar berasal dari padi-padian (1.217,45 kkal) dan umbi-umbian (60,24 kkal.
Angka ini menunjukkan konsumsi beras sehari-hari cukup tinggi atau dengan kata lain porsi olahan beras banyak tersaji dalam piring makanan masyarakat NTT.
Fakta yang menarik lainnya, rata-rata konsumsi protein perkapita perhari sebesar 55,92 gram yang justru sumber terbanyak dari padi-padian (28,90 gram).
Sebagai provinsi kepulauan, rata-rata konsumsi protein perkapita dari kelompok ikan hanya sebesar 6,72 gram perhari sedangkan untuk konsumsi makanan sumber protein lainnya seperti daging, telur, dan susu masih rendah.
Bahkan, proporsi bayi berusia di bawah dua tahun (baduta) yang mendapatkan makanan beragam sekitar 23 persen.
Perlu adanya sosialisasi akan pentingnya gizi seimbang dalam porsi piring makanan perhari karena tujuan mengonsumsi makanan tidak hanya sekadar untuk mengatasi rasa lapar, akan tetapi untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh.