Selasa, 21 April 2026

Membongkar Irasionalitas dalam Suksesi

Demi dukungan publik, paket tertentu atau tim sukses, bisa saja menghalalkan segala propaganda sebagai media

Editor: Dion DB Putra

Paradigma baru itu adalah paradigma berpikir kritis. Berpikir kritis yang benar dan tepat akan mengantar kita pada prioritas yang benar.

Sebagaimana Mantan Presiden SBY pernah mengatakan, siapapun dia, jika dia ingin menjadi pemimpin di Indonesia ini, dia harus tunduk dan taat pada empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Dengan demikian, paradigma berpikir kritis berarti mampu menemukan yang paling benar dan paling layak berdasar pada hukum-hukum akal budi dan nilai-nilai yang tertanam dalam keempat pilar bangsa ini.

Berpikir kritis terhadap ketiga fenomena irasional di atas berarti sebagai rakyat dan umat, atas dasar pertimbangan yang matang dan dengan taat pada hukum-hukum yang berlaku di Indonesia ini, kita mampu memilih tokoh berkualitas.

Agama, etnis, dan kekayaan material bukanlah jaminan bagi kualitas. Sebagai yang pertama dari kualitas memilih adalah kita memilih berdasarkan pikiran kritis dan hati nurani. Pilihan kita akan irasional, jika apa yang seharusnya dengan bebas kita tentukan justru dikendalikan oleh propaganda etnis, agama dan kekayaan material.

Hemat saya, pikiran yang sungguh kritis dan hati nurani yang murni dan sungguh berfungsi, tidak mungkin mengantar kita pada pilihan yang salah.

Dengan demikian, praktik ini menempatkan kita sebagai warga yang berperan secara integral dan seluruhnya karena media yang kita gunakan untuk memilih adalah kebajikan dalam diri setiap insan. Kebajikan ini pada mulanya baik adanya.*

Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved