NTT dan Sastra Indonesia Jalur Kedua, Begini Kenyataannya
Derai-derai Cemara bernada sendu (melankolis) sementara Aku berapi-api yang memperlihatkan keberanian.
Penguatan terhadap sastra jalur kedua juga dikemukakan Yusriwal, dosen Sastra Minangkabau Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang bahwa karya sastra (puisi-puisi) Chairil Anwar memiliki latar belakang Minangkabau (Kompas, 29 April 1996).
Menurut beliau, jarang para kritikus atau peneliti sastra mencoba melihat dan membicarakan karya-karya Chairil Anwar dalam hubungannya dengan bahasa dan kebudayaan Minangkabau.
Saya kira inilah unsur intrinsic ethnic value (nilai etnis) dalam sastra Indonesia. Warna Minangkabau dalam karya sastra Chairil Anwar tercermin dalam tiga kecenderungan: (1) struktur sintaksis yang lazim (struktur Bahasa Indonesia) justru dibuat tidak lazim oleh Chairil Anwar seperti " Ini kali tidak ada yang mencari cinta" dalam puisi "Senja di Pelabuhan Kecil".
Dalam struktur Bahasa Indonesia "Kali ini tidak ada yang mencari cinta". Ketidaklaziman struktur ini merupakan karakter bahasa Minangkabau yang susunannya keterangan subyek mendahului subyek "Sudah tercacar semua di muka" (bahasa Minangkabau, Alah tacaca kasadonyo di muko) yang dalam struktur Bahasa Indonesia "Semua sudah tercacar di muka". (2) Gaya hiperbol dalam bahasa Miangkabau tampak dalam puisi-puisi Chairul Anwar seperti "Aku tetap meradang menerjang".
Contoh dalam bahasa Minangkabau, menurut Yusriwal, pada kata "besar" sebagai ungkapan rasa kebesaran terhadap seorang datuak atau pangulu maka diungkap dengan nan gadang basa batuah.
Kata gadang dan basah mempunyai arti yang sama yaitu "besar". (3) Imaji. Yusriwal mengambil dua contoh puisi Chairul Anwar yang menggambarkan ekspresi imaji yang saling kontras.
Derai-derai Cemara bernada sendu (melankolis) sementara Aku berapi-api yang memperlihatkan keberanian. Ini dipengaruhi oleh karakter orang Minangkabau yang selalu dihadapkan pada dualisme dalam interaksi sosial seperti antara adat dan agama Islam. Analisa Yusriwal ini mendukung pandangan Esten tentang sastra Indonesia jalur kedua.
***
KARYA sastra Indonesia di NTT juga tidak luput dari unsur-unsur kedaerahan seperti Minangkabau. Banyak diksi yang mencirikan lokalitas dan tradisi masyarakat setempat seperti tercantum dalam novel dan puisi.
Penulis novel Maria Matildis Banda dalam DOBEN (2016) menggunakan nama sapaan untuk tokoh ibu dengan kata "Inan" dan "Aman" untuk bapak.
Novel yang lahir dari serial cerber dan dimuat di Majalah Femina tahun 1999 dan 2000 ini merupakan kisah kehidupan keluarga di Timor Timur (kini Timor Leste). Menilik kosa kata tersebut, kemiripan sapaan serupa juga terdapat dalam bahasa daerah lain di NTT misalnya ina, ine, ende, untuk ibu dan ama, ema, ame, untuk ayah.
Sastrawan muda Mario F Lawi dalam puisi "Tuan Padoa" (Ekaristi, 2014) menggunakan diksi padoa, nama tarian tradisional masyarakat Sabu, NTT dengan properti kedu'e, anyaman yang dikenakan pada pergelangan kaki sebagai instrumen yang berbunyi gemerisik saat gerakan ber-padoa menghentak-hentak tanah.
Gaya dan intonasi dalam pembicaraan yang khas lokal terlihat dalam cuplikan berikut: "Martin," kata Yordan dengan suara perlahan.
"Sudah kamu omong dengan Nona di belakang?"
"Soal apa?"
"Jodohkan saya dengan dia!"
"Hai, omong langsung kah," Martin tertawa meledak.
(Novel Maria Matildis Banda, Wijaya Kusuma, 2015 hal. 438).
Gaya dan intonasi seperti "Hai, omong langsung kah," sering terdengar dalam komunikasi di kalangan masyarakat NTT yang khas.
Contoh-contoh ini dapat menjadi pintu masuk untuk kajian lebih dalam tentang warna lokal sastra NTT. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/sastra2_20160908_180957.jpg)