Luar Biasa! Ketua Sinode GMIT Terima Penghargaan Silvia Michel Prize di Swiss

Pdt. Mery juga mendedikasikan penghargaan yang diperoleh kepada kelompok dan komunitas rentan yang sedang berjuang untuk hak-hak mereka.

Penulis: Maria Enotoda | Editor: Fredrikus Royanto Bau
ISTIMEWA
Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM Maria A E Toda

POS KUPANG.COM|KUPANG - Kabar gembira datang dari Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon yang menerima penghargaan Silvia Michel Prize di Swiss. Penghargaan tersebut diberikan Minggu (4/3/2018) lalu bertempat di Jemaat Reformeerd Bremgarten di Swiss.

Hal ini diungkapkan Pdt. Mery melalui emailnya. Dalam email tersebut, Pdt. Mery mengatakan, Sylvia Michel Prize dianugerahkan kepada perempuan-perempuan bersahaja baik secara individu maupun berkelompok yang berinisiatif dan berperan aktif dalam memajukan peranan kaum perempuan di sektor kepemimpinan gereja dan masyarakat.

Penghargaan yang diberikan setiap dua tahun ini dikelola oleh Reformed Cantonal Church of Argovia (Gereja Reformasi Kanton Argovia) di Swiss.

Baca: DPRD NTT NIlai Pemprov Lamban Tangani Guru SMA/SMK

“Ini adalah kehormatan bagi saya. Saya merasa begitu diberkati karena diundang untuk menerima Penghargaan ini yang mana penghargaan ini didedikasikan untuk perempuan luar biasa Pdt. Sylvia Michel ketua sinode perempuan pertama di Eropa," ujar Mery.

Ia melanjutkan penghargaan yang ia dapatkan itu tidak hanya memperkuat kerja-kerja secara pribadi, tetapi lebih untuk memperkuat upaya gereja GMIT yang sedang bergumul dengan banyak tantangan terkait persoalan kaum termarjinal, perjuangan untuk mendapatkan kembali hak-hak dan martabat bagi masyarakat dan perlawanan terhadap kejahatan dan ketidakadilan personal dan struktural dalam berbagai aspek kehidupan.

Baca: Bupati Malaka Stef Bria Seran Beri Input Dalam Kapitel Provinsi SVD Timor Ke-18

Ia mengungkapkan, penghargaan yamg diberikan sesungguhnya tidak hanya diberikan kepada dirinya secara pribadi tetapi diberikan kepada semua yang terlibat bersamanya dalam pelayanan dan kerja selama ini.

"Bagaimana pun pekerjaan yang sudah dikerjakan selama ini saya kerjakan bersama sahabat-sahabat, laki-laki dan perempuan. Saya menyebut sahabat-sahabat saya di Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) yang bersama-sama dengan mereka.

Saya mengerjakan penelitian dan publikasi terhadap isu-isu sensitif di sekitar tema perempuan, budaya dan agama. Saya juga menyebut sahabat-sahabat, dosen dan mahasiswa di Fakultas Teologi Universitas Kristen Artha Wacana Kupang tempat di mana saya mengajar.

Baca: DPRD Sumbar Dukung Pemkab Bangun Infrastruktur Jalan Menuju Obyek Wisata

Saya menyebut sahabat-sahabat saya di Sinode GMIT yang telah berusaha dengan mengerahkan kemampuan terbaik mereka untuk menampilkan pelayanan gereja yang “out of the box” dari pemahaman tradisional terkait hakikat dan misi gereja," ujarnya.

Ia juga mengatakan provinsi NTT ditandai dengan kemiskinan, gizi buruk, perdagangan orang, dan kerentanan terhadap konflik yang sangat mudah digerakkan dalam konteks multikultural dan multireligius.

Baca: ASTAGA! Sebanyak 28.529 Warga Sumba Timur Belum Punya E-KTP

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved