Opini Pos Kupang
Euforia Sepakbola dan Pilkada
Apa hubungan antara sepakbola dan pilkada? Nilai dan semangatnya kurang lebih sama yang bisa kita petik sebagai pembelajaran.
Ketiga, penataan struktur/komposisi, meramu tim yang solid dalam sepakbola bukan pekerjaan mudah. Pemain pada posisi sebagai striker misalnya tentu telah sekian lama berproses hingga pas dalam posisi demikian.
Di sisi lain yang bersangkutan mesti bersaing dengan pemain lain. Katakan tim Argentina memiliki Lionel Messi sebagai penyerang tapi pelatih masih punya pilihan lain karena di sana ada Gonzalo Higuain, Sergio Aguero sehingga mereka harus rela di bangku cadangkan meski pemain hebat di klubnya.
Dalam penataan birokrasi seorang kepala daerah terpilih tentu memiliki ukuran-ukuran normatif maupun non normatif dalam menata birokrasi untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan selama masa kepemimpinannya.
Dan itulah kewenangannya. Tim yang solid dalam pemerintahan menjadi salah satu jaminan untuk mengimplementasikan visi dan misi kepala daerah.
Untuk membentuk tim nasional sepakbola Argentina yang solid, pelatih merekrut pemain dari klub ternama Eropa karena mereka telah teruji kemampuannya.
Begitu pun kepala daerah yang akan menata birokrasi tentu akan menyeleksi sesuai ukuran-ukuran yang berlaku. Polarisasi dalam proses pilkada mungkin menjadi hal yang harus dipertimbangkan namun jangan sampai pertimbangan tersebut menciptakan disharmoni dalam penataan birokrasi.
Karena dalam berdemokrasi pada intinya kita menghargai perbedaan pandangan dan pilihan politik, tapi muara dari demokrasi politik adalah kesejahteraan rakyat karena kita sesungguhnya adalah sesama warga yang mendiami rumah kita bersama.
Keempat, juara bertahan bertahan dan petahana. Perhelatan Piala Dunia 2018 menunjukan realitas tim-tim unggulan berguguran. Mereka berkemas angkat koper dan pulang kampung lebih dulu karena kalah. Jerman, Portugal, Spanyol, Argentina, mereka punya nama besar tapi gugur, takluk tak berdaya pada tim-tim kecil.
Tak ada jaminan juara bertahan atau mantan juara lolos ke putaran selanjutnya. Mungkin juara bertahan memandang sebelah mata pendatang baru. Pendatang baru pada umumnya bermain tanpa beban, mereka bermain lepas namun membahayakan, akhirnya menyingkirkan mantan juara dan juara bertahan.
Dalam sepakbola ada julukan kuda hitam yang patut diperhitungkan dan kuda hitam itu kadang tampil sebagai juara. Dalam pilkada ada petahana yang tampil sebagai pemenang namun ada yang kalah.
Petahana menang mungkin masih dicintai rakyat karena apa yang dibuat selama lima tahun telah membawa perubahan derajat hidup masyarakat ke arah yang lebih baik atau sebaliknya.
Petahana telah menerapkan strategi yang mumpuni dalam pertarungan pilkada dan berbagai taktik lainnya yang telah menghantarnya ke singgasana kekuasaan periode berikutnya.
Dalam pilkada petahana memiliki sumber daya memadai. Dalam sepakbola juara bertahan memiliki nama besar namun terkadang over percaya diri akhirnya gagal.
Juara bertahan yang masih mempertahankan pemain lama terkadang kalah bersaing dalam ketahanan fisik dengan pemain baru yang memiliki stamina dan daya dobrak tinggi.
Petahana sering dikelilingi oleh pendukung setia yang telah mencicipi kue kekuasaan selama ia masih berkuasa, namun terkadang kesetiaan mereka cenderung mendua dalam rangka melanggengkan dirinya dalam penataan birokrasi pasca lahirnya pemimpin baru.