NTT dan Sastra Indonesia Jalur Kedua, Begini Kenyataannya

Derai-derai Cemara bernada sendu (melankolis) sementara Aku berapi-api yang memperlihatkan keberanian.

NTT dan Sastra Indonesia Jalur Kedua, Begini Kenyataannya
ilustrasi

Oleh: Willem B Berybe
Mantan guru, peminat sastra

POS-KUPANG.COM - Kata-kata penutup Maman S.Mahayana pada buku "Sastra Indonesia di NTT dalam Kritik dan Esai" (2017) dibuka dengan "Yohanes Sehandi telah membuat peta lengkap tentang kesusastraan di NTT yang tidak terpisahkan dengan kesusastraan kita: kesusastraan Indonesia".

Maman S. Mahayana, dosen FIB (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) Universitas Indonesia, sastrawan dan kritikus sastra, juga dengan tulus dan jernih menulis pengantar untuk buku tersebut berdasarkan latar belakangnya. Buku yang ditulis Yohanes Sehandi ini ibarat sebuah jembatan literasi.

Penulis ingin menghadirkan publik pembaca khususnya masyarakat Flobamorata di meja kesadaran bahwa para sastrawan NTT telah bekerja dalam senyap bernas. Penulis buku yang disebut Marsel Robot "penjaga rumah adat sastra NTT" (postingan facebook, 23 Juni 2018) benar adanya. Keep the Flobamorian literature right on its track.

Menggali, menelusuri, mengkaji, mencari benang merah yang menghubungkan sastra warna lokal dan nasional (Indonesia) berdasarkan kajian ilmiah, bukan sebuah karya utopian. Ikhtiar mengikuti sejauh mana sastra di NTT itu berjalan dan seperti apa kualitasnya sudah menjadi komitmen beliau.

Dari isi buku mulai dari pengantar yang rasa bahasanya cah...cah... enak, isi, serta beberapa foto sosok sastrawan Indonesia dan NTT hingga sapaan akhir pada kulit buku bagian belakang memberi warna kesusastraan Indonesia di NTT.

Tentu sebuah buku yang layak dibaca dan sebagai sumber pembelajaran sastra di sekolah-sekolah tak diragukan lagi.

***

MENURUT Mursal Esten ada dua jenis sastra yang hidup di Indonesia. Sastra Indonesia jalur pertama dan sastra Indonesia jalur kedua. Sastra Indonesia jalur pertama dikenal umum sebagai sastra nasional Indonesia.

Karya sastra Indonesia jenis ini lazim dijadikan sumber dan bahan pembelajaran di sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi. Secara historis, sastra ini dihitung sejak masa Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66 hingga saat ini.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved