Kepemimpinan Kolektif dan Berkarakter

Tiga hal yang menjadi alasan yakni pertama soal sistim kepartaian yang masih sangat terpusat yang tidak mampu

Editor: Putra
Kepemimpinan Kolektif dan Berkarakter
ilustrasi

Ketiga, sense of solidarity. Politik kita bukan hanya beroperasi dalam sekat-sekat primordial, namun justru memberkuat struktur-struktur primordial. Pemimpin yang solider merangkul semua yang berbeda. Merangkul bukan dengan uang; Manakala rakyatnya ditelan aparat, ia tidak diam. Manakala rakyatnya ditelan pasar, ia tidak tidur apalagi menyangkal.

Keempat, sense of crisis. NTT mengalami krisis dalam banyak hal. Salah satunya adalah krisis human trafficking (perdagangan orang). Tetapi pemimpin tertinggi tidak merasa demikian. Penguasa di singasana kekuasaan berjarak terlalu jauh dari realitas krisis yang ada. Dan karenanya, pemimpin yang menyangkal realitas tak layak diingat. Tetapi calon-calon penggantinya diam.

Paradigma dan Kemampuan Bertanya

Untuk melihat luasnya paradigma seorang pemimpin anda bisa mengajukan tiga pertanyaan diagnostik berikut: Pertama, apa yang ia katakan. Seorang pemimpin harus mampu mengartikulasikan pemahamannya akan masalah-masalah di masyarakat. Ia harus jelas dalam mengkomunikasikan visinya tentang apa yang harus terjadi untuk menghentikan kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan.

Kedua, cermatilah apa yang tidak pernah dikatakannya. Anda bisa daftarkan sejumlah hal yang perlu diselesaikan di berbagai tingkatan komunitas. Catatlah apa yang selalu hilang dari pidato-pidato (calon) pemimpin anda. Apakah ia memikirkan bagaimana anak-anak dari kampung dapat mengenyam pendidikan tinggi melampaui
kampungnya sendiri?

Apakah ia membangun jembatan di daerah-daerah di luar kampungnya? Ataukah ia hanya mampu punya visi jembatan melintasi pulau di kampung halamannya?

Ketiga, anda perlu mencermati apa yang tidak berani dikatakannya. Bila berbagai isu yang terang benderang seperti human trafficking, apakah ia konsisten memikirkan soal menyelesaikan akar masalah kemiskinan dan human trafficking? Atau kandidat tertentu terkesan takut bicara? Apakah mereka berteman dengan para traffickers?

Visi Collective Leaderships

Pemerintah provinsi memiliki keterbatasan jelajah kelembagaan dan operasional pembangunan daerah. Keterbatasan gubernur ini dimengerti dengan baik oleh para bupati maupun pemerintah pusat. Karenanya seorang gubernur hanya bisa berhasil bila ada kepemimpinan kolektif di tingkat operasional implementasi program.

Di era desentralisasi ini, memimpin tidak bisa dengan model command and control. Model ini pernah cocok pada dunia militer dan jalanan era dulu. Hari ini anda harus paham soal bagaimana menggunakan kekuasaan secara efektif anda betapa terbatas kekuasaan itu.

Mengapa ada provinsi berkinerja baik? Mengapa beberapa walikota dan gubernur mampu melakukan perubahan tetapi tidak di daerah kita?

NTT sebagai sebuah provinsi kepulauan mensyaratkan pemimpin yang mampu bertindak sebagai team player.

Apakah ketika anda menjabat sebagai gubernur, apakah anda cukup proaktif membuat jadwal untuk bertemu secara personal ke-22 bupati/walikota untuk secara sistimatis membangun konsolidasi pembangunan daerah secara bersama?

Membangun kepercayaan dengan kabupaten adalah hal penting. Menjadikan daerah sebagai rekan kerja tidak kalah penting. Hal-hal kecil seperti rajin mengunjungi kabupaten dan membangun kepercayaan dari bawah akan membuat perbedaan yang besar.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved