Ternyata Bahan Ini yang Memicu Jembatan Liliba Kupang Bergoyang
Kepala Dinas Pekerjaan Umun dan Tata Ruang (PUTR) Provinsi NTT, Ir. Andre Koreh menangapi kabar tentang Jembatan Liliba bergoyang.
Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Masyarakat Kota Kupang gempar. Jembatan Liliba yang berada di Jalan Piet a Tallo, Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo dikabarkan bergoyang. Khawatir akan keselamatannya, sejumlah pengguna jalan memilih tidak melewati Jembatan Liliba.
Tiga pegawai Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUTR) Provinsi NTT langsung diterjunkan ke lokasi untuk memantau jembatan yang sudah berusia 28 tahun, terhitung sejak dibangun tahun 1990/1991.
"Ini aman-aman saja. Kalau dia goyah, pasti kita bisa merasakan dan para pengemudi sepeda motor akan kehilangan keseimbangan," ujar seorang pegawai saat berada di Jembatan Liliba, Senin (26/11/2018).
Baca: Ramalan Zodiak Rabu 28 November 2018, Pisces Perlu Jaga Jarak & Scorpio Jangan Panik
Baca: Drakor Clean With Passion For Now Rating Tertinggi di Episode 1, Malam ini Episode 2 Tayang
Baca: Film BTS Burn The Stage: The Movie Menjadi Film Terlaris di Amerika
Kepala Balai Jalan Wilayah NTT, Muhktar Napitupulu bersama Kapolres Kupang Kota, AKBP Satrya Perdana Panuntung Tarung Binti juga turun memantau kondisi Jembatan Liliba.
Pada Senin siang, arus lalu lintas terpantau normal. Pengendara tampak tenang memacu kendaraannya. Beberapa warga mengungkapkan, sempat terjadi kemacetan di sekitar jembatan, Senin (26/11/2018) pagi namun tidak berlangsung lama. Penyebabnya, dua mobil yang menabrak pembatas jalan diderek oleh petugas kemudian dibawa ke kantor polisi.
Warga mengaku penasaran setelah mendapat informasi yang beredar bahwa Jembatan Liliba bergoyang. "Kami penasaran, makanya kami ke sini," ujar seorang warga. Seorang sopir taksi mengaku menghindari jembatan Liliba. "Jembatan Liliba goyah, katanya mau ambruk. Sejak pagi ada kawan-kawan yang beritahu, jadi saya jalan putar jauh," kata sopir itu.
Kepala Dinas Pekerjaan Umun dan Tata Ruang (PUTR) Provinsi NTT, Ir. Andre Koreh menangapi kabar tentang Jembatan Liliba bergoyang. "Kalau goyang, sebenarnya jembatan itu memang goyang karena ada elastomer," kata Andre saat ditemui di ruang kerjanya.
Andre menjelaskan bahwa pada bagian bawah jembatan antara beton pada pilar jembatan dengan rangka jembatan wajib dipasang karet elastomer yang fungsinya untuk menjaga elastisitas jembatan. Dengan demikian, bergoyangnya jembatan itu adalah hal yang biasa terjadi pada hampir semua jembatan apalagi pada saat jembatan memikul beban maksimum pada saat trafik padat.
Andre menjelaskan, Jembatan Liliba dibangun empat tahap, dimulai tahun 1990/1991 dan selesai tahun 1993/1994 menghabiskan anggaran sebesar Rp 3.527.341.655,29 yang bersumber dari APBD I Murni Inpres Peningkatan Jalan Provinsi (IPJP). Jembatan sepanjang 135 meter itu dibangun dengan konstruksi Rangka Baja Australia Klas A.
Menurutnya, desain sebuah jembatan memperhatikan Faktor Keamanan (FK) jembatan yaitu 1,5 sampai 2. Artinya semua perhitungan konstruksi seperti kebutuhan pembesian, dimensi beton dan ukuran baja untuk memikul beban bergerak maupun beban diam diperhitungkan 1,5 sampai 2 kali dari dimensi perhitungan.
"Artinya tanpa faktor keamanan pun jembatan tersebut akan mampu memikul beban yang ada apalagi dengan memperhitungkan FK. Dengan demikian kehandalan jembatan Liliba masih cukup untuk memikul beban di atasnya baik beban sendiri, beban bergerak maupun benan diam," katanya.
Andre menginformasikan bahwa rata-rata umur teknis jembatan didesain kurang lebih 50 tahun. Sementara usia teknis Jembatan Liliba saat ini baru 28 tahun sehingga dalam hal tidak terjadi kondisi ekstrem (gempa bumi/bencana alam lainnya) maka jembatan tersebut secara teknis dapat dipastikan masih dalam keadaan aman untuk dilalui.
Dia mengungkapkan setiap tahun melalui APBN dialokasikan anggaran untuk perawatan rutin Jembatan Liliba khusus untuk pengecekan kondisi jembatan, pengencangan baut-baut serta pengecatan yang dimaksudkan untuk mempertahankan umur teknis jembatan.
Andre Koreh menjelaskan pada tanggal 25 November 2018 malam terjadi pengalihan arus lalu lintas pada jembatan tersebut ke jalur Timor Raya. Namun hal tersebut bukan karena persoalan teknis jembatan melainkan karena adanya kecelakaan lalu lintas. Pengalihan tersebut untuk mengurai kemacetan.
Bukan Jembatan Tua
Kepala Balai Jalan Wilayah NTT, Muhktar Napitupulu mengatakan, jembatan di mana-mana harus ada goyangannya. "Itu namanya melendut, dan itu dimungkinkan dari aspek teknis. Jadi semuanya stabil," katanya.
Muhktar menegaskan, kecelakaan lalu lintas yang terjadi tidak berpengaruh terhadap struktur jembatan. "Kemudian ada yang namanya getaran, itu tidak ada masalah. Semua jembatan memang harus ada getaran, dua setengah sampai tiga hets, itu tidak ada masalah," tandasnya.
"Tidak ada pengaruh apapun terhadap struktur rangka terkait dengan fondasi dari jalan. Terkait dengan struktur kekuatan jembatan juga tidak ada masalah," tambahnya.
Menurut Muhktar secara teknis, struktur Jembatan Liliba belum dikategorikan tua, masih sedang-sedang. Meski telah memasuki usia 28 tahun, tidak ada persoalan dengan usia jembatan Liliba. "Kalau jembatan itu dikatakan 50 tahun, baru kita memikirkan duplikasinya. Tapi ini masih sangat layak," sebutnya.
Sekretaris Dinas PUPR Kota Kupang, Devi Loak mengatakan, gerakan pada jembatan disebabkan beberapa faktor. "Jembatan ini kan sendi rool. Ini harus kita lihat di perencanaan. Kalau kita lihat, konstruksi itu tidak pakai pil, jadi kemungkinan naik-turun itu ada," katanya.
Menurutnya, pemantauan harus dilakukan pada Jembatan Liliba untuk menjaga delta (penurunan) pada jembatan. Usia bahan atau konstruksi pun harus menjadi perhatian. "Kemudian lalu lintas rata-rata harian yang terus meningkat, ukuran kendaraan dan jumlah yang tidak dibatasi, ini juga menjadi faktor penyebab delta atau penurunan tadi," ujar Devi Loak.
Devi Loak mengatakan, kejadian Senin pagi bukan bagian ujung Jembatan Liliba yang bergerak. "Kalau ujung yang bergerak, bisa patah. Tapi ini kan bukan di ujung," katanya.
Dia mengingatkan untuk memperhatikan hal-hal yang kini menjadi rutinitas tiap hari di jembatan tersebut. Jika lalu lintas rata-rata harian padat, tidak ada pengawas kendaraan yang lewat dengan ketentuan beban tertentu, itu memperpendek usia penggunaan. "Selain itu, jumlah over load, lalu lintas yang padat berjam-jam, ini sangat mempengaruhi usia jembatan," ujarnya.
Kapolres Kupang Kota AKBP Satrya Perdana Panuntung Tarung Binti membenarkan bahwa sepanjang Senin, masyarakat Kota Kupang dihebohkan dengan informasi Jembatan Liliba bergoyang dan akan ambruk. Pengguna jalan diminta tidak melintasi Jembatan Liliba.
"Banyak terjadi perbincangan di media sosial katannya bahwa jembatan Liliba goyang, itu tidak benar," tegas Satrya saat dikonfirmasi Senin malam. Mantan Kasatrolda Polair Polda NTT ini menjelaskan, terjadi pengalihan arus lalu lintas oleh polisi karena ada kecelakaan yang cukup parah di jalur setelah Jembatan Liliba. Peristiwa itu terjadi Minggu (25/11/2018) malam yang menyebabkan arus lalu lintas terhambat.
"Yang benar terjadi laka lantas di jembatan, yang mengakibatkan terjadinya pengalihan arus lalu lintas dimana kendaraan dianjurkan untuk melalui alternatif jalan yang lain," ujar Satrya.
Ia mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kondisi Jembatan Liliba. "Masyarakat tidak perlu khawatir, itu terjadi hanya karena sebagian masyarakat salah menyimpulkan terkait informasi," imbuhnya.
Sementara itu Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Kota Kupang, Nikky Ully mengingatkan Pemkot Kupang segera berkoordinasi dengan Pemprov NTT terkait kondisi Jembatan Liliba. "Kami hanya mengingatkan saja, karena secara usia perlu dievaluasi lagi. Secara usia jembatan tersebut sudah melebihi masa pemeliharaan pada suatu pekerjaan teknis, sehingga jembatan tersebut goyah," kata Nikky Ully.
Menurutnya, perlu dilakukan survei ulang bangunan Jembatan Liliba, dan dilakukan penguatan secara teknis. "Dengan adanya pekerjaan di Bundara PU, terjadi penyempitan jalan sehingga mengakibatkan kendaraan yang menuju jembatan tersebut terjadi macet, dan terjadi penumpukan kendaraan sehingga jembatan tersebut goyah," ujarnya. (kas/dea/jj/kk/hh)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/tiga-orang-pegawai-dinas-pekerjaan-umum-memantau-jembatan-liliba-kupang.jpg)