Editorial Pos Kupang

Untung dan Rugi Penutupan Lokalisasi KD

Namun sesuai cerita masyarakat setempat, wilayah ini sebelumnya hanya terdiri dari hamparan karang dan semak belukar.

POS-KUPANG.COM - Lokalisasi Karang Dempel atau lebih terkenal dengan nama KD, sangat terkenal di Kota Kupang, bahkan Nusa Tenggara Timur (NTT). Tak ada catatan resmi kapan lokalisasi ini mulai beroperasi.

Namun sesuai cerita masyarakat setempat, wilayah ini sebelumnya hanya terdiri dari hamparan karang dan semak belukar. Cerita berawal dari seorang warga setempat yang menyewakan kamar rumahnya untuk digunakan para pelaut memadu kasih atau berkencan. Lama-kelamaan berkembang. Jumlah kamar diperbanyak sesuai kebutuhan.

BREAKING NEWS: Setelah Mabuk Sopi, Frans Bakar Rumahnya Sendiri

Narapidana Bebas Pegang HP Tipu Polwan Dan Sebar Foto Syur Ini Tanggapan Kemenkumham

Tak Hanya Foto Syur Polwan Brigadir Dewi Juga Bikin Video Hot Berdurasi 11 Menit

Drakor Clean With Passion For Now Rating Tertinggi di Episode 1, Malam ini Episode 2 Tayang

Seiring geliat ekonomi seputaran Tenau yang berkembang pesat, warga kemudian membangun kamar-kamar khusus. Kamar-kamar itu disewa oleh para perempuan yang menunggu tamu atau pelanggannya. Dan, entah siapa yang memberi nama, Karang Dempel menjadi nama lokasi yang izin resminya adalah pemondokan, bukan lokalisasi.

Sesuai perintah pemerintah pusat, semua lokalisasi di Indonesia harus ditutup. Karang Dempel pun kena dampaknya. Lokasi yang sangat terkenal ini ikut ditutup, menyusul lokalisasi lainnya di Indonesia. Sebut misalnya yang paling menarik perhatian publik yaitu Lokalisasi Doly di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.

Ada demo dan protes. Ada aksi penolakan baik secara perorangan maupun kelompok. Ada yang setuju dan tidak setuju. Tapi Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore bersikukuh menutup lokalisasi tersebut. Secara resmi, terhitung sejak 1 Januari 2019, lokalisasi yang sudah ikut menyumbang PAD bagi Kota Kupang itu ditutup.

Apakah ada efek ikutan? Apa untung dan ruginya. Terlepas dari informasi bahwa saat ini para penghuni lokalisasi itu masih menerima tamu, pemerintah pasti sudah berhitung apa efeknya.

Apa dampaknya bagi masyarakat setempat, termasuk ketakutan para PSK akan bebas beraktivitas yang bisa menimbulkan dampak lebih serius. Sebut misalnya terkait penyebaran virus HV/AIDS dan penyakit sosial lainnya.

Kini bukan soal setuju atau tidak setuju KD ditutup. Kalau itu sudah menjadi keputusan pemerintah, tidak ada alasan untuk menolak. Tapi keadilan mesti tetap diperjuangkan. Apalah hanya lokalisasi KD saja yang ditutup?

Bukankah di Kota Kupang ada beberapa hotel yang izinnya penginapan, namun aktivitasnya sama seperti lokalisasi. Lokasi dan nama hotel-hotel tersebut sudah tak asing lagi bagi masyarakat Kota Kupang. Apakah pemerintah tidak mengetahuinya?

Efek dari penutupan lokalisasi KD nampaknya masih akan berlanjut. Ada penghuni KD yang ikut imbauan untuk pulang kampung, namun ada pula yang masih bertahan dan merasa berhak tetap tinggal. Ada juga pengusaha atau penyedia kamar termasuk tempat karaoke, warung dan kios yang akan kehilangan pendapatan. Pemerintah tidak boleh lepas tangan. Mesti tetap memberikan solusi terbaik.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved