Suka, Suku dan Saku, Ternyata Tiga Hal Itu yang Terjadi dalam Pilkada di NTT
Realitas itu merupakan sebuah kondisi sarkastik tentang politik; sebuah kritikan tajam dan pedas tentang dinamika politik berikut
Pertama, sebagai ekspresi politik semata karena dirangsang oleh situasi tertentu.
Kedua, karena sebab tersembunyi dalam relasinya dengan situasi sosial yang dialami oleh seseorang atau kelompok.
Dalam kategori itu, yang pertama berkaitan dengan perilaku nyata yang nampak atau yang kelihatan dan yang kedua berhubungan dengan motif tersembunyi di balik perilaku tertentu.
Di bagian pertama, beragam ucapan, tindakan dan perilaku merupakan ungkapan langsung seseorang karena dipengaruhi oleh diskursus atau wacana tertentu.
Perilaku yang tampak dalam kategori pertama akan menunjukan motif asli. Sebaliknya, di bagian kedua, aspek dramaturgi kental ditunjukan di sana. Dengan kata lain, perilaku tampak hanyalah simbolisasi dari keinginan tersembunyi dari seseorang.
Konteks Kita
Pemahamn elit politik tentang politik bisa dijelaskan dengan dua konsep politik dari dua ahli politik di atas. Setiap yang ingin masuk ke ruang politik dan ingin sukses di arena politik, dengan beragam motif yang meliputinya harus bisa memanfaatkan suku dan menggunakan semua sumber daya.
Di level itu, mudah dipahami mengapa kemudian, etnis dan agama masih saja ditarik masuk ke dalam politik oleh elit politik.
Untuk konteks politik liberal masa kini, etnis dan juga agama seakan menjadi seksi dan cantik. Politik lokal dan nasional menjadikan etnis dan agama sebagai komoditas yang dijual ke masyarakat. Pembangunan jaringan politik dan penggunakan berbagai sumber daya ekonomi demikian disebut relasi patron-klien dalam politik.
Dalam relasi demikian, politik tidak akan dimanfaatkan untuk tujuan kepentingan bersama. Politik kemudian digiring ke lorong sempit kepentingan pribadi dan kelompok. Ini soal besar kita.
Menurut Sabl (2002) elit politik dan elit kekuasaan bahkan tidak hanya mengabaikan hasil politik tetapi sekaligus proses. Setiap kepala elit politik memang memiliki pemahaman yang berbeda tentang proses politik.
Karena perbedaan itulah maka mereka cenderung memiliki pandangan beragam tentang mekanisme politik. Karena itu, oleh sebagian elit, etnis, agama, hewan, kendaraan dan lain-lain bisa dimasukan ke lorong-lorong politik untuk sampai ke tujuan akhir yakni kekuasaan.
Di sana, etika politik jelas menjadi aspek yang harus disingkirkan. Etika politik hanya akan menjadikan elit politik mati karena idealisme politik tanpa ampun. Menurut Sabl, di situlah letak kecerobohan banyak elit politik masa kini.
Kelupaan akan etika sebenarnya bagian dari sisi gelap elit yang harus terus diperiksa oleh semua pihak agar tidak menjadi pemimpin politik di suatu saat nanti.
Implikasinya, masyarakat terjebak dan terbelah ke dalam kelompok-kelompok politik tertentu. Masyarakat terpecah ke dalam klik-klik yang sengaja dibangun elit politik. Maka, keamanan sosial menjadi taruhan utama di sini.
Itulah alasan mengapa kemudian, di setiap kontestasi politik, selalu ada anggaran keamanan. Di sana, teman-teman kepolisian diberi awasan bahwa politik selalu memunculkan gejala fragmentatif. Politik, terutama di Indonesia, selalu mendatangkan malapeta sosial.